Yayasan Jabal Khair Kurban Dua Ekor Sapi Kepada Muallaf di Pegunungan

oleh -
Para pengurus Yayasan Jabal Khair bersama warga saat membawa dua ekor sapi menuju ke perkampungan muallaf di dusun Babong, Kecamatan Tinombo. FOTO : IST

PALU, SULTENGNEWS.COM – Yayasan Jabal Khair melakukan kurban dua ekor sapi kepada muallaf di pegunungan, tepatnya di dusun Babong, Desa Lombok Barat, Kecamatan Tinombo, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.

Ketua Yayasan Jabal Khair, Muhammad Rajab, S.Ag mengatakan, dua ekor sapi yang dikurbankan digiring menuju perkampungan muallaf yang berada di pegunungan.

“Jadi sapi itu dibawa naik ke atas gunung menuju ke perkampungan muallaf di dusun Babong, Kecamatan Tinombo. Perjalanan ditempuh memakan waktu kurang lebih selama 8 jam lamanya,”kata Muhammad Rajab, S.Ag, kepada sultengnews.com, Jumat (31/07/2020).

Dia menuturkan, jarak dari pedesaan menuju pegunungan ke dusun Babong sekira 20 Km. Jalanan yang terjal memerlukan ke hati-hatian untuk melakukan perjalanan menuju perkampungan muallaf itu.

Dia mengungkapkan, pelaksanaan pemotongan kurban dilakukan di Masjid Ar-Rahman yang terdapat di dusun Babong. Sapi yang dikurbankan tersebut merupakan bantuan dari Yayasan Peduli Umat dari Tumenggung, Jawa Tengah.

“Sapi yang dikurban tersebut merupakan bantuan dari luar yakni dari Yayasan Peduli Umat, Tumenggung Jawa Tengah,”ungkapnya.

Dia menerangkan, daging kurban akan dibagikan kepada 36 kepala keluarga (KK) khususnya di dusun Babong. Selanjutnya akan dibagikan juga di beberapa perkampungan muallaf terdekat seperti di dusun Ogoansam, Tampulegas dan Ogopuyol.

Pelaksanaan kurban di pegunungan kata dia, merupakan bagian daripada dakwah dan syiar kepada muallaf yang berada di pegunungan.

Sebab, menurutnya, muallaf yang berada di pegunungan membutuhkan nutrisi daging sapi, karena selama ini daging sapi jarang sekali mereka konsumsi karena berada di pegunungan. Bahkan sebagian belum pernah merasakan daging sapi.

Dia menambahkan, mereka yang belum pernah merasakan daging sapi, karena masyarakat lokal yang ada di dataran tidak terlalu peduli dengan mereka yang ada di daerah terpencil atau pegunungan dan itu nyata bukan hanya sekedar cerita.

“Mereka lebih cenderung berbagi terhadap masyarakat yang sudah sering mengkonsumsi daging,”tuturnya.

“Saya berharap kepada saudara sesama muslim untuk bisa lebih meningkatkan kepedulian terhadap mereka yang berada di pegunungan khususnya para Muallaf karena mereka juga butuh perhatian dari kita,”tandasnya. DAL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *