WALHI Sulteng Siap Sambut Festival Danau Rano di Balaesang Tanjung

oleh -

Semarak Penyelenggaraan Festival Danau Rano, yang diprakarsai WALHI Sulteng. FOTO : IST

PALU, SULTENGNEWS.COM – Sepekan lagi Festival Danau Rano akan diselenggarakan Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Sulawesi Tengah (Sulteng) di Desa Rano, Kecamatan Balaesang Tanjung, Kabupaten Donggala, pada Sabtu sampai Minggu, 9 Februari sampai 1 Maret 2020.

Manager Advokasi dan Kampanye WALHI Sulteng, Julie mengatakan Festival Danau Rano yang bertaju Hutan Hijau, Danau Lestari, Rakyat Sejahtera, berharap dapat mendorong komitmen pemerintah daerah Kabupaten Donggala untuk pembangunan desa – desa di Kecamatan Balaesang Tanjung pasca bencana berbasis kearifan lokal yang berkelanjutan saat berbincang dengan sejumlah wartawan di Kantor WALHI Sulteng, Kamis (20/02/2020).




“Festival ini menjadi salah satu momentum bagi masyarakat Kecamatan Balaesang Tanjung untuk merawat ingatan perjuangan masyarakat dalam mempertahankan wilayah kelolanya,” ujarnya.

“Dimana salah satu ritual budaya Mompalit Rano sebagai sebuah proses ritual adat yang secara filosofis menjadi simbol lokal masyarakat dalam menjaga dan memanfaatkan sumber daya alam yang ada di Desa Rano,” lanjutnya.

Festival Danau Rano kata Julie, bertujuan untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman antara komunitas dan peserta Festival terkait pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan, memperkuat nilai sosial dan adat budaya masyarakat Desa Rano dalam tata kelola sumber daya alam dan ekowisata, mendorong lahirnya kebijakan perlindungan wilayah kelola rakyat Desa Rano dan menjadikan Desa Rano sebagai Desa ekologis berbasis kearifan lokal dan berkeadilan gender.




Julie juga menambahkan, pada tahun 2012 masyarakat Desa Rano membangun solidaritas menolak masuknya PT Cahaya Manunggal Abadi (CMA) yang ingin melakukan eksploitasi pertambangan emas.

“Masyarakat Desa Rano bilang, mereka bisa hidup tanpa emas karena melimpahnya sumber daya alam yang mereka miliki,” tambahnya.

Sementara itu, secara tegas, Departement Pengembangan Progam dan Organisasi, Wiwin Matindas menyoroti perpindahan Ibu Kota Negara Baru yang dapat mengancam Desa Rano, Sebab Investasi di Sulteng menjadi sporting pembangunan Ibu Kota tidak dapat dihindari.




“Tak dapat di bayangkan bilamana basis -basis produksi pangan di Desa Rano akan beralih fungsi menjadi wilayah operasi industri ekstraktif pertambangan, maka dapat dipastikan masyarakat Desa Rano akan mengalami krisis pangan yang berkepanjangan dan akan sangat sulit pulih dari keterpurukan pasca bencana,” tegasnya.

“Penting bagi masyarakat Desa Rano untuk menjaga dan melestarikan alam sebagai basis produksi wilayah kelola rakyat dalam rangka menjamin ketersediaan pangan dan keberlanjutan sumber penghidupan di masa yang akan mendatang,”tutup Wiwin. DAL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *