Wakil Ketua DPRD Kota Palu Usulkan Dinkes Harus Ada Tim Khusus

oleh -
Wakil Ketua II DPRD Kota Palu, Rizal Dg Sewang. FOTO : MIFTAHUL AFDAL

PALU, SULTENGNEWS.COM – Wakil Ketua II DPRD Kota Palu, Rizal Dg Sewang memberikan usulan kepada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palu untuk membentuk tim khusus yang dapat melakukan pendeteksian dini dalam masa pemberlakuan Lock Mikro Efektif yang diterapkan di Kelurahan Tondo tepatnya di Perumahan Dosen (Perdos), Universitas Tadulako (Untad) Palu, Sulawesi Tengah.

“Ini yang saya usulkan kepada Dinas Kesehatan harus ada tim khusus yang dibentuk untuk mengakomodir atau menampung semua pendeteksian (dini) dan penyelesaian terhadap masalah-masalah berkaitan COVID-19,”ujar Rizal saat ditemui di ruang rapat utama DPRD Kota Palu, Senin (16/08/2021).

Misalnya, kata dia, kalau ada 40 orang yang melakukan Isolasi Mandiri (Isoman) dan keluarga dari 40 orang itu dinyatakan negatif setelah diperiksa oleh tim khusus, pihak keluarga pun harus melakukan Isoman.

Dan dalam masa Isoman, bagi Rizal, pihak keluarga juga perlu dikontrol, untuk dilakukan pemeriksaan apakah terdapat  gejala dalam waktu dua atau tiga hari dalam masa Isoman. Ketika ada gejala dari pihak keluarga, maka langsung di respon dengan melakukan rapid lagi, ucap Rizal. Saat hasil rapid itu keluar yang kedua kalinya dan tidak ada gejala sama sekali dalam waktu 10 hari keluarga dari pasien COVID-19 yang melakukan Isoman bisa beraktivitas seperti biasanya.

Ini harus dilakukan ketika terjadi Lock Mikro Efektif. Menurut Rizal, harusnya ada pihak khusus yang dibentuk oleh Dinkes Kota Palu untuk melakukan pengawasan secara ketat yang berada di komplek tersebut.

“Jadi ini agak mudah sebenarnya jika klasternya dalam satu kawasan yang susu itu dalam satu kelurahan itu terpisah-pisah dan itu butuh SDM yang banyak untuk melakukan penanganan,”ucapnya.

“Mungkin dari Dinas Kesehatan, Puskesmas, Satpol PP bekerja, dengan begitu dapat mengontrol dan meminimalisir perkembangan COVID-19,”lanjut Rizal.

Rizal beranggapan, dengan pos Belanja Tidak Terduga (BTT) senilai Rp 15 mikiar, di rasanya cukup untuk penanganan pasien yang melakukan Isoman.

“Saya pikir anggaran kita cukup besar BTT kita di sekitar Rp 15 miliar itu tidak ada kendala dalam penyediaan obat termasuk suplay logistik artinya tidak ada kendala dengan dana dalam pembiayaan itu,”terangnya.

“Maka seharusnya yang paling penting adalah dinas terkait, baik itu Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, kemudian Satpol PP dan yang lain terlibat disini harusnya memaksimalkan. Karena langkah-langkah saya kira sudah ditetapkan Walikota Palu,”tandasnya. DAL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.