Ular Jalimoo Dalam Cerita Suku Kaili; Antara Mitos dan Kenyataan, Namun Punya Pesan Moral Luar Biasa

oleh -
FOTO : ILUSTRASI

Suku Kaili, adalah salah satu suku asli yang mendiami Sulawesi Tengah khususnya di Kota Palu, Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi, Kabupaten Parigi Moutong dan sebagian di Kabupaten Poso dan Kabupaten Tolitoli.

Oleh : Mahful Haruna  

Sebagai salah satu suku penduduk Asli Sulteng, suku Kaili memiliki banyak sekali cerita rakyat yang disebut – sebut hanyalah mitos, namun memiliki pengaruh yang sangat besar bagi perkembangan kehidupan warga suku Kaili, karena memiliki pesan moral yang luar bisa. Salah satunya adalah cerita tentang ular Jalimoo.

Saya teringat kembali cerita tentang ular Jalimoo, setelah mengikuti peluncuran buku hasil terjemahan Balai Bahasa Sulawesi Tengah (Sulteng) di Swiss Belhotel Palu, Senin (13/12/2021).

Salah satu buku yang ditermehakan itu, mengangkat cerita tentang ular Jalimoo yang ditulis oleh Smiet dengan judul Santempa Ana Nabia yang berarti Santempa Anak Pemberani.

Dikisahkan, di zaman dahulu hiduplah seorang anak bersama ibunya di hutan belantara di Sulteng. Anak itu, bernama Santempa. Dia adalah anak yang baik, pemberani dan taat kepada ibunya.

Suatu hari, Santempa bermain di pinggir sungai dan tanpa disengaja dia menemukan seekor anak ular dipinggir sungai itu. Tanpa rasa takut sedikitpun, Santempa mengambil anak ular itu dan memasukkan ke dalam bakul yang biasa dia bawa saat ke Sungai lalu membawanya pulang ke rumah.

Anak ular yang dia bawa itu, rupunya anak ular Jalimoo yang terpisah dengan induknya. Saat Santempa pergi lagi ke sungai, dia lupa membawa bakul yang berisi anak ular itu. Tiba – tiba ibu Santempa mendengar ada suara seperti ayam berkokok di belakang rumah tepat di bakul Santempa.

Ibu Santempa lalu mendekati bakul itu dan begitu terkejutnya dia setelah melihat isi bakul itu adalah anak ular. Santempa yang beberapa saat kemudian tiba di rumah itu, terkejut melihat ibunya yang ketakutan.

“Santempa, bawa pulang ke hutan anak ular ini. Ini ular berbahaya dan berbisa,” perintah ibu Santempa.

“Baik bu, akan saya bawa kembali ke pinggir sungai dan melepasnya disana,” sahut Santempa.

Dengan tergesah – gesah, Santempa lalu mengambil bakul yang berisi anak ular Jalimoo itu dan membawanya ke pinggir Sungai untuk melepaskannya. Namun saat Santempa tiba di pinggir sungai, tiba – tiba dia mendengar suara yang memanggil namanya.

“Santempa, saya titip anak ku dengan kamu ya..! Tolong kamu jaga dan pelihara dia dengan baik. Saya tidak akan mengganggumu, karena kamu baik dengan hewan. Saya juga tidak akan mengganggu manusia lainnya jika mereka tidak mengganggu hewan dan membabat hutan sembarangan,” kata suara itu yang ternyata adalah induk ular Jalimoo yang muncul menghampiri Santempa.

Setelah bertemu induk ular Jalimoo itu, Santempa kembali ke gubuknya dan membawa kebali anak ular Jalimoo di dalam bakulnya. Ibu Santempa yang sejak tadi menunggu anaknya kembali dengan rasa was –was, kembali terkejut melihat Santempa yang membawa kembali anak ular Jalimoo itu.

“Kenapa kamu bawa kembali anak ular ini..?,” Tanya ibu Santempa.

“Saya sudah bertemu induknya bu, katanya anak ular ini kita pelihara agar bias menjaga hutan,” jawab Santempa.

“Maksunya bagaimana,” serga Ibu Santempa.

“Iya bu, induk ular ini meminta kita untuk memelihara anaknya ini, supaya jika ada orang jahat yang membabat hutan sembarangan, kita bisa memanggil induk ular ini dengan cara membawa anak ular ini di hutan tempat orang membabat hutan itu. Nanti induk ular ini akan muncul dan menggigit para pembabat hutan itu,” terang Santempa kepada ibunya.

Mendengar penjelasan Santempa, ibunya menganggukan kepala sebagai tanda paham dengan penjelasan Santempa.

Setelah beberapa minggu kemudian, Santempa mendengar ada suara mesin gergaji yang membabat hutan tak jauh dari tempat tinggal Santempa bersama ibunya itu.

Santempa lalu teringat akan pesan induk ular Jalimoo yang menyampaikan bahwa jika mendengar ada orang jahat yang membabat hutan, dia cukup membawa anak ular Jalimoo itu ke hutan tempat para pelaku pembabat hutan itu berada.

Santampa lalu melakukan sesuai permintaan induk ular Jalimoo yang dipeliharanya itu. Dia lalu membawa anak ular Jalimoo ke hutan tempat para pelaku pembabat hutan itu. Tak lama kemudian, induk ular Jalimoo yang ber kepala besar dan bisa terbang serta berkokok seperti ayam tiba di hutan itu dan mengerjar para pelaku pembabat hutan itu.

Para pembabat hutan itu, lari tunggang langgang meninggalkan hutan itu. Bahkan ada diantara para pelaku pembabat hutan itu yang digigit hingga meninggal dunia. Sejak kajian itu, tak adalagi para pelaku pembabat hutan yang datang untuk membabat hutan dan Santempa kembali hidup tenang bersama ibunya, serta hewan lainnya di hutan itu.

Cerita ular Jalimoo yang ditulis dalam buku karangan Smiet ini, mengingatkan saya akan pesan ayah saya ketika waktu kecil dulu dibawa kehutan untuk mencari rotan.

Kala itu, saya masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) kira – kira kelas V SD.

Saya diajak ayah saya mencari rotan di hutan di pegunungan Tawaeli, sejajar dengan daerah kebun kopi Desa Nupabomba, Kabupaten Donggala. Ketika pertama kali masuk hutan, saya membabat sembarang kayu – kayu dijalan yang saya lalui. Tiba – tiba ayah saya yang berjalan di belakang saya langsung menegur saya.

“Jangan sembarang membabat kayu, nanti ada ular Jalimoo. Ular Jalimoo itu berbisa dan kalau kita terkena gigitannya, kita bisa mati ditempat,” kata ayah saya kala itu.

Mendengar perkataan ayah saya itu, saya pun tak berani lagi membabat kayu – kayu sembarangan.

Setelah kurang lebih 20 tahun lamanya, saya baru mendengar lagi cerita tentang ular Jalimoo itu ketika mengikuti peluncuran buku hasil terjemahan Balai Bahasa Sulteng pada Senin 13 Desember 2021 karena salah satu buku yang diterbitkan itu mengangkat cerita tentang ular Jalimoo.

Cerita tentang adanya ular Jalimoo yang tinggal di hutan khususnya di daerah suku Kalili, mungkin belum banyak diketahui oleh genersi suku Kaili saat ini.

Cerita tentang ular Jalimoo, jika diceritakan lagi kepada anak – anaka suku Kaili saat ini, mungkin banyak yang tidak percaya dan menganggapnya hanya mitos. Sebab secara rasional, seperti tidak mungkin ada ular berkepala besar, bisa terbang dan berkokok seperti ayam.

Namun terlepas dari apakah cerita tentang ular Jalimoo mitos atau benar adanya, yang pasti ada pesan moral yang sangat luar biasa dari cerita ular Jalimoo itu yakni bahwa kita tidak boleh membabat hutan sembarangan,karena itu bisa merusak ekositem dan lingkungan sekitar.

Menurut Smiet, penulis buku tentang cerita ular Jalimoo ini, dibeberapa wilayah di Kabuten Sigi, sebagian besar warganya masih percaya bahwa ular Jalimoo memang adanya.

Bahkan sebagian wilayah Kabupaten Donggala, juga masih ada warganya yang mempercayai keberadaan ular Jalimoo ini. Meski pun, Smiet sendiri sebagai penulis buku ular Jalimoo itu belum pernah melihanya secara langsung.

Namun cerita tentang adanya ular Jalimoo ini, cukup ampuh menyelamatkan sebagian hutan di Sigi dan Donggala dari oknum – oknum pembabat hutan, walalupun dibeberapa daerah lainnya, hutannya habis dibabat orang dan kayunya dijadikan bantalan.

Cerita ular Jalimoo yang ditulis Smiet, awalnya berbahasa Kaili Ledo. Kemudian diterjemahkan oleh Balai Bahasa Provinsi Sulteng ke dalam Bahasa Indonesia lalu dicetak dan diperbanyak untuk bahan bacaan anak – anak di sekolah dan masyarakat secara umum. Wassalm.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.