Ulama Kharismatik Itu Telah Tiada, Para Pembenci Kini Mulai Bermunculan..!

oleh -
Habib Saggaf Bin Muhammad Aljufri. FOTO : IST

Umat Islam Indonesia khusunya di Kota Palu dan Sulawesi Tengah (Sulteng), baru saja berduka atas kehilangan ulama kharismatik dan menyejukkan Habib Saggaf Bin Muhammad Aljufri yang wafat pada Selasa (3/8/2021) sore sekira pukul 16.50 Wita.

Oleh : Mahful Haruna/Wartawan Utama SultengNews.com

Sore kemarin, Selasa (3/8/2021) langit di Kota Palu seakan ikut berduka atas kepergian zuriah Nabi, Ketua Utama Alkahiraat Habib Saggaf Bin Muhammad Aljufri setelah sempat dirawat di Rumah Sakit Alkhairaat Jalan Sis Aljufri Palu, karena sakit.

Kepergian ulama besar asal Kota Palu ini, tidak hanya meninggalkan duka yang mendalam bagi warga Alkahiraat atau Abnaul Khairaat, tapi juga duka bagi umat Islam di Indonesia bahkan dunia. Sosoknya yang sederhana, tutur katanya yang lembut, sikapnya yang santun dan kepribadiannya yang agung, tentu tidak akan bisa dilupakan oleh siapa saja yang pernah bertemu langsung zuriah Nabi ini.

Kepribadiannya yang agung, seakan mengingatkan kita kepada kakeknya pendiri Alkahiraat Habib Idrus Bin Salim Aljufri atau guru tua yang juga memiliki kepribadian yang agung.

Bagi siapa saja yang pernah bertemu langsung dengan Habib Saggaf, apalagi sampai bersalaman dan mencium tangan beliau, pasti merasakan ketenangan jiwa. Keegohan dan kesombongan kita, sirna seketika saat berhadapan langsung dengan cucu zuriah Nabi ini. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa Habib Saggaf benar – benar memiliki karomah sebagaimana kakeknya Habin Idrus Bin Salim Aljufri.

Siapa saja yang berkesempatan bertemu langsung dan berbincang dengan Habib Saggaf, pasti memiliki kesan tersendiri sekembalinya dari bertemu Habib.

Saya sendiri, hanya sekali bertemu langsung dengan Habib Saggaf. Saya sudah lupa waktu persisnya, namun seingat saya kira – kira tahun 2008 saat Palestina dibombardir oleh Zionis Israel. Kala itu, saya masih menjadi Ketua HMI Cabang Palu. Maksud kedatangan saya bersama beberapa pengurus HMI Cabang Palu saat itu, untuk meminta nasehat dan wejangan sekaligus restu dari beliau terkait rencana aksi mengutuk keras serangan Israel terhadap Palestina.

Pertemuan saya bersama pengurus HMI dengan Habib saat itu tidak lama, karena kondisi beliau saat itu kurang sehat. Beliau hanya keluar sebentar menyalami kami, lalu menyuru kami untuk berkomunikasi saja dengan Rektor Universitas Alkairaat (Unisa) untuk kepentingan aksi membela Palestia.

Atas arahan beliau, kami pun pamit dan langsung berkunjung ke Unisa untuk bertemu dengan Rektor Unisa. Namun saat itu, Rektor Unisa sedang tidak ada di tempat. Kami lalu bertemu langsung dengan Presiden Mahasiswa Unisa untuk berkomunikasi terkait rencana aksi sekaligus menyampaikan pesan Habib Saggaf yang telah kami temui.

Rencana aksi untuk menguntuk tindakan brutal Israel terhadap warga Palestina, mendapat respon baik dari Presiden Mahasiswa Unisa. Dalam pertemuan itu, disepakatilah bahwa HMI akan bergabung dengan mahasiswa Unisa melakukan aksi membela Palestina. Dalam pertemuan itu juga disepakati bahwa aksi akan mengambil star dari PB Alkairaat dengan sasaran aksi Gerai KFC di Jalan Sultan Hasanudin dan Kantor Gubernur Sulteng.

Singkat cerita, aksi itu pun terlaksana dengan gabungan dari beberapa elemen organisasi yang sempat saya ingat adalah HMI Cabang Palu, Unisa, PII, PMII, serta massa dari PB Alhairaat. Masih ada juga organisasi lain yang bergabung, namun saya sudah lupa.

Itulah sekelumit kisah saya, bertemu langsung dengan Habib Saggaf Bin Muhammad Aljufri. Saya yang hanya sekali bertemu habib, namun wajah dan nasehat beliau begitu berkesan dan sulitnya dilupakan.

Lalu bagaimana dengan Abnaul Kahiraat yang setiap saat, bahkan mungkin setiap waktu bertemu langsung dengan habib, mendapat nasehat dan wejangan dan mencium tangan beliau, pasti sangat merasa kehilangan dan sangat sulit melupakan wajah teduh Habib.

Dalam suasana duka yang mendalam, tiba – tiba muncul para pembenci yang mungkin saja sudah lama memendam rasa bencinya kepada Habib. Dengan kata – kata kasar dan tak sopan, para pembenci itu melontarkan kalimat yang tak pantas atas wafatnya cucu Nabi di lembah Palu ini. Wajar saja, jika Abnaul Khairaat yang merupakan kumpulan para pencinta Habib Saggaf, merasa marah dan saling berkomunikasi untuk mencari keberadaan para pembenci itu.

Inilah Postingan Wandi Ladupu yang membuat marah Abnaul Kahiraat.

Dimulai dari Wandi Ladupu yang belakangan diketahui tinggal di Bunta, Kabupaten Banggai, Sulteng. Tanpa merasa takut, dia berkomentar tak sopan disalah satu akun yang menyiarkan langsung kabar duka meninggalnya Habib Saggaf.  Hanya dalam waktu beberapa jam setelah komentar tak pantasnya itu, Wandi Ladupu langsung dibekuk aparat Polsek Nuhon, Kabupaten Banggai. Beruntung Polsek langsung bertindak, sebab malam itu juga para pencinta Habib Saggaf sedang mencari yang bersangkutan.

Ironisnya, saat didatangi Abnaul Kahiraat di Polsek Nuhon, Wandi Ladupu sama sekali tidak merasa bersalah dan menyesal atas komentar buruknya terhadap wafatnya Habib Saggaf. Hal ini sontak menyulut kemarahan para Abnaul yang masih dalam suasana duka atas wafatnya habib.

Tak lama dari kasus Wandi Ladupu, muncul lagi pembenci lainnya yang diidentivikasi tinggal di Kasimbar, Kabupaten Parigi Moutong. Namanya adalah Ary Kurniawan sesuai dengan akun media sosial (Medsos) Facebook miliknya.

Inilah postingan Ary Kurniawan yang informasinya tinggal di Kasimbar, Kabupaten Parigi Moutong.

Para Abnaul yang tinggal di Parigi Moutong, langsung mencari keberadaan yang bersangkutan dan didapatkan informasi bahwa saat ini, pembenci itu sedang berada di Kabupaten Morowali Utara (Morut). Para Abnaul Kahiraat hingga kini, masih mencari keberadaan Ary Kurniawan.

Belum selesai masalah Ary Kurniawan, muncul lagi pembenci lainnya dengan akun medsos berbahasa arab. Belakangan diketahui pembenci itu tinggal di Kelurahan Buluri, Kota Palu. Abnaul Kahiraat lalu mendatangi yang bersangkutan dan membawanya ke Polsek Palu Barat untuk menjalani proses hukum lanjutan.

Sama dengan Wandi Ladupu, Warga yang informasinya tinggal di Buluri ini, juga sama sekali tidak merasa bersalah dan menyesali perkataannya.

Inilah postingan pembenci yang informasinya tinggal di Kelurahan Buluri, Kota Palu.

Saat ini, Wandi Ladupu sudah menjalani pemeriksaan di Polres Banggai. Sementara pembenci yang informasinya tinggal di Buluri, kini sudah dibawa ke Polres Palu untuk menjalani pemeriksaan lanjutan. Sedangkan Ary Kurniawan, hingga kini masih dicari untuk dimintai pertanggungjawaban atas komentar buruknya terhadap wafatnya Habib Sanggaf.

Bagaikan piramida, para pembenci yang muncul saat ini, hanyalah puncaknya yang kelihatan. Tapi sesungguhnya, kelompok ini sedang berkembang di Indonesia dan di Sulteng secara khusus. Dari cara bicara dan gayanya, sepertinya bibit – bibit intoleransi telah tumbuh subur di dalam dada mereka.

Ukurannya sederhana, dengan Habib saja mereka berani berkata kasar dan tak sopan, apalagi dengan ulama lain atau bahkan warga biasa yang tidak sepaham dengan mereka.

Bagi mereka, kebenaran itu hanya miliki mereka, milik kelompok mereka, sehingga yang lain semua salah, sesat, bid’ah dan haram masuk surga. Entah dimana mereka belajar tentang Islam, entah siapa guru mereka. Namun yang pasti, keberadaan mereka akan menjadi ancaman bagi kedamaian dan toleransi beragama yang sedang digaungkan oleh pemerintah Indonesia mulai dari pusat hingga daerah.

Aparat keamanan, kini memiliki Pekarjaan Rumah (PR) baru untuk menemukan kelompok dan jaringan mereka agar tidak berkembang pesat dan terus berkembang besar. Sebab jika itu yang terjadi, maka pertikaian antar umat beragama bisa saja terjadi akibat dari ulah dan ucapan mereka yang merasa paling benar dan menyalahkan serta menyesatkan kelompok lain.

Semoga aparat keamaan, dapat membongkar dan menemukan jaringan kelompok mereka sebelum berkembang besar, setelah para pembenci atas wafatnya Habib Saggaf Bin Muhammad Aljufri tertangkap. Waulahu A’lam Bissawab. ***

  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.