Tri Putra Toana Milik Semua Insan Pers di Sulteng

oleh -
TRI PUTRA TOANA

Tulisan ini saya buat, sebagai bentuk ekspresi kecintaan saya kepada Tri Putra Toana yang merupakan pemilik Harian Umum MERCUSUAR dan beberapa anak groupnya yakni SULTENG RAYA, POSO RAYA dan BANGGAI RAYA.

Oleh : Mahful Haruna

Bagi saya, Tri Putra Toana bukan hanya bos karena saya dulu pernah menjadi karyawan MERCUSUAR, tapi lebih dari itu, beliau adalah guru, orang tua, sekaligus teman dalam berdiskuis berbagai hal mulai dari urusan jurnalistik, karir, bisnis hingga masalah keagamaan.

Saya mengenal pak Tri sejak tahun 2006 saat pertama kali menjadi wartawan Tonakodi, sebuah Koran hasil karya Tri Puta Toana yang terbit siang kala itu. Mungkin itulah satu – satunya koran harian yang terbit siang di Sulteng. Wartawan – wartawan Tonakodi ditempa dengan disiplin yang tinggi, karena terbitnya siang hari.

Beberapa awak media Tonakodi yang masih saya ingat adalah pak Andono Wibisono yang dipercaya sebagai Pemimpin Redaksi waktu itu. Kemudian ada Sutopo Enteding yang saat ini menjadi Pemimpin Redaksi Banggai Raya, Fathia yang kini jadi Biro MERCUSUAR di Parigi, almarhum Dedi Kurniadi, Icham, Yusrin L Banna sebagai General Manager dan saya sendiri. Hanya itu yang saya ingat..!

Seiring berjalannya waktu, semua awak media Tonakodi ditarik menjadi awak media MERCUSUAR pada tahun 2007. Bersamaan dengan itu pula, harian siang Tonakodi berhenti terbit.

Sejak menjadi awak MERCUSUAR, nyaris setiap hari saya bertemu dengan pak Tri sapaan akrab beliau. Bahkan saya sempat tinggal di rumah beliau di Jalan Rusa satu tahun lebih. Beberapa posisi yang dipercayakan kepada saya di MERCUSUAR Group seperti menejer iklan, menejer pemasaran, serta pemimpin redaksi Harian Rakyat Post di Tolitoli yang merupakan anak group MERCUSUAR, membuat saya harus senantiasa kerkomunikasi dengan pak Tri baik secara langsung maupun melalui telepon.

Selama menjadi karyawan MERCUSUAR, banyak sekali ilmu yang saya dapatkan baik tentang jurnalistik maupun tentang manajemen pengelolaan media yang tentu saja itu dari pak Tri. Bahkan kepercayaan diri saya bisa membuat media sendiri yakni SULTENGNEWS.COM, juga karena ilmu dari pak Tri Putra Toana.

Olehnya, tidak berlebihan jika saya menyebut pak Tri Putra Toana adalah tokoh pers di Sulteng yang menjadi milik semua insan pers di Sulteng. Tak banyak yang mendapatkan kesempatan, bisa menimbah ilmu langsung dari Pak Tri, sehingga saya merasa termasuk salah satu orang yang beruntung karena bisa menimba ilmu langsung dari pak Tri.

Saya menyebut pak Tri Putra Toana sebagai tokoh pers Sulteng, mungkin ada yang setuju dan ada juga mungkin yang tidak setuju. Tapi terlepas dari semua itu, karya pak Tri berupa MERCUSUAR Group yang hingga kini masih eksis bertahan ditengah gempuran media – media Siber, membuktikan bahwa pak Tri memiliki segudang ilmu tentang pers yang membuatnya layak disebut tokoh pers Sulteng, bahkan tokoh Pers Nasonal.

Apalagi, pak Tri merupakan jajaran pengurus pusat dari Serikat Perusahaan Pers (SPS) yang saat ini ketuam umumnya masih dipegang mantan CEO Jawa Pos Dahlan Iskan. Pak Tri bahkan pernah memimpin delegasi wartawan dari Indonesia mengikuti pertemuan SPS di Kuala Lumpur, Malaysia tahun 2017 lalu sekaligus membuka pertemuan itu secara resmi.

Nama Tri Putra Toana, sudah sangat dikenal dan sangat familiar bagi para pemilik media di Nasional. Hal itu tidaklah berlebihan, karena harian MERCUSUAR merupakan koran tertua di Indonesia yang terbit pertama kali tanggal 1 September 1962 atau tiga tahun lebih awal dari Harian KOMPAS yang terbit pertama kali tanggal 28 Juni 1965.

Di bawah kendali pak Tri, harian MERCUSUAR menjelma menjadi koran lokal yang tangguh dan nyaris tak tersaingin. Bahkan mampu melahirkan anak group yang juga eksis sebagaimana induknya yakni Harian SULTENG RAYA, POSO RAYA dan BANGGAI RAYA.

Atas semua karya dan segala dedikasinya terhadap kemajuan dunia pers di Sulteng dan Indonesia secara umumnya, maka pantaslah pak Tri dudukkan sebagai mana mestinya yakni tokoh pers yang menjadi milik semua insan pers di Sulteng dan Indonesia secara umum.

Namun mendengar informasi bahwa pak Tri akan didorong menjadi ketua PWI Sulteng, membuat saya terkejut dan seakan tidak percaya akan informasi itu. Saya memang belum sempat bertemu langsung dengan beliau untuk menanyakan kebenaran informasi itu. Namun santernya nama pak Tri didorong maju sebagai ketua PWI Sulteng, membuat jiwa saya seperti meronta – ronta. Dalam hati saya bergumam, sudah bukan level pak Tri lagi sekedar menjadi ketua PWI Sulteng.

Pak Tri itu bukan hanya milik anggota PWI saja, tapi beliau juga adalah milik kawan kita di Aliansi Jurnalis Independen (AJI), kawan kita di Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), serta insan pers pada umumnya.

Jika pak Tri didorog menjadi ketua PWI Sulteng, maka itu sama saja membatasi ruang gerak pak Tri sebagai tokoh pers di Sulteng yang selama ini menjadi tempat bertanya dan berkonsultasi semua pihak.

Dengan menulis hal ini, mungkin ada yang akan marah kepada saya utamanya teman – teman yang mendorong pak Tri menjadi ketua PWI Sulteng. Atau bahkan pak Tri sendiri akan marah kepada saya karena menulis hal ini, seakan menghalangi beliau menjadi ketua PWI Sulteng.

Tulisan ini, sama sekali tidak bermaksud menghalangi niat teman – teman mendorong pak Tri sebagai ketua PWI Sulteng periode 2022 – 2027. Jika teman – teman menganggap bahwa pak Tri memang pantas di posisi itu, ya silahkan.

Tulisan ini saya buat, murnih lahir dari hati saya atas bentuk penghargaan dan penghormatan saya atas sosok pak Tri, karena sudah banyak mewariskan ilmu tentang pers dan menejemen pengelolaan media kepada anak – anak di Sulteng.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya akan menegaskan kembali pandangan saya tentang pak Tri Putra Toana. Beliua adalah tokoh pers di Sulteng dan merupakan milik semua insan pers di Sulteng dan di Indonesia secara umum.

Inilah sedikit ulasan saya tentang sosok Tri Putra Toana. Jika ada yang berkenan atas tulisan ini, saya ucapkan terima kasih. Namun jika ada yang tidak berkenan dan mungkin tidak setuju atas tulisan saya ini, saya ucapkan permohonan maaf yang sebesar – besarnya. Wassalam.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.