Tradisi, Jadi Penyumbang Terbesar Pernikahan Dini di Sulteng

oleh -
FOTO ILUSTRASI

PALU, SULTENGNEWS.COM – Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) memastikan kuatnya tradisi dan cara pandang masyarakat , terutama di pedesaan menjadi salah satu penyumbang terbesar pernikan dini di Sulteng.

Sehingga BKKBN Sulteng perlu mengoptimalkan program yang menyasar ke masyarakat langsung untuk mencegah pernikahan dini.

Kasubag BKKBN Sulteng, Bramanda Garibaldi

Kasubag BKKBN Sulteng, Bramanda Garibaldi menyebut, dalam upaya pencegahan pernikahan dini di pedesaan yaitu melalui kader KB yang melakukan pendataan dan memberikan laporan ke BKKBN Sulteng, selanjutanya laporan itu akan di evaluasi sehingga memunculkan solusi dalam penanganan pernikahan dini tersebut.

“Kami punya kader KB, punya petugas KB jadi mereka yang turun ke lapangan melaporkan ke kami untuk dirumuskan dan dibicarakan membuat solusinya, apa yang dilakukan, kami turun seperti apa,”ucap Bramanda saat ditemui di kantor BKKB Sulteng, Kamis (23/09/2021).

Meski demikian, menurut Bram, tradisi menjadi pendorong perempuan menikah dini. Pasalnya, kata Bram, saat ini Sulteng masuk dalam peringkat ke lima dalam besaran pernikahan dini di Indonesia.

“Jadi karena local wisdom dan memang pernikahan anak yang 5 terbesar itu tradisi. Tradisi menikahkan anak mungkin sudah akhir balik, mohon maaf jadi itu (menurut tradisi) yang sudah bisa dinikahkan, dalam bahasa pendudukan itu bahwa anak ini sebagai investasi,”kata Bram.

“Mungkin jika dia sudah lulus SMP, sudah bisa dinikahkan,”lanjutnya.

Bram menilai, faktor tradisi sedikit sulit diatasi. Namun pihaknya berupaya untuk memberikan edukasi dan informasi secara halus dan mudah untuk diterima khususnya pada masyarakat pedesaan.

“Itu memang agak sulit. Sehinga kami terus berupaya bisa mengedukasi dan menginformasikan lebih halus dan gampang dimengerti dan lebih mudah untuk dampak kedepan,”terangnya.

Lebih lanju, Bram mengatakan, pernikahan dini berdampak terhadap stunting yang berpengaruh langsung pada mental maupun fisik anak.

“Dampaknya cukup tinggi karena memang, karena masih kurangnya saat 1000 hari di janin, sampai dia usia 2 tahun itu kesiapan mental, kesiapan fisik yang memang besar presentasenya mengakibatkan stunting,”jelasnya.

“Bukan cuman kerdil saja, mungkin beratnya cukup, tapi perkembangan otaknya terlambat atau secara fisik terlambat, kurang tinggi, terlihat lincah tapi ada yang disabilitas, walaupun kita tidak bisa mendahului tuhan tapi kita mencegah ini terjadinya,”tambah Bram.

Sebab, kata Bram, pengentasan stuntin menjadi prioritas nasional termasuk di Sulteng sendiri.

“Ini menjadi program prioritas nasional sebenarnya termasuk akibatnya menjadi stunting  seperti itu,”tutupnya.DAL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.