Tiga Kecamatan di Parimo Dua Hari Tak Bisa Nikmati Listrik Akibat Proyek PT TMJ

oleh -
Petugas PLN dari UPL Kota Raya saat memperbaiki jaringan listrik yang rusak akibat proyek PT. TMJ. FOTO : IST

PALASA, SULTENGNEWS.COM – Tiga Kecamatan yakni Palasa,Tinombo dan Sidoan di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) sempat tidak menikmati listrik dua hari yakni dari tanggal 26 sampai 28 siang, karena jaringan terganggu proyek pelebaran jalan PT Tunggal Mandiri Jaya (TMJ) di ruas jalan di Pangas, Parimo.

Buangan batu dari proyek pelebaran jalan dari PT. TMJ itu mengakibatkan jaringan listrik terganggu, sehingga warga di tiga kecamatan baru bisa menikmati listrik tanggal 28 siang tadi, sejak mati dari tanggal 26 April 2020.

“Infonya pekerja dari PT Tunggal Mandiri Jaya (TMJ). Minggu kedua atau pertama di bulan April, kita sudah komunikasikan supaya hati-hati dalam pekerjaan pelebaran jalan agar tidak kena intalasi listrik PLN dan juga dari Telkom,” kata Manajer ULP Kotaraya, Fernando Martua Agustinus, saat ditemui di Pangas, Senin (27/04/2020).

“Kemarin juga sempat beberapa kali gangguan, ada beberapa kali mati lampu, kita cari-cari ternyata gangguan sumbernya di Pangas,” tambahnya.

Fernando Martua Agustinus mengatakan, pihaknya sudah menyurat dan menginformasikan kepada PT TMJ supaya hati-hati dalam pekerjaan pelebaran jalan sebelum ruas jalan itu dikerjakan.

Namun pada kenyataannya, buangan galian batu dari proyek PT TMJ itu nyaris menimbun tiang listrik, sehingga mengakibatkan gangguan jaringan karena ada beberapa kabel yang diikat jadi satu.

“Ini tiang listrik tingginya 13 meter, bayangkan timbunannya bisa sampai ke kabel. Sementara kabel yang menyuplai ke Palasa,Tinombo dan Sidoan itu di pangas ini, sama dengan tulang punggungnya,” ujar Manager PLN ULP Kota Raya itu.

“Jadi, Kota Raya dan Tomini suplai listriknya lewat dari sini. Karena kabel terhalang puing-puing, otomatis listriknya tidak bisa di suplai ke ara Palasa, Tinombo dan Sidoan,” ujar Martinus sapaan akrab Fernando Martua Agustinus.

Sejak pagi kata Agustinus, pihaknya sudah mengingatkan untuk timbunan di perhatikan, tapi yang baru dibersihkan di sebelahnya atau setengah jalur. Sementara tiang listrik yang tertimbun belum dibersihkan, padahal masyarakat juga menunggu untuk pelayanan.

“Dari pihak pekerja sudah dihubungi berhari-hari, sempat janjikan mau di bersihkan tapi belum ada realisasi. Nanti sudah ada gangguan begini, baru dibersihkan itupun nanti diberitahu lagi,” kesalnya.

Menurut Agustinus, dia sudah menyurat dari tanggal 22 April kepada PT TMJ bahkan juga sudah melakukan komunikasi sejak jauh hari agar ada perhatian untuk pengawasan.

“Timbunan sudah hampir 2 Minggu. Bahkan kabel sudah bisa di injak-injak dari atas timbunan, kita sudah menghimbau kepada mereka supaya lebih hati-hati untuk bekerja sebagai kepentingan umum,” katanya.

Senada dengan itu, Supervisor Jaringan ULP Kotaraya, Nober menjelaskan, resikonya bisa sampai 70 persen bahkan 80 persen bisa mengakibatkan mati lampu.

“Kabel juga tadi siang terlihat di puntir. Dua kabel di gabung jadi satu, biar darimana pun masuknya tegangan tetap akan mati lampu sampai mengakibatkan sistemnya kita di kotaraya mati semua atau blackout,” jelasnya.

“Tadi dua vas kabel disini di puntir atau kabel di gabung. Itu kan tidak boleh, sehingga terjadi ledakan,”sambungnya.

Nober mengungkapkan, pelakunya belum diketahui, sebab jalan di pangas buka tutup, sehingga belum bisa dipastikan siapa yang melakukan penggabungan kabel itu.

“Hanya fotonya ada didapat dari teman-teman petugas PLN yang menelusuri gangguan, sehingga didapat kabel semacam di puntir itu,” ungkapnya.

“Kalau istilahnya kita di PLN itu pasa S dan pasa T itu menyatuh, sehingga saat dimasukan PMT dari PLN Palasa, maka terjadi ledakan yang mengakibatkan koslet,” kesalnya.

Dia menambahkan, pihak PLN belum menyalakan listrik, karena resikonya sangat berbahaya. Sebab dekat sekali dengan orang yang lalu lalang di pangas.

“Tidak ada yang lebih berharga dari nyawa manusia. Kalau ada yang tersetrum, kami tidak mau ambil resiko menyalakan lampu sebelum digusur timbunan agar kabel tidak bisa dijangkau manusia sebab tegangannya 20.000 volt,” tandasnya. DAL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *