Tidak Ada Pengaruh Cuaca Panas dan Berhentinya Penyebaran Covid-19 di Indonesia

oleh -
Prof. Ir. Dwikorita karnawati, M.Sc, Ph.D

PALU, SULTENGNEWS.COM – Beberapa artikel di media massa menuliskan pernyataan Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan Presiden RI, Joko Widodo bahwa virus corona atau covid-19 tidak tahan di cuaca panas.

Hal itu menimbulkan banyak pertanyaan di berbagai pihak. Adakah hubungan iklim dengan di Indonesia dengan penyebaran covid-19?

Untuk itu, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta bekerjasama dengan Sosiety of Indonesian Science Journalists (SISJ) dan Akademi Ilmuan Muda Indonesia (ALMI) mengundang sejumlah jurnalis di tanah air untuk mengikuti diskusi online melalui grup WhatsAap (WA) untuk memecahkan tanda-tanya itu melalui kaca mata sains.

Hadir sebagai pembicara Sekretaris Jenderal Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI), Dr. Berry Juliandi S. Si., M.Si yang membawakan materi berjudul ‘Rational Decision Making dalam Penanganan Pandemi Covid-19’ dan Kepala Badan Meteorologi dan Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Prof. Ir. Dwikorita karnawati, M.Sc, Ph.D yang membawakan materi tentang ‘Rapid Assesment: Pengaruh Cuaca dan Iklim Terhadap Penyebaran Covid-19.

Dalam penjelasannya, Dwikorita mengatakan dari hasil kajian mereka yang melibatkan multi disiplin ilmu mulai dari kedokteran, kesehatan masyarakat dan keperawatan dengan menggandeng 20 peneliti yang masing-masing mengumpulkan penelitian-penelitian terdahulu seperti, papers, review dan printed. Disimpulkan, iklim dan cuaca bukanlah faktor yang dapat mengontrol epidemi covid-19.

Beberapa penelitian menunjukan, penyebaran epidemi tersebut dikontrol oleh beberapa faktor, antara lain faktor iklim/cuaca, demografi manusia dan mobilitasnya, ataupun interaksi sosial, serta upaya intervensi kesehatan masyarakat.

Negara Indonesia memiliki suhu yang cukup tinggi dibanding negara lainnya yang terjangkit, yakni mencapai 30 derajat celsius di siang hari. Kondisi itu membuat covid-19 di ruang terbuka tidak dapat bertahan selama 30 menit.

Ditambah lagi dengan temperatur dan kelembapan udara yang tinggi hampir sepanjang hari juga kurang mendukung virus covid-19 bertahan di udara terbuka.
BMKG memprediksi cuaca di Indonesia ke depan masih akan di seputaran 30 derajat celsius yakni 28 derajat celsius dengan kelembapan berkisar antara 66-95 persen.

“Iklim atau cuaca dapat berpengaruh terhadap kestabilan virus corona, yang cenderung stabil pada suhu udara rendah yakni 1-10 derajat celsius dan kelembapan udara rendah yakni 40-50 persen,”kata Dwikorita.

Jika dibandingkan dengan dataset penyebaran transmisi covid -19 di Cina, Italia, Jepang dan beberapa negara lainnya antara 20 Januari-11 Maret 2020 dengan menggunakan model statistik diperoleh bahwa kombinasi dari temperatur, kelembapan relatif dan kecepatan angin berperan dalam penyebaran covid-19. Dimana ditemukan temperatur ideal sekitar 8-10 derajat celsius dan kelembapan 60-90 persen.

“Indonesia sebagai negara yang terletak di sekitar garis khatulistiwa dengan suhu rata 27-30 derajat celsius dan kelembapan udara berkisar 70-95 persen, merupakan lingkungan yang cenderung tidak ideal untuk outbreak (kejadian luar biasa) Covid-19 ” tutur Dwikorita.

Lalu jika kajian ini benar demikian, mengapa angka penderita covid-19 di Indonesia terus bertambah dari hari-hari?
Fakta menunjukan kasus covid-19 telah menyebar di Indonesia pada gelombang dua (gelombang pertama diawali Cina) disebabkan karena faktor mobilitas orang-orang yang cukup tinggi, sehingga dapat disimpulkan faktor suhu dan kelembapan udara umumnya dapat menjadi faktor pendukung dalam mengurangi resiko penyebaran wabah covid-19.

Apabila diikuti dengan pembatasan mobilitas orang/interaksi sosial serta upaya intervensi kesehatan yang lebih intensif untuk diterapkan dan ditegakkan.

“Jadi dengan tingginya aktivitas masyarakat saat ini, faktor cuaca sudah tidak lagi membantu berhentinya penyebaran wabah ini. Oleh karena itu, aturan sosial distancing dan physical diterapkan dengan baik. Sebab kalau tidak penyebaran virus ini terus terjadi,”ujarnya.

Sementara itu, Dr. Berry menilai penggunaan penelitian yang berupa papers, review dan print sebagai bahan rujukan untuk menarik kesimpulan dari outbreak covid-19 yang terjadi di Indonesia oleh BMKG, menunjukan adanya ketidakpastian yang tinggi terhadap penyebaran wabah itu. Sebab belum ada penelitian-penelitian sebelumnya terkait virus tersebut.

Oleh karena itu perlu kewaspadaan maksimal dalam menghadapi pandemi ini.

“Kemudian akan muncul pertanyaan. Benarkah musim panas berpengaruh menurunkan penyebaran covid-19?jawabannya tergantung keputusan yang diambil,”jelas Berry.

Keputusan yang diambil akan sangat beresiko karena kemungkinannya hanya akan ada dua jawaban, berpengaruh dan tidak berpengaruh.

Bila pemerintah tetap meningkatkan kewaspadaannya, maka berpengaruh atau tidak berpengaruhnya sebuah keputusan tetap akan menyelamatkan banyak nyawa. Sebaliknya, bila pemerintah tidak mengambil tindakan waspada terhadap penyebaran itu, berpengaruh dan tidaknya akan menyebabkan lebih banyak nyawa melayang.

“Sehingga di tengah pendemi seperti ini dan ketidakpastian seperti ini. Keputusan yang diambil perlu melihat peluang yakni meningkatkan kewaspadaan physical distancing untuk mencegah kemungkinan-kemungkinan yang lebih kecil,” tutup Berry. INT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *