Tersangka Jembatan Torate, RL Ditahan Kejati Sulteng

oleh -
Tersangka Jembatan Torate, RL saat ditahan Kejati Sulteng. FOTO : IST

PALU, SULTENGNEWS.COM – Penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) Provinsi Sulawesi Tengah menahan seorang pria berinisial RL di rumah tahanan Polda Sulawesi Tengah (Sulteng), Jumat ( 16/04/2021).

RL merupakan Kepala Satuan kerja (Kasatker) Dinas Kimpraswil Sulteng yang menjadi tersangka dalam kasus dugaan korupsi penggantian jembatan Torate Cs yang merugikan negara Rp2,8 miliar.

Sebelumnya Penyidik Kejati juga telah menahan Cristian Andi Pelang pada Rabu (23/3/2021) yang sempat menjadi daftar pencarian orang (DPO).

Kejati Sulteng saat konferensi pers terkait kasus Jembatan Torate. FOTO : IST

Kepala Kejaksaan Tinggi Provinsi Sulteng, Jacob Hendrik Pattipeilohy mengatakan, tersangka RL tiba dikantor Kejaksaan sekitar pukul 09.30 WITA.

“Usai menjalani proses administrasi, RL lalu digiring menuju mobil tahanan, menuju rumah tahanan Polda Sulteng, ” kata Jacob, turut didampingi Asisten Pidana Khusus Mochmad Jefry, Kasipenkum Inti Astutik, Kasi Penuntutan Asmah Alimin, Kasidik Iskandar.

menurut Jacob, penahanan ini akan dilakukan selama 20 hari kedepan dan saat ini sedang dirampungkan berkas perkara, untuk selanjutnya akan segera dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Klas 1 A PHI/Tipikor/Palu.

Kasus ini berawal tahun 2018 dimana Dinas Bina Marga dan Tata Ruang Wilayah Sulawesi Tengah, melaksanakan pekerjaan pengganti Jembatan Torate Cs dengan pagu anggaran Rp8 miliar bersumber dari APBN.

Pekerjaan Torate Cs yakni, ruas jalan Tompe – Pantoloan yaitu , jembatan Torate panjang 9,60 meter nominal R3,6 miliar, jembatan Laiba panjang 6,80 meter nominal Rp3,2 miliar, jembatan Karumba V panjang 6,80 meter nominal Rp2,9 miliar, jembatan Labuan II panjang 6,80 meter nominal Rp3,6 miliar.

Pemenang lelang pekerjaan Jembatan Torate adalah PT Mitra Aiyangga Nusantara dengan nilai kontrak Rp14,9 miliar.

Pekerjaan ini dilaksanakan oleh Serly selaku kuasa Direktur PT Nusantara. Pekerjaan tersebut terhenti dan diambil alih oleh Moh. Masnur untuk melanjutkan progres yang ada. Namun pekerjaan tidak selesai karena tidak dilaksanakan sesuai jadwal.

Pada 21 Desember 2019, dibuatlah berita acara pemeriksaan ditandatangani Alirman selaku PPK, Ngo Joni selaku konsultan pengawas dengan merekayasa pekerjaan tersebut jika realisasi pekerjaan telah mencapai Rp28,5 persen.

Faktanya, tidak sesuai kondisi di lapangan, menyebabkan kerugian negara sebesar Rp2,8 miliar.

Dalam kasus dugaan korupsi ini, empat lainnya sudah menjalani putusan Pengadilan yakni Serly selaku kuasa Direktur PT Mitra Aiyangga Nusantara, divonis  4 tahun dan 6 bulan penjara.

Moh. Masnur selaku Direktur PT Mitra Aiyangga, Ngo Joni selaku konsultan pengawas, Alirman selaku pejabat pembuat komitmenl, masing-masing divonis 1 tahun dan 6 bulan penjara, serta masing-masing membayar denda dan uang pengganti. DAL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *