Tenaga Medis Minta Direktur RS Raja Tombolotutu Mundur Dari Jabatannya

oleh -

PALU, SULTENGNEWS.COM – Tenaga Medis yang terdiri dari tenaga pengabdi, honorer dan kontrak yang bekerja di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Raja Tombolotutu meminta Direktur rumah sakit itu mundur dari jabatannya.

Hal itu disampaikan para tenaga medis jika tuntutan yang mereka sampaikan sebelumnya tidak dipenuhi direktur rumah sakit.

Empat poin tuntutan awal para tenaga medis yakni membayar jasa medis, membayar gaji honorer dan kontrak, meminta stop PHK terhadap honorer dan kontrak serta tidak setuju gaji bela negara dibebankan kepada tenaga honorer.

“Yang kita kejar point 1 sampai 4 harus dipenuhi. Jika tidak bisa dipenuhi, maka point 5 harus dilakukan yakni direktur harus mundur,” papar salah satu tenaga Medis RS Raja Tombolotutu yang tidak ingin disebutkan namanya kepada sultengnews.com, Jumat (19/06/2020).

Menurut tenaga media itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Parigi Moutong (Parimo) dan pihak manajemen RS Raja Tombolotutu sampai saat ini masih memberikan janji.

“Saya pribadi berharap, semoga Pemda Parimo tidak hanya sekedar janji-janji belaka, begitu pun dengan pihak manajemen RS Raja Tombolotutu,” ungkapnya.

Dia menerangkan, pada tuntunan point satu akan dibayarkan RS Raja Tombolotutu, tetapi diajukan dalam Anggaran Belanja Tambahan (ABT), dalam kata lain menjadi utang daerah yang harus dibayarkan setiap tahunnya.

“Jasa medis hanya bisa membayarkan dalam waktu dekat ini yaitu jasa pada Januari sampai Februari, akan dibayarkan dengan dana Badan Layanan Umum Daerah (BLUD),” terangnya.

Pada point kedua, gaji Mei akan tetap dibayarkan dari dana BLUD dan Pemda Parimo juga sudah berjanji akan menambahkan anggaran.

“Pemda Parimo akan menambahkan anggaran dalam perubahan anggaran pada bulan Juli mendatang sebesar 1,3 Miliar untuk membayarkan sisa gaji Juni sampai Desember,” paparnya.

Point ketiga kata dia, tidak akan ada PHK sepihak, begitu pun poin keempat, pemotongan gaji untuk bela negara dihapuskan.

Dia menuturkan, pihak manajemen angkat tangan jika pengabdi, tenaga honorer dan kontrak masih mengadakan mogok kerja.

“Jadi Pemda Parimo sudah mengupayakan untuk tuntuan bisa terpenuhi, tapi kami masih menunggu kepastiannya,” tuturnya.

“Semoga ini bukan janji-janji manis, karena sudah bertahun-tahun merasakan pahitnya janji orang daerah,” keluhnya.

Sementara itu, Direktur RSUD Raja Tombolotutu, dr. Rustam Mangga saat dikonfirmasi via WhatsApp menyampaikan masih menunggu realisasi anggaran APBD Perubahan tahun anggaran 2020 yang dijanjikan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TPAD) Kabupaten Parimo.

“Kita masih menunggu realisasi anggaran APBD-P 2020 yg d janjikan tim TAPD kabupaten,” tulisannya dalam via WhatsApp. DAL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *