Tegaknya Penyelenggaraan Pemilu Ditentukan Oleh Tiga Komponen Strategis, Simak Uraianya dari Ketua Bawaslu Sulteng

oleh -
oleh
Ketua Bawaslu Sulteng, Jamrin, SH, MH (dua dari kanan) didampingi Anggota BAwaslu Sulteng Nasrun (kanan), saat melakukan penandatangan MOU dengan Organisasi Pemuda Muhammadiyah Sulawesi Tengah, Jumat (21/10/2022) pagi. FOTO : Mohammad Rizal/SultengNews.com

PALU, SULTENGNEWS.COM – Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Provinsi Sulawesi Tengah, resmi menutup rangkaian kegiatan Sosialisasi Pengawasan Partisipatif Tahun 2022 yang dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, organisasi masyarakat, Partai Politik (Parpol), Akademisi, Insan Pers, dan lainnya, di salah satu hotel yang ada di kota Palu, Jumat (21/10/2022) pagi.

Ketua Bawaslu Sulteng Jamrin, SH, MH, dalam sambutannya, mengatakan, Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) sebagai sebuah konstitusi Negara yang diberikan mandat oleh undang-undang untuk melaksanakan tugas pengawasan pemilihan umum.

Dalam melakukan pengawasan Pemilu, urai dia, ada tiga komponen di dalam penyelenggaraan pemilu yang memiliki nilai atau sangat strategis untuk mewujudkan tegaknya kualitas Pemilu yang berkualitas dan bermartabat.

“Pertama adalah penyelenggara Pemilu, kedua Peserta Pemilu dan ketiga Pemilih Kedaulatan dalam hal ini adalah rakyat,” ungkap Jamrin kepada SultengNews.com, Jumat (21/10/2022) pagi.

“Oleh karena itu, tiga komponen ini satu kesatuan fungsi untuk menyelenggarakan Pemilu. Penyelenggara Pemilu dalam hal ini Bawaslu, berkewajiban melaksanakan fungsi-fungsi pengawasan, pencegahan, dengan cara melakukan kerjasama kelembagaan,” sebutnya.

Mengapa perlu kerjasama dengan kelembagaan dan sangat penting bagi Bawaslu Sulteng, Jamrin memandang, bahwa dengan jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) Provinsi Sulawesi Tengah kurang lebih 2 juta pemilih, itu tidak bisa diawasi oleh ribuan Pengawas yang tersebar di kabupaten dan kota, di Provinsi Sulawesi Tengah.

“Dengan jumlah yang sebanyak itu, tidak mampu kami lakukan pengawasan secara menyeluruh, karena yang mampu mengawas itu adalah warga Negara Indonesia sendiri, yang mempunyai hak pilih,” kata dia.

“Olehnya, Bawaslu memastikan seluruh proses itu tidak terjadi intimidasi, dengan memberikan kebebasan kepada rakyat sebagai suara hati nurani rakyatya,” sambung dia.

Diakhir sambutannya, Ketua Bawaslu Sulteng, menegaskan, satu suara sangat menentukan, satu suara akan dikonversikan menjadi sebuah jabatan, jabatan apa itu, kursi DPR pada pemilihan umum mendatang.

“Saya punya pengalaman, ketika pemilihan di tahun 2014, ada satu kursi yang diperebutkan oleh satu orang, dengan selisih satu suara, 1.020 suara dan 1.021 suara. Satu suara bisa menetapkan menjadi anggota DPR,” jelasnya.ZAL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.