Tanah Sanggamu dan Seruan Mempertahankan Pangan Lokal Hadapi Bencana

oleh -
Ibu - ibu di Desa Toaya juga berperan aktif mengelola ladang yang dikelola Komunitas Tanah Sanggamu. FOTO : IST

Di sebuah desa yang juga terdampak bencana pada 28 September 2028 lalu bernama Desa Toaya, Kecamatan Sindue, Sulawesi Tengah, lahir komunitas baru. Namanya Tanah Sanggamu. Komunitas ini tercetus usai masa tanggap darurat bencana Gempa, Stunami dan Likuifaksi di Kota Palu, Sigi dan Donggala.

Oleh : Intan Arif

Apa yang mendorong Komunitas ini terbentuk? Seperti artinya, Tanah Sanggamu adalah tanah segenggam yang harus dijaga. Komunitas ini bergerak dalam bidang pertanian.

Koordinator Tana Sanggamu, Ade Nuriadin, Kamis (9/4/2020) menjelaskan, saat gempa terjadi, anak-anak desa yang mulai bekerja di kota besar termaksud dirinya, terdorong menjadi relawan di daerahnya sendiri.

Dari situ mereka mendapati berbagai persoalan. Yang paling krusial adalah hilangnya mata pencaharian warga setempat yang mayoritas petani.

“Beberapa irigasi rusak. Sehingga banyak sawah yang tidak tealiri dengan baik dan akhirnya mati,” ujar Ade.

Atas dasar itu, lepas tanggap darurat, dibantu pemuda setempat. Mereka meneruskan kerja mulia itu dengan membentuk Komunitas Tana Sanggamu yang wilayah kerjanya di bidang pertanian organik.

Mengapa pertanian organik? Alasannya karena didorong oleh kesadaran diri akan perlunya bertani secara sehat selaras dengan alam, tanpa menggunakan pupuk kimia yang dapat merusak lingkungan. Mereka yakin, peristiwa gempa, stunami dan likuifaksi adalah jawaban bagaimana manusia tidak memperlakukan alam dengan semestinya.

“Maka kita mulai dengan hal kecil. Kami perkenalkan kepada petani tentang tanaman organik dan mereka semua tahu itu. Cuma kendala mereka, bertani organik tidak begitu menguntungkan dan rentang waktunya juga lama. Sehingga pilihan satu-satunya, petani memakai pupuk kimia agar hasil pertanian lebih optimal,” tutur Ade.

Namun, masyarakat tetap antusias mengikuti pertemuan-pertemuan komunitas itu. Bahkan saat penanaman di ladang, seorang warga mau meminjamkan ladangnya untuk ditanami tanaman organik. Tanaman perdana komunitas itu diawali dengan kacang organik.

Lalu, persoalan muncul. Kacang organik sukses tumbuh sumbur, namun terkendala dengan pemasaran.
Akhirnya, komunitas itu berinisiatif kembali mencari cara agar niat mulia itu tetap berjalan semestinya dengan menginisiasi menanam tanaman organik dalam skala kecil.

“Maka munculah ide kebun organik di halaman rumah. Harapanya bagaimana dapur masyarakat tetap terisi. Itu dulu yang penting,” ujar dia.

Saat ini, untuk menjalankan misi itu, pihaknya sedang melakukan riset kecil-kecilan. Sebab komunitas itu sadar, ilmu pertanian yang dimiliki sangat minim karena banyak dari mereka tidak memiliki latar belakang ilmu pertanian.

Saatnya Menggalakan Urban Farming

Kali ini, berpuluh-puluh kilometer jauhnya dari Desa Toaya, ke Kota Montreal, Kanada. Seorang dosen asal Universitas Tadulako (Untad), Palu, Sulteng, Dr. Stepanus W. Bo’do mendapat kiriman foto dari keluarga istrinya di kota itu. Sebuah potret makanan di waktu siang, berupa nasi, bakso daging tanpa sayuran.

Sejak wabah Pandemi masuk di wilayah itu, suplai sayuran, buah, ikan, beras dan makanan kemasan, umumnya dari China, Thailand dan Vietnam, terganggu akibat pandemi Covid-19.
Akhirnya, masyarakat kembali menengok pangan lokalnya. Jagung, gandum, daging, susu dan telur yang tentu saja terbatas.

“Sudah lama dimanja produk impor,”tulis Step dalam akun Facebook-nya.
Step adalah doktor ilmu sosial. Penelitiannya di bidang digital dan urban farming, membuat dirinya menaruh perhatian pada persoalan tersebut.

Menurutnya, gerakkan yang dipelopori Ade Nuriadin, patut diapresiasi sebagai bentuk kegiatan positif untuk mandiri pangan.

Studi terbaru menunjukan, kurang dari setengah penduduk desa masih mengonsumsi pangan lokal. Sisanya adalah makanan kemasan. Ketersediaan makanan jenis itu karena akses yang mudah. Sehingga makin menggerus pangan lokal.

“Sarapan bukan lagi ubi bakar, pisang rebus. Tetapi lauk diganti menjadi mi instan,”tutur dia.

“Pangan kesukaan anak bukan lagi kacang. Tetapi, Chiki-chiki, sosis yang saban hari dilihat di televisi. Itu yang lebih populer. Mereka menjadi asing dengan pangan lokal,”tambah Step.

Di Kota. Jangan khawatir. Ada Urban Farming. Tehnik itu sangat populer di seluruh dunia. Urban Farming dianggap sebagai solusi mempromosikan kesehatan masyarakat, lingkungan dan pembangunan ekonomi mandiri dengan memanfaatkan lahan kosong di perkotaan, mendekatkan dapur dengan pasar dan mendorong orang untuk menanam makanannya sendiri.

Harapannya, tidak akan ada rakyat yang kelaparan. Apalagi menghadapi pendemi virus corona di tahun 2020 ini. Yang saat ini mulai terasa mempersulit pergerakan ekonomi masyarakat. Menutup dan membatasi akses-akses penghidupan warga.

“Pada akhirnya kita perlu menengok lahan di rumah. Seperti apa yang dilakukan warga Amerika saat perang dunia II. Saat itu terjadi kelaparan. Maka Pemerintah mewajibkan masyarakatnya bertani di lahan kosong mereka bahkan sampai di atap-atap rumah,” ulas Step.

Hal serupa juga dialami Negara Kuba. Ketika tiba-tiba perdagangan terputus karena blok Uni Soviet dan embargo As. Tahun 1989 negara itu mengalami krisis ekonomi yang parah. Kelaparan meluas. Maka pemerintah menanggapinya dengan pertanian organik dengan berkerbun secara gerilya. Sekarang Kota Havana menjadi model teladan penyediaan pangan mandiri.

Di Indonesia sendiri Urban Farming cukup populer. Lahir pula beberapa kelompok di media sosial, para aktivis digital yang bergerak di bidang itu. Salah satunya grup Indonesia berkebun. Namun, Urban Farming di Indonesia belum menjadi program yang massif. Hasilnya juga belum signifikan.

Persoalan juga terjadi di wilayah pedesaan. Akses pemenuhan pangan relatif lebih mudah. Namun, masih sulit mengubah pola konsumsi warga desa yang kadung berubah dan menyingkirkan pangan lokal dari meja makan.

“Karena itu, berkaca pada pengalam pandemik covid-19 di Kanada. Saya mengajak kita semua kembali ke produksi dan konsumsi pangan lokal. Untuk di kota mari galakkan Urban Farming. Untuk yang di desa, ayo jauhkan makanan kemasan dari jangkauan anak-anak,” tutup Step. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *