Sulteng Butuh Pemerintahan Yang Kuat dan Kompak

oleh -

Susana Open House di kediaman Ahmad M. Ali di Jalan Swadaya pada lebaran tahun 2018 lalu. FOTO : IST

PALU, SULTENGNEWS.com – Sulawesi Tengah (Sulteng) membutuhkan pemerintahan yang kuat dan kompak, pemimpin yang berani mengambil kebijakan yang berpihak kepada rakyat dan berorientasi, serta butuh energy dari semua pihak.

Demikian keseimpulan singkat diskusi jelang buka puasa yang dilaksanakan di kediaman Anggota DPR RI, Ahmad M. Ali di Jalan Swadaya pada Senin (27/5/2019).

Diskusi yang dipandu Arifin Sunusi itu, dimulai sekira pukul 17.00 Wita dan dihadiri sejumlah tokoh politik dan birokrat baik dari Pemerintah Provinsi (Pemrov) Sulteng maupun dari Pemerintah Kota (Pemkot) Palu.



Beberapa tokoh yang hadir diantaranya Anggota DPR RI dari Partai Golkar Muhidin M. Said, Rektor Universitas Tadulako (Untad) Prof. Dr. Ir. H. Mahfudz, Mantan Walikota Palu dua periode H. Rusdy Mastura, Sekretaris Provinsi Mohammad Hidayat Lamakarate, Wakil Walikota Palu Sigit Purnomo Said dan sejumlah tokoh penting lainnya.

Sekprov Sulteng Hidayat Lamakarate yang diberikan kesempatan pertama memulai pembicaraan menyampaikan, pasca terjadinya bencana pada 28 September 2018 lalu, membuat Sulteng membutuhkan perhatian serius untuk membangun kembali Sulteng. Apalagi, Pemprov Sulteng sudah menyusun rencana aksi untuk rekonstruksi dan rehabilitasi pasca bencana.

“Sebenarnya rekon sudah disusun mulai tahun 2019 – 2021 dan rencana aksi sudah disusun. Namun melihat situasi dan kondisi, kemungkinan efektif dimulai tahun 2020 sampai 2021,” ujar Hidayat Lamakarate.

Dalam tahapan rekonstrukri itu, Sulteng juga diperhadapkan dengan agenda politik yakni pemilihan Gubernur tahun 2020, sehingga akan terjadi peralihan pemerintahan. Karena itu kata Hidayat, siapa pun Gubernur kedepan akan menangani masalah masalah rekonstruksi hingga tahun 2021.

“Diskusi – diskusi seperti ini, sangat perlu dan sangat baik untuk pembangunan Sulteng kedepan,” tandas Hidayat.

 



Anggota DPR RI dari Nasdem, Ahmad M. Ali dalam kesempatan itu juga menyampaikan beberapa pokok pikirannya terkait pembangunan Sulteng kedepannya.

Menurut Ahmad M. Ali, masalah yang dihadapi Sulteng saat ini tidak bisa dipikirkan dan diselesaikan sendiri oleh kelompok – kelompok politik, tapi membutuhkan energi dari semua pihak baik politisi, akademisi dan birokrat.

“Sulteng butuh energi besar, tidak bisa Sulteng keluar dari permasalahannya kalau yang memikirkan hanya kelompok – kelompok politik.Tapi Sulteng harus berbagi energi kita semua ada Universitas Tadulako (Akademisi), ada politisi dan ada birokrasi untuk duduk bersama mengambil peran,” papar Ahmad M. Ali

Semua kata politisi Nasdem ini, harus mengambil peran dan posisi strategi masing – masing untuk membangun Sulteng.

“Kalau ada orang yang masih berpikir bahwa dia mampu sendiri menyelesaikan masalah Sulteng, itu nonsen tidak bisa,” tegasnya.

Dikatakan, dalam menghadapi musibah bencana yang dialami Sulteng saat ini, dibutuh pikiran dan kebijakan yang bisa membawa Sulteng keluar dari permasalahan yang ada.

“Kita tidak bisa pasrah dengan kondisi ini, kita tau bahwa bencana alam bagi Kota Palu bakan hal baru, ini adalah hal yang berulang dari tahun – tahun sebelumnya. Pertanyaannya apa yang mesti kita lakukan untuk mengantisipasi ini..? bencana ini tidak bisa kita hindara, karena ini ketetapan dari Allah. Tapi kita bisa meminimalisir resiko yang akan terjadi jika bencana terjadi,” ujar politisi asal Morowali ini.

Menurutnya, untuk bisa menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi Sulteng saat ini, dibutuhkan pemerintahan yang kuat dan berani untuk melakukan sesuatu. Berani untuk melakukan kebijakan yang punya keberpihakan,” tegasnya.

“Kita tidak bisa pasrah, selesai bencana minta bantuan dana, bangun yang ada tanpa ada kebijakan yang fundamental untuk mencegah jatuhnya korban ketika bencana itu datang kembali, karena pasti bencana ini sesuatu yang pasti akan datang, karena itu siklus yang sudah terjadi sejak zaman nenek moyang kita,” tambahnya.

Lebih lanjut, Ahmad M. Ali mengatakan bahwa bencana alam ini juga bisa dimanfaatkan untuk menjadi kekuatan Kota Palu dan Sigi dengan menjadikan bencana likuifaksi menjadi pusat studi geologi.



“Saya membayangkan lima tahun atau 10 tahun yang akan datang, Universitas – Universitas terkemuka di dunia akan datang kesini, karena bencana likuifaksi yang terjadi di Kota Palu adalah gejala alam pertama di dunia. Ini sangat menarik, tinggal pemerintah mau menjadikan apa, misalnya museum geologi dan apa saja yang bisa memastikan orang bisa datang,” usulnya.

Untuk bisa melakukan itu semua, dibutuhkan keberanian yang fundamental untuk menggeser situasi masyarakat dan kemudian betul – betul menjadi pusat geologi.

“Masalah Sulteng ini, tidak bisa selesai hanya dengan memilih Gubernur. Tapi bagaimana anak Negri Sulteng ini, mau berbagi energi untuk membangun sulteng,” tutupnya. FUL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *