Stafsus Presiden Berkunjung Ke Untad, Ini Harapan Para Pemuda Sulteng

oleh -
Staf Khusus Presiden, Aminuddin Ma’ruf. FOTO : IST

PALU, SULTENGNEWS.COM – Staf Khusus (Stafsus) Presiden Republik Indonesia, Aminuddin Ma’ruf berkunjung ke Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) hari ini, Senin 13/09/2021. Agenda kedatangannya untuk memantau vaksinasi yang dilakukan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Tadulako (Bemut).

Kegiatan ini merupakan upaya Bemut untuk membantu percepatan program vaksinasi khususnya kepada mahasiswa yang ada di Kota Palu.

Kordinator Gerakan Mahasiswa Peduli Sulteng (Gempar), Fandi Alang mengatakan, menjadi sebuah kehormatan bagi masyarakat Sulteng terkhusu di Kota Palu.

Fandi mengatakan, walaupun Stafsus Presiden itu melakukan kunjungan ke Universitas Tadulako untuk memantau keadaan vaksinasi yang di selegarakan Bemut, namun kedatangannya diharapkan bisa membawa perubahan di Sulteng khususnya di kalangan generasi muda utamanya semangat generasi muda untuk berkarya dan berprestasi di segala bidang.

“Saya sebagai Kordinator Gempar Sulteng, bersama seluruh masyarakat mensyukuri atas kunjungan serta kehadiran Stafsus Presiden ke Kota Palu,” ujarnya, Senin (13/09/2021).

“Ya saya kira, kehadiran staf presiden ini kan tidak selalu ada. Kesempatan ini sangat luar biasa dan bagi saya, ini sebuah kehormatan. Walaupun tidak bertemu, tetapi bagaimana pun juga, banyak harapan akan adanya perubahan bagi genarasi muda Sulteng,” sambungnya.

Saat ini kata Fandi, dunia sedang menghadapi masalah besar. Berawal dari munculnya suatu wabah penyakit yang disebabkan oleh virus, yaitu virus corona yang akrab disebut Covid-19.Hampir semua aspek kehidupan mengalami perubahan-perubahan yang semakin hari semakin mengkhawatirkan, mendebarkan seluruh isi dunia.

Akibatnya, dunia perekonomian semakin lemah, hubungan sosial semakin menurun yang menyebabkan kurangnya interaksi dan kepedulian terhadap sesama. Semua kalangan telah merasakan dampak dari virus Covid-19 ini, terutama pada dunia pendidikan.

“Kita harus siap menghadapi perubahan ini, karena cepat atau lambat pendidikan akan mengalami perubahan drastis akibat pandemi Covid-19,” katanya.

Saat ini lanjutnya, pemerintah pusat telah mengeluarkan kebijakan-kebijakan, salah satunya meliburkan aktivitas (tatap muka) seluruh lembaga-lembaga pendidikan. Hal ini dilakukan sebagai upaya pencegahan penularan virus corona atau covid 19 ini.

Bagi Fandi, hal ini tentunya berdampak besar pada perkembangan pendidikan mahasiswa, yang saat ini dituntut untuk belajar mandiri, melalui sarana daring.

Pembelajaran daring atau online merupakan sistem pembelajaran tanpa tatap muka secara langsung antara dosen dan mahasiswa, namun dilakukan melalui jaringan internet. Keadaan ini, kata Fandi, menjadi tantangan besar bagi seorang dosen karena dalam kondisi seperti ini dosen dituntut untuk bisa mengelola dan mendesain media pembelajaran daring sedemikian rupa, guna untuk mencapai tujuan pembelajaran yang baik serta untuk mencegah atau mengantisipasi kebosanan mahasiswa dalam pembelajaran model daring tersebut.

Selain itu, Fandi mengungkapkan, dalam penerapan belajar online ini, tidak sedikit mahasiswa yang mengalami kesulitan belajar yang dipicu oleh beberapa faktor. Pertama, mahasiswa  yang belum memiliki handphone dan belum mengetahui banyak tentang penggunaan teknologi. Selanjutnya, masalah utama yang dialami mahasiswa adalah jaringan yang tidak memadai. Hal ini merupakan tantangan besar serta menghambat keaktifan mahasiswa.

Kedua, kurangnya interaksi sosial antara dosen dan mahasiswa karena dalam pembelajaran online mahasiswa hanya diberikan tugas melaui via whatsapp. Kebanyakan mahasiwa merasa kesulitan dalam mengerjakan tugas dikarenakan tidak ada penjelasan-penjelasan yang detail  tentang tugas yang dibebankan tersebut.

Ketiga, akibat kurangnya interaksi langsung antara dosen dan mahasiswa, otomatis berkuranglah internalisasi nilai-nilai karakter yang semestinya harus ditanamkan seorang dosen ke dalam diri mahasiswa.

“Ini akan mengakibatkan degradasi moral pada anak bangsa  atau mahasiswa, karena tugas seorang dosen bukan hanya mengajar, mentrasferkan ilmu pengetahuan (mata kuliah ) saja, tetapi seorang dosen juga dituntut untuk mendidik melalui pembentukan akhlak dan karakter mahasiswa. Namun, hal ini tidak boleh mematahkan semagat dosen dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik, tidak boleh mematahkan semagat mahasiswa dalam belajar. Pandemi Covid ini tidak boleh mematahkan semangat dan harapan kita semua,”ungkapnya.

“Di balik kesedihan seluruh belahan dunia ini, kita harus mampu mengambil hikmah dari pandemi Covid-19 ini. Pandemi Covid-19 ini mungkin saja datang sebagai ujian untuk kita semua, apakah kita mampu mencerdaskan kehidupan bangsa walau dalam kondisi seperti ini. Semoga harapan-harapan sederhana ini bisa menjadi bahan diskusi Stafsus Presiden dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk pulang nanti ketempat kerjanya,” tutupnya. DAL/*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.