Sri Tini Haris, Aktivis Perempuan Pembela Hak – Hak Penyintas

oleh -
Sri Tini Haris saat melakukan unjuk rasa membela hak - hak korban bencana di Kota Palu belum lama ini . FOTO : Istimewa

Bagi para penyintas atau korban bencana 28 September 2020, nama Sri Tini Haris sudah tidak asing lagi khususnya para penyintas di Kota Palu.

Oleh : Miftahul Afdal

Pukul 17.30 Wita atau menjelang hari mulai gelap, nampak dari kejauhan Sri Tini Haris yang memakai baju putih serta celana hitam melambaikan tangannya, tepat di depan Hunian Sementara (Huntara) miliknya di Kelurahan Talise, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Sri Tini Haris merupakan aktivis perempuan yang membela hak – hak penyintas korban bencana 28 September 2018 di Sulawesi Tengah. Namanya tidak hanya familiar di kalangan para penyintas, tapi juga di Pemerintah Kota Palu dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Palu, sebab dia tak pernah absen bersama aliansi masyarakat yang bernama Sulteng Bergerak dalam melakukan aksi solidaritas memperjuangkan hak – hak para penyintas.

“Saya tidak akan pernah berhenti berjuang membela hak – hak penyintas, kendati sampai miskin saya punya kehidupan,” katanya dengan lantang.

Dia menuturkan, pada saat terjadi gempa dan tsunami di Kota Palu, dirinya mengalami luka – luka akibat terseret air laut, sehingga dia menyadari betul bagaimana sulit dan menderitanya para penyintas korban bencana dahsyat 28 September 2018 lalu.

“Saat kejadian gempa dan tsunami, saya sempat terseret air laut dan badan saya penuh luka dab babak belur. Bahkan baju saya sampai robek – robek, karena saya digulung air pada tsunami,” tuturnya.

Masih banyaknya penyintas yang belum mendapatkan hak – haknya, membuat dirinya tak bisa tidur nyenyak dan bersantai – santai. Dia sangat menyayangkan kinerja Pemerintah Kota Palu yang menurutnya tidak maksimal dalam menangani korban bencana yang berbeda di Huntara. Salah satu yang menjadi fokus kritiknya adalah masalah Jaminan Hidup (Jadub) tahap II yang dijanjikan sampai saat ini belum juga diberikan, santunan duka bagi korban meninggal dunia dan hunian tetap yang sampai saat ini masih berkutat di masalah pendataan.

“Mengenai bantuan tahap II saja belum ada, mana itu bantuan, masih banyak disini penyintas yang belum dapat dan membutuhkan itu bantuan,” serganya.

Dia sangat menyayangkan alasan pemerintah yang selalu menyebutkan bahwa data korban tidak valid.

“Adakah orang punya Kartu Tanda Penduduk (KTP) tidak punya Nomor Induk Kependudukan (NIK), adakah orang yang punya Kartu Keluarga tidak punya Nomor Induk Kependudukan (NIK) juga, itukan pernyataan gila,” kesalnya.

Dia benar – benar masih ingat pernyataan mantan Wakil Presiden Yusuf Kalla saat datang ke Palu. Dia mengaku mendengar langsung penyampaian dari Yusuf Kalla yang menyampaikan bahwa bantuan untuk korban bencana jangan dipersulit.

“Saya belum tuli, bapak Yusuf Kalla bilang jangan dikasih sulit – sulit bantuan korban yang terdampak tsunami dan likuifaksi. Jika perlu diberikan keringanan seperti rumahnya rusak berat, rusak sedang dan rusak ringan,” katanya.

Bahkan kata Sri Tini Haris, Presiden Jokowi mengatakan beberapa bulan yang lalu saat datang ke Palu, bantuan kepada korban bencana harus segera diberikan.

“Kasih saja bantuan bagi korban terdampak gempa, tsunami dan likuifaksi, kenapa mau repot – repot, yang mana tidak mau pindah kasih saja uangnya,” katanya.

“Buktinya sekarang, mana itu bantuan. Ini uang ada di Bank BPD sekitar Rp700 miliar, kenapa dikasih mengendap disitu. Mau dikasih ba bunga. Uang 100 juta saja,
bunganya itu dalam pertiga bulan kalau kita deposito itu Rp1 juta lebih, karena itu tergantung naik turunnya kurs dari faluta asing. Saya ini ibu rumah tangga, jangan dikira bodo,” keluhnya.

Dirinya mengaku tidak pernah menanyakan gaji pemerintah berapa, tapi yang ia pertanyakan mana uang sumbangan luar negeri yang nilainya begitu fantastis datang ke Kota Palu.

“Saudara – saudara saya pada dasarnya susah kehidupannya, kenapa tidak dibayarkan santunan duka. Ada itu Ibu Nani, sudah jadi pengemis di lampu merah karampe sambil bembeng anaknya. Anaknya itu kembar, tapi sudah meninggal yang satu, mana itu santunan duka untuk dia,” sebutnya.

“Mana juga itu Jadub belum ada kejelasan. Yang saya heran, orang yang keluar depe santunan hidup orang yang berkemampuan hidupnya. Kenapa orang yang susah kamu injak, saya akan tetap memberontak,” tegasnya.

Di mata Kordinator Sulteng Bergerak, Adriansa Manu, Sri Tini Haris adalah sosok perempuan yang tangguh ditengah pramagtisme aktivis.

“Sri Tini Haris hadir memberi semangat dan teladan bagi saya agar terus konsisten memperjuangkan hak warga negara dan ketidak adilan dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana di Sulawesi Tengah,” katanya.

Menurutnya, Sri Tini Haris adalah inspirasi baginya. Perjuangan kemanusiaan tidak boleh takut, tidak boleh tunduk pada penguasa dan tidak boleh membedakan latar belakang suku, agama dan ras. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *