Sinergi Bersama UNTAD, BRIDA Provinsi Sulteng Gelar Seminar Awal Riset Investasi dan Kemiskinan

oleh -
Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Sulawesi Tengah bekerjasama dengan Universitas Tadulako (UNTAD), gelar seminar awal riset investasi dan kemiskinan di Sulawesi Tengah pada kajian makro ekonomi. Bertempat di Aula Nagaya BRIDA. Selasa (19/3/2024). FOTO : BRIDA SULTENG

PALU, SULTENGNEWS.COM – Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Sulawesi Tengah bekerjasama dengan Universitas Tadulako (UNTAD), gelar seminar awal riset investasi dan kemiskinan di Sulawesi Tengah pada kajian makro ekonomi. Bertempat di Aula Nagaya BRIDA. Selasa (19/3/2024).

Turut hadir dalam seminar tersebut Sekretaris BRIDA Provinsi Sulawesi Tengah, Agustin Tobondo, beserta jajaran, narasumber yang juga ketua tim peneliti dalam riset tersebut, dan juga beberapa perwakilan perangkat daerah terkait seperti Dinas Sosial Prov. Sulteng, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, serta Dinas Pendidikan Prov. Sulteng.

Dalam materi pada seminar tersebut, Dr. Haerul Anam SE. M.Si, selaku ketua tim riset menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah secara q-to-q tumbuh 1,59 persen, sedangkan secara year on year tumbuh 9,73 persen. Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Tengah tahun 2023 di banding tahun 2022 tumbuh sebesar 11,9 persen. Berbicara terkait investasi, pada tahun 2023 mencatatkan realisasi investasi total dari pelaku usaha non UMK/Rencana Investasi di atas lima milyar rupiah, baik penanaman modal asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).

Realisasi Inverstasi ini, naik sebesar 0,72 persen dari realisasi tahun sebelumnya. Sedang jumlah penduduk miskin di Sulawesi Tengah pada Tahun 2021 sebesar 404,44 jiwa , tahun 2022 sebesar 388,36 Jiwa lalu Tahun 2023 sebesar 395,66 Jiwa. Dalam penelitian ini, terdapat tiga kategori kemiskinan yang nantinya akan dilihat seperti kelompok yang paling miskin (destitute) atau yang sering didefinisikan sebagai fakir miskin, Kelompok miskin (poor). Kelompok ini memiliki pendapatan di bawah garis kemiskinan namun secara relatif memiliki akses terhadap pelayanan sosial dasar, dan Kelompok rentan (vunerable grup). Kelompok ini dapat dikategorikan bebas dari kemiskinan.

Dalam metode riset tersebut menggunakan data panel yang berupa gabungan data time series selama delapan tahun yaitu dari tahun 2015 sampai dengan 2022, serta data Cross Section dari tiga belas kabupaten/kota. Hal ini dilakukan guna membandingkan dampak PMA dan PMDN untuk masing-masing kabupaten/kota yang kemungkinan karakterisitik ekonomi dan sosial budayanya yang juga berbeda. Dari pemaparan materi tersebut kemudian dilanjutkan dengan diskusi, yang mana setiap perangkat daerah memberikan masukan guna kesempurnaan pada riset tersebut. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.