Save the Children Ajak Media Dukung Gerakan Menyusui Saat Bencana

oleh -

Kegiatan work shop yang dilaksanakan Save the Children atau Yayasan Sayangi Tunas Cilik (YSTC) di salah satu hotel di Kota Palu, Selasa (6/8/2019). FOTO : MAHFUL/SN

PALU, SULTENGNEWS.com – Save the Children atau Yayasan Sayangi Tunas Cilik (YSTC) mengajak media untuk mendukung gerakan menyusui, saat dalam situasi bencana agar anak mendapatkan asupan gizi yang memadai.

“Kegiatan yang kami lakukan saat ini, merupakan rangkaian dari peringatan pekan ASI sedunia yang telah dilaksanakan pada tanggal 4 Agustus 2019,” ujar Manager Komunikasi dan Advokasi Save the Children atau YSTC, Dewi Sari Sumana dalam work shop di salah satu hotel di Palu, Selasa (6/8/2019).

Menurut Dewi Sari Sumana, pemenuhan ASI Eksklusif kepada bayi bukan hanya menjadi tugas ibu semata, tapi perlu juga mendapatkan dukungan dari seorang ayah. Termasuk peran para jurnalis dalam mengangkat isu pentingnya ASI bagi anak, sehingga menjadi perhatian semua pihak.

“Tujuan kami mengundang bapak dan ibu para jurnalis mengikuti kegiatan ini, agar terpapar isu-isu kesehatan dan nutrisi untuk kesuksesan ibu menyusui,” ujar Dewi Sari Sumana.

Dalam kesempatan itu, Dewi Sari Sumana menyampaikan bahwa Save the Children merupakan organisasi yang konsen menangani pemenuhan ibu menyusui dan pemberian nutrisi untuk kesehatan anak.

Save the Children pada awal didirikan tahun 1919 oleh Eglantyne Jebb bertujuan untuk membantu anak-anak korban perang. Pada tahun 1923, pendiri Save the Children mencetuskan draft Konvensi Hak-Hak Anak dan diadopsi oleh lembaga PBB yang kini dikenal UNCRC (United Nation Convention on the Rights of the Child).

“Nah di Indonesia terdaftar sebagai lembaga nasional dengan nama Yayasan Sayangi Tunas Cilik untuk dapat membantu anak-anak terutama mereka yang sulit terjangkau bahkan terlupakan,” jelasnya.

Menurut Dewi, Save the Children sudah ada di Indonesia sejak tahun 1976. Namun baru terdaftar sebagai lembaga nasional atas nama Yayasan Sayangi Tunas Cilik pada tahun 2014 dan telah hadir di 12 provinsi termasuk Sulteng dan 79 Kabupaten/Kota.

“Selama kuran waktu dari tahun 1976 sampai tahun 2019 ini, kurang lebih 800.000 anak telah menerima manfaat secara langsung melalui program kesehatan dan nutrisi, pendidikan, tanggap darurat dan pengurangan resiko bencana serta tata kelola pemenuhan hak-hak anak,” urainya.

Di Sulteng lanjut Dewi, Save the Children atau YSTC sudah hadir satu bulan setelah bencana 28 September atau tepatnya pada Oktober 2018.

Selama berada di Sulteng, Save the Children fokus pada program pendidikan dan upaya pengurangan resiko bencana berbasis sekolah, perlindungan anak dan pelacakan keluarga serta reunifikasi, distribusi bantuan non pangan, shelter dan infrastruktur, air, sanitasi dan kebersihan, kesehatan dan nutrisi serta kesehatan pangan dan kesejahteraan.

“Tujuan kami, mencapai perubahan langsung dan berkelanjutan untuk kehidupan anak-anak yang terkena dampak gempa dan tsunami serta keluarga mereka melalui bantuan kemanusiaan yang cepat dan tepat. Anak dan keluarga juga dapat mengakses layanan dasar dan berpartisipasi aktif dalam pemulihan mereka sendiri,” jelasnya. FUL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *