Rusdy Mastura: Mitigasi Bencana dan Bahaya Narkoba Harus Jadi Mata Pelajaran Sekolah

oleh -
Calon Gubernur Sulteng, Rusdy Mastura. FOTO : IST

PALU, SULTENGNEWS.COM – Dalam debat kandidat kedua yang sudah berlangsung Sabtu (14/11/20), Rusdy Mastura Calon Gubernur nomor urut 2 soroti lebih dalam persoalan pendidikan, dengan mengagas program mitigasi bencana dan bahaya narkoba sebagai mata pelajaran dan masuk kurikulum pendidikan di sekolah Sulawesi Tengah.

Dirinya berkomitmen dari pengalamannya mengikuti seminar di Mumbai, dan melihat kondisi Sulawesi Tengah sebagai daerah rawan bencana dan tingginya penyalahgunaan narkoba di Sulawesi Tengah. Menurutnya ide briliant dan sederhana ini untuk kebermanfaatan masyarakat Sulawesi Tengah dalam jangka panjang.

“Pendidikan kebencanaan, sebenarnya kita harus tanggap terhadap bencana itu, bagaimana masyarakat harus tau kita itu berada diatas daerah rawan bencana. Di dunia, katanya, ada tiga ibukota dilalui sesar aktif, yakni Palu (Sulteng), Wellington (New Zealand), dan San Franscisco (California),” Jelas Rusdy

Pengalamannya seminar di mumbai, Rusdy Mastura pernah bawa bahan tentang management disaster kota Palu. Dan dirinya ingat pernah dibuat buku dokumen kontingensinya, yang dengan harapan bisa diajarkan pada anak sekolah.

“Sampai sekarang tidak ada, dan tidak ada pemimpin yang siap. Padahal dulu kita sudah ada kerjasama dengan Universitas Tadulako, namun tidak ada yang melanjutkan. Kita harus jadikan ini sebagai kenyataan, bukan hanya jadi pepesan kosong. Kedepan harus menjadi mata pelajaran sekolah, selain bahaya narkoba, mitigasi juga harus masuk kurikulum atau mata pelajaran disekolah. Karena kita hidup diatas sesar Palu Koro,” jelas dan Tegas Rusdy

Selain itu Rusdy Mastura dan Ma’mun Amir akan menggratiskan biaya pendidikan anak sekolah SMA/SMK. Karena pada dasarnya ada Peraturan Gubernur (PERGUB) No. 10 Tahun 2017 Tentang Pungutan dan Sumbangan
Biaya Pendidikan pada Sekolah Menengah Atas, Menengah Kejuruan, dan Sekolah Luar Biasa. (Ditetapkan dan Berlaku tanggal 14 Maret 2017)

“Apalagi tingkat SMA saya sangat menyesalkan, yang tadinya dikota semua free dan dikampung-kampung free, di Buol free. Sekarang menjadi beban orang tua, karena pemerintah provinsi tidak mampu membiayai. Anggaran harus kita tingkatkan 20%, sehingga perencanaan tentang pendidikan kita kedepan mau apa dan anak yang putus sekolah tidak ada lagi, karena gratis,” jelas Rusdy

Rusdy Mastura menceritakan pengalaman dirinya ketika menjabat sebagai walikota, masyarakat di Layama, Palu. Dirinya pernah dorong untuk sekolah, dengan memberikan pakian seragam untuk motivasi awal sekolah biar mau sekolah karena dulu orang digunung setengah mati mau sekolah.

“Kita harus kembali pada zaman dahulu anak sekolah bisa dapat bubur kacang hijau, dapat susu. Sehingga bisa menjadi semangat, menambah gizi, dan mencerdaskan anak didik. Banyak masalah yang harus kita selesaikan, semua belum selesai sehingga dibutuhkan pemimpin yang serius menyelesaikan,” tutup Rusdy. RED

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *