Radikalisme dan Terorisme, Musuh Bersama Umat Manusia

oleh -

Para narasumber yang hadir dalam seminar yang diselenggarakan DPD HPA Kota Palu, Sabtu (26/10/2019). FOTO : ZAENAL/SN

PALU, SULTENGNEWS.com – Radikalisme dan Terorisme adalah musuh bersama umat manusia, sebab memunculkan rasa takut kepada masyarakat dengan cara meneror.



Demikianlah penegasan yang disampaikan ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, Prof.Dr. Zainal Abidin, MA saat menjadi salah satu narasumber pada seminar yang diselenggarakan Himpunan Pemuda Alkhairaat (HPA) Kota Palu, Sabtu (26/10/2019).

Seminar yang diselenggarakan DPD HPA Kota Palu ini, mengangkat tema “Peran pemuda dalam mencegah radikalisme dan terorisme di Sulawesi Tengah melalui empat pilar kebangsaan (Pancasila, UUD 1945, NKRI, bineka tunggal ika)”.

Prof Zainal Abidin dalam seminar itu menyampaikan, saat ini kelompok radikalisme dan terorisme terus berupaya menyebarkan fahamnya dikalangan masyarakat, salah satunya dengan memberikan pemahaman mempersoalkan bendera agama islam.

Untuk itu kata mantan Rektor IAIN Palu ini, salah satu cara untuk menangkal paham radikalisme adalah dengan menumbuhkan rasa tolerasi diantara umat beragama dan sesama umat manusia berdasarkan empat pilar kebangsaan yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bineka Tunggal Ika.

“Pertentangan persoalan bendera tauhid, merupakan perbedaan pendapat sebab di zaman nabi bendera tauhid tidak memiliki baris itu satu pendapat dan yang memiliki baris itu juga satu pendapat. Nah disini lah sikap toleransi melihat sesuatu pada tempatnya. Silakan berpendapat, tetapi hargai juga pendapat orang lain itu lah yang diperlukan dalam toleransi,” tutur Prof. Zainal abidin M.Ag. saat mengisi materi Sabtu (26/10)

Prof Zainal Abidin mengatakan, semua pihak harus adil dan berjiwa besar dalam melihat perbedaan dan tidak perlu menjadi benar dengan menyalahkan orang lain. Inilah prinsip yang harus terus dikembangkan dikalangan masyarakat.

“Selama ini, umat islam sepertinya selalu disudutkan. Jadi itu dipahami secara positif, tentu kita harus memperbaiki cara berpikir dalam bertindak sebagaimana yang dicontohkan oleh nabi. Sebelum belajar agama, sebaiknya terlebih dahulu belajar menjadi manusia,” katanya.

Guru besar IAIN Palu ini menambahkan, untuk kalimat tauhid yang sangat duagungkan umat Islam seperti kalimat “Allahu Akbar” jangan mengucapkannya pada sembarang tempat, kecuali dalam kondisi berbahaya.

“Karena itu, memahami sesuatu apalagi ini urusan pemahaman agama, harus benar-benar dari sumber yang tepat. Jangan melalui sumber-sumber yang tidak bertanggung jawab,” tegasnya.



Poin lain untuk menangkal radikalisme adalah terus mengkampanyekan pentingnya menjaga persatuan sebagai sesama warga negara Indonesia.

Setelah semua pembicara menyampaikan materi, serta ide-ide dan gagasannya, seminar itu akhirnya ditutup sekitar pukul 12.00 Wita. NAL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *