Proyek BWSS III Rp18,8 M, Diduga Dikerjakan Asal – Asalan

oleh -

PARIGI, SULTENGNEWS.com – Proyek Peningkatan Jaringan Tata Air Tambak Rakyat milik Balai Wilayah Sungai Sulawesi Sulawesi Tengah  (BWSS III Sulteng) senilai Rp18,8 miliar diduga dikerjakan asal-asalan. PT Balusu Prima selaku rekanan disebut menggunakan air asin (air garam) saat proses pekerjaan konstruksi. Bahkan, para petani tambak di area kegiatan mengatakan, pihak rekanan menggunakan ember lumpur excavator (Ditch Cleaning Bucket) saat mencampur material bahan cor pada pembetonan jembatan.

“Kalau siang hari, mereka (PT Balusu Prima) menggunakan mesin molen beton. Namun, saat malam hari tiba, kontraktor pelaksana menggunakan ember excavator untuk membuat campuran semen untuk keperluan pembuatan jembatan”, kata Nirwan, perwakilan petani tambak Taopa, Parimo, baru-baru ini.

Pemanfaatan ember lumpur excavator dalam proses mencampur bahan cor, duga Nirwan, disebabkan pihak pelaksana dikejar oleh batas waktu dalam kontrak dangan pihak BWSS III Sulteng.

Proyek peningkatan jaringan tata air tambak rakyat kepunyaan BWSS III Sulteng juga pernah disebut
menggunakan air asin pada proses pekerjaan konstruksi.

Padahal, tindakan tersebut sangat tidak dibenarkan, dan melanggar undang-undang jasa konstruksi. Sebab, sifat air asin tidak akan dapat menyatu dengan bahan semen. Sehingga, dapat dipastikan kondisi proyek ini tidak akan bertahan lama, karena kualitas pekerjaan tidak menjamin termasuk masa ketahanannya.

Portal berita jurnalsulteng  melansir bahwa proyek tambak rakyat dimenangi PT Balusu Prima, pada proses lelang, membuang 25 persen dari Pagu anggaran, yaitu Rp25 miliar, sehingga nilai penawaran perusahaan asal Kendari itu adalah sekira Rp18, 8 miliar lebih.

Sebelumnya koranindigo melansir soal amburadul proyek peningkatan jaringan tata air tambak rakyat di Parimo senilai Rp18,8 miliar milik Balai Wilayah Sungai Sulawesi III Sulawesi Tengah (BWSS III Sulteng).

Bengkalai proyek dikerjakan PT Balusu Prima ini, membuat puluhan hektar tambak menjadi rusak, sehingga menyebabkan para petani tidak dapat memanfaatkan tambaknya. Para petani menyatakan pihak PT Balusu Prima dan BWSS III Sulteng tidak menepati janji terkait kegiatan dilakukan pada lahan-lahan petani Taopa, Parimo.

Kepala BWSS III Sulteng, Yusuf Tambing enggan melontar tanggapannya terkait proyek diduga sarat korupsi itu. Yusuf Tambing, tidak bersedia mengangkat telepon genggamnya. Konfirmasi via pesan singkat, juga tak dihiraukan oleh orang nomor satu di BWSS III Sulteng ini.

Sumber : koranindigo.online 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *