Prof Khairil : Jadikan Bulan Ramadhan Meniti Jalan Menuju Langit

oleh -
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Tadulako, Prof.Dr. Muhammad Khairil, M.Si. FOTO : MIFTAHUL AFDAL

PALU, SULTENGNEWS.COM – Bulan Ramadan bagi Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip), Universitas Tadulako (Untad) Palu, Prof.Dr. Muhammad Khairil, M.Si merupakan ibadah kejujuran.

“Salah satunya ibadah kita dan hanya Tuhan yang banyak tahu ada puasa. Orang tidak akan tahu kalau kita minum atau sembunyi-sembunyi makan, karena hanya kita dan Tuhan yang tahu,”ucap Prof. Muhammad Khairil saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (20/04/2021).

Dosen Prodi Komunikasi, Fisip, Untad Palu itu menerangkan, implikasinya adalah sensitivitas sosial terhadap sesama. Kata dia, hal seperti ini manusiawi, melihat orang-orang yang juga butuh untuk dapat disantuni, karena di Bulan Ramadhan dianjurkan bagi siapa saja untuk berbagi kepada sesama.

“Berbagi takjil, buka puasa bersama dan berbagai ragam ibadah sosial lainnya,”terangnya.

Di Bulan Ramadhan ini, menurut Prof. Muhammad Khairil, lebih kepada kepekaan terhadap sesama ketika berpuasa. Karena, di bulan puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga juga menahan hati dan jernihnya pikiran untuk tidak berburuk sangka atau menceritakan aib orang lain. Inilah yang berat, baginya. Sebab, banyak orang yang berpuasa, tapi hanya secara fisik saja.

Karena, kata dia, Hati dan pikiran lepas. Padahal, hati dan fisik harus bersinergi, Prof. Muhammad Khairil menjelaskan, fisik itu hanya simbol lahiriyah, tapi lebih dari itu ada nilai-nilai ilahiyah atau nilai-nilai ketuhanan yang harusnya menjelma dalam proses pelaksanaan keagamaan.

“Ilmu langit itu tidak memiliki makna, kalau dia tidak membumi, sebaliknya amalan-amalan bumi kita pun akan menjadi hambar ketika kemudian tidak berorientasi langit,”jelasnya.

Bahkan, Alumni Komunikasi Dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Angkatan 2001 itu, memiliki satu tulisan berjudul Ramadan Meniti Jalan Menuju Langit, Hal itu, kata dia, sebagai persembahan, bagaimana umat Islam memaknai dan tidak terjebak serta tidak terlalu asyik ibadah mahdhah saja seperti sering ke masjid melaksanakan tarwih dan segala macam.

Namun, menurut Prof. Muhammad Khairil, sensitifitas pula hilang, misalnya, tetangga terabaikan hubungan sosial menjadi rusak, sahabat kemudian menjadi musuh. Sehingga, nilai ibadah seolah-olah tidak memberikan efek bumi.

“Kita mengucapkan Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh dengan arti keselamatan bagi dia dan diri kita, tapi kemudian keselamatan tidak kita lakukan. Jadi, ayo, kita tidak hanya melangit tapi juga membumi. Ramadan ini tidak hanya memiliki nilai-nilai bumi tapi orientasi kita menuju langit itulah jalan-jalan yang kita lakukan,”tandasnya. DAL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *