Pro Kontra Survei Pilgub Sulteng, Pengamat Politik : Jika Ragu Sandingkan Data Pembanding Survei

oleh -
Pengamat Politik Universitas Tadulako, Dr. Slamet Riayadi Cante. FOTO : ALSIH MARSELINA

PALU, SULTENGNEWS.COM – Hasil survei perta kekuatan Calon Gubernur Sulteng yang dirilis lembaga survei Poltracking Indonesia, menimbulkan pro kontra karena adanya kesalahan input angka saat dipresentasikan dihadapan media pada Senin (2/11/2020). Kesalahan input angka itu lalu menadi ramai dibicarakan masyarakat termasuk tim sukses pasangan calon Gubernur.

Pada penginputan pertama yang ditampilkan di layar infocus tertera Pasangan Rusdy Mastura – Ma’mun Amir mendapatkan angka 56,8 persen, sementara pasangan Hidayat – Bartho 25,0 persen. Merahasiakan jawaban 7,5 persen dan belum punya pilihan 12,7 persen. Sehingga jika di total 56,8 + 25,0 + 7,5 + 12,7 menjadi 102 persen atau lebih dari 100 persen.

Namun beberapa saat setelah tayang di media, pihak Poltracking Indonesia mengirim data perbaikan menjadi Pasangan Rusdy Mastura – Ma’mun Amir 56,8 persen, Pasangan Hidayat – Bartho 25,0 persen, merahasiakan 5,5 persen, belum menentukan pilihan 12,7 persen. Sehingga jika ditotal 56,8 + 25,0 + 5,5 + 12,8 menjadi 100 persen.

Menanggapi pro kontrak hasil survei itu, pengamat politik Sulawesi Tengah (Sulteng), Dr. Slamet Riyadi Cante menyebut jika ada yang ragu terhadap survei dari Poltracking Indonesia, boleh juga menghadirkan hasil survei dari lembaga lain lalu disandingkan mana hasil survei yang kuat dan benar.

“Saya kira perlu ada pembanding untuk menunjukkan keraguan terhadap survei dari Poltracking. Harus ada lembaga survei berskala nasional seperti LSI atau PolMark,”ujar Slamet Riyadi Cante saat dihubungi sultengnews, Rabu (04/11/2020).

Dikatakan, jika ada beberapa kalangan yang tidak meyakini dengan survei yang dilakukan Poltracking Indonesia, bisa saja mengambil lembaga survei lain sebagai data pembanding.

“Daripada berdebat, maka sandingkan saja data pembanding. Yang pasti, lembaga survei yang memiliki akreditas pasti tidak ingin di intervensi oleh pihak manapun,” ungkapnya.

Menurut Slamet, Poltracking Indonesia yang di nahkodai Hanta Yudha merupakan salah satu lembaga survei yang terakreditasi, karena Poltracking termasuk dalam team survei Calon Presiden (Capres).

“Saya tidak berani mengatakan bagus atau seperti apa, tapi patut diyakini Poltracking merupakan lembaga yang independen. Karena margin errornya hanya 2,8 persen, kalau pun ada perdebatan itu wajar saja karena memang politik dinamis,”sebutnya.

Slamet menerangkan, dalam politik itu lumrah apabila masing-masing kandidat di survei untuk dimintai jajak pendapat langsung dari masyarakat.

Disampaikan, memang sepengetahuan dirinya, lembaga survei yang memiliki akreditas pasti akan mempertaruhkan nama lembaga survei mereka dan tidak ingin di intervensi salah satu Paslon.

“Lembaga survei yang memiliki kredibilitas yang baik tentunya dituntut agar dapat mempertanggungjawabkan hasilnya secara ilmiah,”terangnya.

“Pada proses Pilkada Sulteng tahun 2020 yang sangat dinamis, masing-masing Paslon harus menyiapkan strateginya untuk meningkatkan elektabilitas,”tandasnya. DAL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *