Polda Sulteng Ungkap Modus Praktek Prostitusi Online di Bawah Umur

oleh -
Konferensi pers Polda Sulteng terkait pengungkapan prostitusi online dibawah umur. FOTO : BIDHUMAS Polda Sulteng

PALU, SULTENGNEWS.COM – Ditreskrimum Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tengah (Sulteng) berhasil mengungkap praktek prostitusi online yang melibatkan anak dibawah umur yang terjadi di home stay Jalan Basuki Rahmat dan Jalan Anoa Palu, Jumat (26/3/2021) malam.

Sebanyak 22 orang remaja diamankan dari kedua home stay oleh Subdit  IV Ditreskrimum Polda Sulteng yang dipimpin langsung Kombes Polisi Novia Jaya, SH, MM Dirreskrimum Polda Sulteng.

“Hasil penyidikan praktek prostitusi diketahui telah melibatkan anak dibawah umur sebagai korban dan pelaku tindak pidana. Dari hasil pengungkapan itu empat orang ditetapkan tersangka dua diantaranya masih dibawah umur, tujuh berstatus korban empat diantaranya juga dibawah umur,”ujar Dirreskrimum Polda Sulteng Kombes Polisi Novia Jaya didampingi Kabidhumas Polda Sulteng dalam pelaksanaan Konferensi Pers di Polda Sulteng, Selasa (30/3/2021).

Mantan Kapolres Parimo ini juga menjelaskan bahwa modus yang digunakan para pelaku adalah korban menerima Boking Order (BO) untuk pelayanan Jasa Prostitusi melalui Aplikasi Whatshap (WA) maupun Me Chat dengan tarif dari Rp. 300.000 S/d Rp. 1.500.000.

Kedua, kata dia, tersangka mencari pelanggan yang korbanya adalah anak-anak untuk Boking Order (BO) pelayanan seksual, ketika mereka sudah mendapatkan pelanggan dan terjadi transaksi yang bersangkutan mendapat upah berupa uang dengan jumlah bervariasi yang telah ditentukan.

“Dari hasil pelayanan Jasa Seksual masing-masing korban memberikan Tips kepada mucikarinya mulai dari Rp. 50.000 s/d Rp. 500.000,”ucapnya.

Novia Jaya menerangkan, korban terpaksa melakukan prostitusi dikarenakan  terhimpit permasalahan ekonomi, kurang perhatian orang dan ada masalah di keluarganya.

Hasil penyidikan, penyidik menetapkan WS (22 th), HG (26 th), VR (17 th) dan MR (17 th) sebagai tersangka, WS dan HG langsung ditahan, sementara VR dan MR tidak dilakukan penahanan karena dibawah umur.

Tersangka diduga melakukan praktek protitusi atau tindak pidana exploitasi terhadap Anak secara ekonomi dan seksual dan menjadi mucikari, sehingga di jerat Pasal 88 Jo pasal 76 huruf (i) UU N0 35 Tahun 2014 Tentang perubahan kedua atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak dan atau Pasal 296 KUHPidana, diancam dengan pidana penjara maksimal 10 tahun dan denda paling banyak Rp 200 Juta, tutup Dirreskrimum Polda Sulteng ini. DAL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *