PKBI – YSTC Sosialisasi Program Kepada 15 Kepala Sekolah Dampingan

oleh -
Kepala Disdikbud Kota Palu Drs. Ansyar Sutiadi, M.Si didampingi Program Manager PKBI – YSTC Fajar Joko Santoso dan Officer Education PKBI – YSTC Mahful Haruna saat sosialisasi program sektor Education kepada 15 Kepala Sekolah dampingan untuk program tahun 2021 ini. FOTO : DOKUMEN PKBI – YSTC

PALU, SULTENGEWS.COM – Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Sulteng yang bermitra dengan Yayasan Sayangi Tunas Cilik (YSTC) atau Save the Children, melakukan sosialisasi program kepada 15 Kepala Sekolah yang telah dipilih sebagai sekolah dampingan untuk 10 bulan kedepan bertempat di Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Palu, Kamis (25/2/2020).

Sosialisasi itu, dibuka langsung Kepala Disdikbud Kota Palu Drs. Ansyar Sutiadi, M.Si dan dihadiri 15 Kepala Sekolah bersama ketua komite sekolah masing – masing.

Drs. Ansyar Sutiadi, M.Si dalam sambutannya menjelaskan, ada empat pilar pendidikan yang telah dia tetapkan saat dirinya menjadi Kepala Disdikbud Kota Palu.

Empat pilar itu yakni; Pertama, Peningkatan Kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Dua, Pemerataan Sarana dan Prasarana Pendidikan. Tiga, Implementasi Kurikulum Tematik Terintegrasi Dengan Visi – Misi Pemerintah Kota Palu. Empat, Meningkatkan Sinergitas dan Peran Pemangku Kepentingan Dalam Mengakselerasi Peningkatan Mutu Pendidikan di Kota Palu.

“Empat pilar pendidikan di Kota Palu itu, saya kaji dan rumuskan saat saya menjadi Kepala Dinas Pendidikan Kota Palu. Keempat pilar itu, jika benar – benar dilaksanakan dengan baik, maka saya yakin mutu pendidikan di Kota Palu akan maju dan berkualitas,” papar Ansyar Sutiadi.

Mantan Camat Palu Barat ini, menyambut dengan baik program pendampingan 15 sekolah yang dilakukan PKBI – YSTC selama 10 bulan kedepan.

“Saya benar – benar merasakan peran dari NGO utamanya YSTC dalam mempercepat proses pendidikan di Kota Palu, sehingga kita berkolaborasi dan bersinergi. Setiap orang yang datang ke Kota Palu, saya selalu menyampaikan bahwa aktivitas pendidikan di Kota Palu cepat dan dapat berjalan,” katanya.

Ansyar menjelaskan, saat terjadinya bencana 28 September 2018, secara sarana dan prasarana memang banyak sekolah yang rusak, tapi secara SDM masih tetap terjaga karena banyak NGO yang mendampingi dan yang paling intens ke sekolah adalah YSTC.

Sebagai salah satu dari beberapa kota yang terkena bencana, Kota Palu sudah memiliki kurikulum mitigasi bencana yang berbasis kearifan lokal. Kurikulum ini terintegrasikan dengan kurikulum formal yang ada, sehingga setiap pembelajaran tematik diselipkan masalah mitigasi bencana. Sebab kemampuan terkait mitigasi bencana harus dilakukan, karena Kota Palu adalah daerah yang rawan bencana terutama gempa bumi, tsunami dan likuifaksi.

“Maka kemampuan mitigasi bencana ini, harus ditanamkan kepada seluruh masyarakat Kota Palu, khususnya dilingkup pendidikan. Kita sangat bersukur saat bencana 28 september itu bukan diwaktu sekolah. Bayangkan kalau itu diwaktu sekolah, sementara kemampuan kita saat itu sangat minim dengan mitigasi bencana. Saya sendiri merasakan langsung dampak dari minimnya kemampuan mitigasi bencana itu,” terangnya.

Menurut Ansyar, kemampuan mitigasi bencana ini, menjadi hal yang utama di sekolah. Sehingga semua sekolah dan guru, harus menerapkan itu. Bahkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Palu sudah membuat bukunya, serta kompetensi dasar untuk mengukur keberhasilannya.

“Kita juga sudah punya dokumen Pengurangan Resiko Bencana di 100 sekolah lebih. Kita juga sudah pernah mensimulasikan bagaimana dokumen PRB itu,” katanya.

Namun lanjutnya, belum selesai semua dilakukan simulasi sudah muncul lagi bencana non alam yaitu Covid-19, sehingga simulasi bencana tidak dapat dilaksanakan secara efektif. Bencana non alam ini kata Anyar Sutiadi, lebih terasa dari pada bencana alam. Waktu bencana alam tiga bulan sudah bisa sekolah, karena banyak NGO dari luar yang datang membantu, begitu juga daerah lainnya.

Tapi bencana non alam berupa Covid-19, tidak ada yang saling membantu, karena semua negara dan daerah mengurus dirinya masing – masing.

Kepala Disdikbud Kota ini menjelaskan, pendidikan dimasa pandemi ini berbasis pendidikan jarak jauh yakni belajar dari rumah berbasis online. Proses pembelajaran tatap muka, sudah dihentikan selama tiga semester atau sudah satu tahun lebih yakni semester ganjil, semester genap dan kini semester ganjil lagi. Yang paling ironis itu katanya, anak kelas satu yang baru lulus dari PAUD banyak yang belum ketemu temannya dan belum ketemu gurunya, sudah mau naik kelas dua tahun ini.

Yang lebih mengerikan lagi, mereka sudah tertinggal. Sebab tidak mendapatkan kompetensi dasar, guru – guru, kepala sekolah dan pengawas lebiha tahu hal itu.

“Saya buktikan kepada anak saya sendiri yang baru tamat PAUD ke SD. Saya sudah masukkan ke SD akreditasi A. Tapi sampai saat ini, seharusnya kompetensi dasarnya bisa menyanyikan lagu indonesia raya yang dalam kurikulum bisa dicapai dalam tiga kali, empat kali atau lima kali tatap muka. Tapi sudah mau naik kelas dua dia, sudah mau habis ini semester ganjil dan genap tidak dapat – dapat kasian anak ku itu menyayikan lagu indonesia raya. Artinya kita sudah tertinggal ini. Belum kita bicara anak – anak membaca dan menghitung, maka kita bicara pendidikan berkualitas ini adalah kerja berat,” paparnya.

Olehnya, Ansyar berharap dari PKBI – YSTC selaku pendamping agar perjelas dulu apa yang dimaksud dengan pendidikan berkualitas dimasa pandemi seperti apa.

“Sekarang rumuskan dulu, kualitas pendidikan dimasa pandemi ini seperti apa yang ingin dicapai. Karena saya, sampai hari ini tidak meyakini capaian kualitas pendidikan berbasis jarak jauh itu atau dari rumah,” imbuhnya.
“Saya jujur kepada masyarakat, kurikulum kita tidak tercapai. Hasilnya tidak efektif, kenapa..? karena ketika kita hentikan pembelajaran tatap muka pada Maret 2020 lalu, persoalan mendasar pembelajaran jarak jauh itu adalah hal yang sangat esensi dan sangat mendasar seperti kelemahan SDM. Masih banyak pendidik kita yang tidak mampu memanfaatkan teknologi informasi, artinya gaptek. Sedangkan basis pembelajaran jarak jauh itu adalah teknologi,” urainya.

Sementara ketersediaan sarana dan prasarana, masih banyak anak – anak dan guru yang tidak memiliki Hand Phone (HP) anroid, tidak memiliki lapton dan tidak memiliki komputer.

“Kalau kita ke Uventumbu di Kawatuna, tidak usah bilang HP atau Laptop, listrik saja tidak ada. Mau diapa, biar ada HP dan Laptop, karena tidak ada listrik tidak bisa berbuat apa – apa,” ujarnya.

Hari ini lanjutnya, guru hanya bisa memastikan anak – anak itu ada aktivitas belajar di rumahnya, di jam belajar harus dipastikan anak benar – benar belajar, dengan cara apa pun. Maka Dinas Pendidikan dan Kebudayaan mendorong metodologi belajar daring yang memiliki kelengkapan sarana. Yang tidak memiliki kelengkapan itu, maka dia dinuring atau ada guru kunjung. Tentu harus diawali dengan pendataan siapa – siapa murid yang tidak memiliki sarana berdasarkan kondisi ekonominya.

Kemendikbud terus membantu mendorong dengan memberikan faslitas menyiapkan semua pulsa bagi guru, tenaga kependidikan dan peserta didik. Tidak tanggung – tanggung, sebesar 7 Triliun dana yang digelontorkan khusus untuk beli pulsa. Macam – macam aplikasi pembelajaran yang diciptakan.

“Yang terakhir ada namanya akun pembelajaran yang berbasis Google Suite. Ini kalau kayak di hotel, sudah kamarnya presiden. Sudah diluncurkan, tapi masih banyak yang belum bisa karena kelemahan SDM.
“Saran saya keada PKBI dan YSTC, terkait kualitas itu penekanannya ke penguasaan teknologi informasi dan komunikasi,” pintanya.

Ansyar juga menjelaskan tiga klaster guru yakni klaster usia 50 – 60 tahun, klaster 40 – 50 tahun dan klaster 25 – 40 tahun. Perlakuannya berbeda – beda.

“Saya sangat mengapresiasi YSTC ini, karena dari merekalah lahir kurikulum mitigasi bencana berbasis kearifan lokal. Begitu juga terbitnya dokumen Pengurangan Resiko Bencana, juga dari sentuhan YSTC, sampai pada proses simulasinya. Saya sangat tahu betul brand nya, apalagi bermitra lagi dengan PKBI Sulteng yang juga memiliki brand lembaga lokal yang bagus,” ungkapnya.

“Setiap saya ketemu orang, saya sampaikan bahwa yang membuat kurikulum mitigasi bencana, dokumen PRB dan simulasi bencana adalah YSTC. Alhamdulilah dengan itu, saya merasa bangga karena berulang kali saya diundang ke daerah lain seperti di NTB, di Bandung, di Jakarta dan daerah lain kabupaten/kota datang belajar dengan kita. Padahal kita hanya dapat dari YSTC,” tandasnya.

Sementara Program Manager PKBI – YSTC, Fajar Joko Santoso memaparkan bahwa dalam waktu 10 bulan kedepan, ada enam program utama YSTC khususnya di sektor Education yakni; Pertama, Mendorong terciptanya lingkungan belajar yang sehat, aman dan nyaman bagi seluruh anak melalui penguatan hubungan antara masyarakat dan sekolah melalui peran aktif komite sekolah dan lembaga termasuk PATBM.

Kedua, Meningkatkan kapasitas guru dan tenaga kependidikan lainnya dalam upaya menigkatkan kualitas proses belajar mengajar melalui pelatihan dan pendampingan untuk menciptakan lingkungan belajar yang sehat, aman dan nyaman bagi semua anak.

Ketiga, Menciptakan upaya-upaya kreatif dan innovative untuk memaksimalkan efektifitas dan kualias proses belajar dari rumah yang mengakomodasi kebutuhan seluruh anak termasuk anak berkebutuhan khusus.

Empat, Mendorong upaya promosi Kesehatan lingkungan melalui sekolah dengan mendorong peran aktif anak dalam mengkampanyekan kebersihan lingkungan (hygiene promotion), kesehatan diri dan pemenuhan gizi yang seimbang bagi anak dan keluarga melalui kerjasama dengan institusi kesehatan di masyarakat.

Lima, Menggiatkan upaya untuk membangun kesadaran masyarakat dan seluruh anak mengenai Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) serta Sekolah Inklusif melalui kegiatan simulasi, sosialisasi, pemetaan dan pendataan serta langkah-langkah mitigasi yang diperlukan dalam menghadapi situasi darurat.

Enam, Penyelenggaraan kampanye kembali ke sekolah dengan aman dan sehat melalui kerjasama dengan stakeholder terkait untuk memastikan kesiapan anak, orang tua, masyarakat dan pemerintah di berbagai level saat sekolah dibuka kembali setelah masa pandemi.

“Target kita di sektor education ini yakni, memastikan semua siswa mendapatkan akses terhadap pendidikan yang berkualitas dan inklusif di masa pandemi,” tandasnya. FUL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *