Pihak Adhi Karya Sebut Proyek Tambatan Perahu Sudah Sesuai Spesifikasi dan Telah Disetujui Nelayan

oleh -
Project Manager PT. Adhi Karya (Persero) Tbk, Ir. Adi Sucipto yang ditemui di ruang kerjanya, Kamis (17/2/2022). FOTO :MAHFUL/SULTENGNEWS.COM

PALU,SULTENGNEWS.COM – Hasil peninjauan langsung Anggota DPRD Sulteng, Yahdi Basma terkait pembangunan tambatan perahu yang dinilai tak sesuai spesifikasi dan gambar, mendapat tanggapan dari pihak Adhi Karya selaku pelaksana proyak itu.

Project Manager PT. Adhi Karya (Persero) Tbk, Ir. Adi Sucipto yang ditemui di kantornya, Kamis (17/2/2022) kepada sultengnews.com mengatakan, apa yang dipersoalkan Anggota DPRD Sulteng Yahdi Basma yakni di titik empat Kampung Nelayan, sebenarnya sudah sesuai spesifikasi dan telah mendapat persetujuan dari para nelayan.

“Saya sudah melakukan klarifikasi dengan pak Yahdi Basma, saya tanya ke beliau apa yang tak sesuai spesifikasi dan gambar itu. Rupanya dia mempertanyakan, kenapa tambatan perahu tidak ada yang dibangun di Besusu dan saya sudah jelaskan alasannya,” ujar Adi Sucipto.

Inilah Peta Batimetri yang menunjukan bahwa di pesisir pantai Besusu sangat dalam dan ada tubir yang tidak memungkinkan dibangun Tambatan Perahu. FOTO : IST

Kepada Yahdi Basma, Adi Sucipto mengaku sudah memperlihatkan hasil Peta Batimetri yang menunjukan bahwa di wilayah pesisir Besusu, mulai dari muara sungai Palu sampai di muara sungai Pondo batas Kelurahan Besusu dan Kelurahan Talise tidak memungkinkan dibangun tambatan perahu karena ada tubir dan sangat dalam.

Adi Sucipto menjelaskan, kedalaman pesisir di Besusu itu paling dangkalnya kedalaman kurang lebih 14 mater, sehingga tidak mungkin dipaksakan dibangun tambatan perahu di lokasi itu.

“Kedalamannya ada yang 14 meter, 42 meter, 50 meter, 58 meter, 59 hingga 79 meter. Kalau kita paksakan turunkan batu di lokasi itu, maka semua batunya akan langsung tenggelam, makanya dipindahkan pembangunannya di lokasi pegaraman Talise dan telah mendapat persetujuan nelayan,” terang Adi Sucipto sembari memperlihatkan Peta Batimetri.

Terkait gambar, Adi Sucipto menjelaskan bahwa dari empat tambatan perahu yang dibuat memang berbeda gambaranya. Untuk di wilayah Silae dan Kelurahan Lere, model gambarnya sepertu huruf U dan ada pintu masuknya ditengah serta pintu keluarnya dikiri dan kanan.

Sementara untuk dua tambatan perahu di Keluarhan Talise, model gambarnya seperti huruf L dan pintuk keluar masuknya perahu dari arah selatan.

“Perbedaan gambar itu, disesuaikan dengan gelombong antara di Kelurahan Silae dan Lere, serta di Kelurahan Talise,” jelas Adi Sucipto sembari memberikan keterangan gelombang air laut melalui Peta Batimetri.

Adi Sucipto juga menjelaskan bahwa  Adhi Karya dibayar sesuai folume pekerjaan. Dari nilai Rp60 Miliar untuk 4 tambatan perahu dibayarkan sesuai dengan folume pekerjaan di masing – masing tambatan perahu.

Pria kelahiran Bima ini berharap, pengerjaan proyek tambatan perahu itu bisa selesai dikerjakan sesuai batas waktu kontraknya, sehingga bisa segera dimanfaatkan oleh para nelayan di empat kelurahan yakni Silae, Lere, Besusu dan Talise (Silabeta).

“Mohon dibantu pengawasannya di lapangan pak, agar pengerjaannya bisa selesai sesuai waktu kontraknya,” tandas Adi Sucipto.

Sebelumnya diberitakan, Anggota DPRD Sulteng Yahdi Basma melakukan peninjauan langsung empat proyek tambatan perahu di pesisir Silabeta dan menemukan satu titik khususnya di Kampung Nelayan dinilai janggal dan tak sesuai dengan spesifikasi dan gambar.

Menurut politisi Partai NasDem ini, proyek tambatan perahu ini inklud dalam kontrak PT. Adhi Karya sejumlah Rp314 Miliar.

Yahdi minilai tambatan perahu di Kampung Nelayan, modelnya penimbunan atau reklamasi tidak seperti tiga titik sebelumnya. Akibatnya, ruang untuk tambatan perahu mejadi sempit.

Dia berharap, hasil temuannya itu bisa menjadi perhatian serius dari pelaksana proyek tambatan perahu itu. FUL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.