Petugas Posko Covid-19 Perbatasan Tolitoli-Parigi Moutong Keluhkan Intensif Belum Tersalurkan

oleh -
Pemeriksaan suhu badan menggunakan termometer oleh petugas posko Covid-19 perbatasan Tolitoli-Parimo. FOTO : MIFTAHUL AFDAL

PARIMO, SULTENGNEWS.COM – Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) melalui Satgas Covid 19 Parigi Moutong telah mengelontorkan dana sekira Rp2,5 Miliar dari total Rp26 Miliar anggaran penangan dan pencegahan Covid 19 di utuk Parigi Moutong.

Menurut Sekretaris Satgas Covid 19 Parimo, Aziz Tombolotutu belum lama ini, anggaran sebesar Rp2,5 Miliar itu telah digunakan untuk membayarkan insentif petugas lapangan yang ada di 5 Posko Covid 19 di perbatasan dan 1 gedung isolasi balai latihan diklat.

Namun, menjelang lebaran Idul Fitri, salah satu petugas posko Covid-19 perbatasan Tolitoli-Parigi Moutong yang tidak ingin disebutkan namanya, mengeluhkan biaya intensif belum tersalurkan kepada dirinya. Seharusnya, dia sudah menerima intensif per 24 jam 250 yang dibayarkan setiap bulan.

“Sudah mau masuk bulan kedua kami bertugas, tapi belum ada insentif seperti yang disampaikan pak Aziz itu,” papar salah satu petugas posko Covid-19 kepada sultengnews.com, Senin, (18/05/2020).

Menurutnya, Posko perbatasan yang terletak di Kecamatan Mepanga itu telah aktif sejak 6 April sampai sekarang. Namun selama itu, dia belum menerima intensif.

“Ini sudah mau masuk bulan kedua,” keluhnya.

Camat Mepanga, Sodik Hamza selaku penanggung jawab posko perbatasan Tolitoli-Parimo yang dikonfirmasi mengakui bahwa petugas posko Covid-19 perbatasan sejauh ini belum menerima intensif.

“Untuk biaya intensif petugas di lapangan belum tersalurkan, tapi untuk makanan terus disediakan,” kata Camat Mepanga itu saat ditemui di posko Covid-19 perbatasan Tolitoli-Parimo.

“Keterlambatan itu ada pada kami. Dari adminitrasi lambat dan sekarang kita fokus di posko ini, masih dalam proses dan mudah-mudahan segera tersalurkan,” imbuhnya.

Sodik menyampaikan, petugas posko Covid-19 perbatasan Tolitoli-Parimo berjumlah 21 orang yang dari beberapa Kecamatan.

“Petugas saling melengkapi satu sama lain ada yang jaga siang dan jaga malam, jadi biaya intensif 250 dibagi dua,” ucapnya.

Meski berbeda pendapat soal awal beraktifitasnya para petugas lapangan di Posko, Sodik menegaskan aktifnya para petugas di perbatasan ini sejak 24 April lalu, bukan pada tanggal 6 April.

“Artinya baru hampir sebulan aktifnya, belum lewat sebulan,” terang Sodik.

“Awalnya posko bertempat di wilayah perbatasan Tolitoli-Parimo yang masuk ke jalan pasir putih. Namun dengan pertimbangan, kita mengamankan masyarakat perbatasan Tolitoli-Parimo tapi orang di Mepanga sendiri tidak terperiksa, sehingga posko dipindahkan tepat ditikungan arah masuk ke Kotaraya dan juga perbatasan,” tutupnya.

Namun jika dilihat dari gambar kunjungan Wakil Bupati Parimo ke Posko perbatasan di Mepanga, nampak jelas tercatat waktu dari kunjungan itu pada tanggal 14 April 2020. DAL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *