Pentingkah Asuransi Bencana Untuk Warga Indonesia

oleh -

Bencana alam seperti gempa, kebakaran, atau banjir bisa dipastikan mengakibatkan kerugian pada properti seperti rumah atau toko yang kita miliki.

Oleh : Zhahirul Alim

Melindungi aset properti kita dengan asuransi adalah salah satu langkah yang tepat untuk meminimalisir kerugian akibat bencana tidak terduga. Terlebih, selain risiko bencana, asuransi juga bisa melindungi properti yang kita miliki dari perampokan atau kemalingan saat kita tinggal pergi dalam waktu yang panjang seperti saat liburan atau mudik.

Kejadian bencana alam belakangan ini di Indonesia boleh dibilang menjadi suatu peristiwa yang membuat rasa takut. Peristiwa beberapa kali erupsi Gunung Sinabung di Sumatera Utara, Gempa Aceh, erupsi Gunung Agung (Bali) dan terakhir gempa tektonik di Palu, Sulawesi Tengah menimbulkan kerugian ekonomis yang tidak sedikit jumlahnya.

Kondisi ini tentu semakin membuat rasa cemas dan takut masyarakat makin tinggi pula. Sejak tahun 1833 sampai dengan 2018 telah terjadi sekitar 40 kali gempa di Indonesia dengan kekuatan mulai dari 6,0 hingga 9,3 SR, yang mengakibatkan kerusakan harta benda dan bangunan lainnya serta korban meninggal dunia maupun luka yang tidak sedikit jumlahnya.

Gempa pada 28 September 2018 dengan kekuatan 7,4 SR yang berpusat di Kabupaten Donggala mengakibatkan tsunami besar di kota Palu dan sekitarnya dengan korban meninggal dunia diperkirakan sebanyak 2000 jenazah di temukan dan sekitar 1700 rumah tertelan batu setelah gempa yang menjadi tanah cair.

Hal ini merupakan salah satu kejadian gempa terbesar kedua di Indonesia sejak 1833 setelah gempa di Aceh pada 2004. Statistik ini menggambarkan bahwa Indonesia memang rawan gempa dan ke depan potensi terjadinya gempa diperkirakan cukup tinggi.

Dalam kaitan itu pemerintah maupun masyarakat dituntut untuk selalu meningkatkan upaya-upaya mitigasi risiko atas kerugian yang timbul dari bencana gempa. Meskipun rentetan kejadian gempa cukup banyak di Indonesia terutama gempa di Palu, Sulawesi Tengah yang mengakibatkan kerugian harta benda, rumah warga, korban meninggal dan luka-luka yang besar jumlahnya, hal ini belum membuat kesadaran masyarakat akan pentingnya proteksi asuransi gempa bumi meningkat signifikan.

Berbeda dengan beberapa negara lain, khususnya di negara-negara yang rawan gempa dimana kesadaran masyarakat terhadap pentingnya asuransi gempa bumi atau asuransi bencana sudah sangat tinggi. Rendahnya kesadaran masyarakat akan di butuhkannya asuransi gempa disebabkan beberapa faktor.

Misalnya, tidak adanya program wajib asuransi bencana dari pemerintah, masih dirasakan tingginya premi asuransi gempa serta sosialisasi akan pentingnya asuransi gempa yang masih rendah. Berdasarkan statistik Asuransi Gempa Bumi Tahun 2004—2016 yang diterbitkan oleh PT Reasuransi Maipark, terungkap bahwa loss ratio antara perolehan premi dan klaim (ekposur) rata-rata adalah sebesar 80% per tahun.

Artinya industri asuransi nasional masih mencatatkan surplus underwriting. Hal ini berarti bahwa program asuransi gempa bumi di Indonesia masih sangat potensial untuk dikembangkan supaya masyarakat semakin banyak lagi yang berminat ikut membeli polis asuransi gempa bumi.

Mengingat bisnis asuransi menganut hukum probalitas atau hukum bilangan besar, dengan semakin banyak minat masyarakat untuk membeli polis asuransi gempa bumi, apalagi dengan adanya program wajib asuransi gempa, maka rate premi asuransi gempa tentu dapat diturunkan lagi.

Adapun risiko yang dijamin oleh polis asuransi gempa bumi adalah menjamin kerugian atau kerusakan harta benda dan atau kepentingan yang dipertanggungkan yang secara langsung disebabkan oleh bahaya gempa bumi, letusan gunung berapi, kebakaran dan ledakan yang mengikuti terjadinya gempa bumi dan atau letusan gunung berapi serta tsunami.

Perlu dicatat bahwa bahaya tsunami muncul karena terjadinya gempa bumi atau gempa laut. Mengingat sebagian besar wilayah Indonesia masuk zona rawan gempa dan juga memperhatikan kajian-kajian dari para ahli gempa dan bencana bahwa potensi terjadinya gempa kedepan cukup tinggi dan mengingat pula sifat risiko gempa adalah katastropik yang menimbulkan kerugian ekonomi sangat besar, maka masyarakat diimbau melindungi harta benda atau asetnya dengan polis asuransi gempa bumi.

Penulis Adalah Mahasiswa Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris (UMM), Universitas Muhammadiyah Malang

Melindungi aset properti kita dengan asuransi adalah salah satu langkah yang tepat untuk meminimalisir kerugian akibat bencana tidak terduga. Terlebih, selain risiko bencana, asuransi juga bisa melindungi properti yang kita miliki dari perampokan atau kemalingan saat kita tinggal pergi dalam waktu yang panjang seperti saat liburan atau mudik.

Kejadian bencana alam belakangan ini di Indonesia boleh dibilang menjadi suatu peristiwa yang membuat rasa takut. Peristiwa beberapa kali erupsi Gunung Sinabung di Sumatera Utara, Gempa Aceh, erupsi Gunung Agung (Bali) dan terakhir gempa tektonik di Palu, Sulawesi Tengah menimbulkan kerugian ekonomis yang tidak sedikit jumlahnya.

Kondisi ini tentu semakin membuat rasa cemas dan takut masyarakat makin tinggi pula. Sejak tahun 1833 sampai dengan 2018 telah terjadi sekitar 40 kali gempa di Indonesia dengan kekuatan mulai dari 6,0 hingga 9,3 SR, yang mengakibatkan kerusakan harta benda dan bangunan lainnya serta korban meninggal dunia maupun luka yang tidak sedikit jumlahnya.

Gempa pada 28 September 2018 dengan kekuatan 7,4 SR yang berpusat di Kabupaten Donggala mengakibatkan tsunami besar di kota Palu dan sekitarnya dengan korban meninggal dunia diperkirakan sebanyak 2000 jenazah di temukan dan sekitar 1700 rumah tertelan batu setelah gempa yang menjadi tanah cair.

Hal ini merupakan salah satu kejadian gempa terbesar kedua di Indonesia sejak 1833 setelah gempa di Aceh pada 2004. Statistik ini menggambarkan bahwa Indonesia memang rawan gempa dan ke depan potensi terjadinya gempa diperkirakan cukup tinggi.

Dalam kaitan itu pemerintah maupun masyarakat dituntut untuk selalu meningkatkan upaya-upaya mitigasi risiko atas kerugian yang timbul dari bencana gempa. Meskipun rentetan kejadian gempa cukup banyak di Indonesia terutama gempa di Palu, Sulawesi Tengah yang mengakibatkan kerugian harta benda, rumah warga, korban meninggal dan luka-luka yang besar jumlahnya, hal ini belum membuat kesadaran masyarakat akan pentingnya proteksi asuransi gempa bumi meningkat signifikan.

Berbeda dengan beberapa negara lain, khususnya di negara-negara yang rawan gempa dimana kesadaran masyarakat terhadap pentingnya asuransi gempa bumi atau asuransi bencana sudah sangat tinggi. Rendahnya kesadaran masyarakat akan di butuhkannya asuransi gempa disebabkan beberapa faktor.

Misalnya, tidak adanya program wajib asuransi bencana dari pemerintah, masih dirasakan tingginya premi asuransi gempa serta sosialisasi akan pentingnya asuransi gempa yang masih rendah. Berdasarkan statistik Asuransi Gempa Bumi Tahun 2004—2016 yang diterbitkan oleh PT Reasuransi Maipark, terungkap bahwa loss ratio antara perolehan premi dan klaim (ekposur) rata-rata adalah sebesar 80% per tahun.

Artinya industri asuransi nasional masih mencatatkan surplus underwriting. Hal ini berarti bahwa program asuransi gempa bumi di Indonesia masih sangat potensial untuk dikembangkan supaya masyarakat semakin banyak lagi yang berminat ikut membeli polis asuransi gempa bumi.

Mengingat bisnis asuransi menganut hukum probalitas atau hukum bilangan besar, dengan semakin banyak minat masyarakat untuk membeli polis asuransi gempa bumi, apalagi dengan adanya program wajib asuransi gempa, maka rate premi asuransi gempa tentu dapat diturunkan lagi.

Adapun risiko yang dijamin oleh polis asuransi gempa bumi adalah menjamin kerugian atau kerusakan harta benda dan atau kepentingan yang dipertanggungkan yang secara langsung disebabkan oleh bahaya gempa bumi, letusan gunung berapi, kebakaran dan ledakan yang mengikuti terjadinya gempa bumi dan atau letusan gunung berapi serta tsunami.

Perlu dicatat bahwa bahaya tsunami muncul karena terjadinya gempa bumi atau gempa laut. Mengingat sebagian besar wilayah Indonesia masuk zona rawan gempa dan juga memperhatikan kajian-kajian dari para ahli gempa dan bencana bahwa potensi terjadinya gempa kedepan cukup tinggi dan mengingat pula sifat risiko gempa adalah katastropik yang menimbulkan kerugian ekonomi sangat besar, maka masyarakat diimbau melindungi harta benda atau asetnya dengan polis asuransi gempa bumi.

Penulis Adalah Mahasiswa Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris (UMM), Universitas Muhammadiyah Malang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *