Penggalangan Dana di Lampu Merah Marak, Pengakuan Penggalang Dana Dikoordinir Mengejutkan (Bagian 1)

oleh -
Inilah foto anak yang ditempel di dos penggalangan dana. FOTO : IST

PALU, SULTENGNEWS.COM – Dalam beberapa bulan terakhir, hampir setiap perempatan lampu merah di Kota Palu, selalu ada permintaan sumbangan untuk para penderita sakit. Mulai dari sakit jantung, kanker, tumor, penyumbatan pembuluh darah dan berbagai macam penyakit lainnya.

Foto orang yang lagi sakit itu, mereka tempelkan di dos – dos tempat mereka meminta sumbangan untuk menarik simpati warga dan para pengendara yang melintas di jalan. Bukan hanya foto ibu – ibu atau bapak – bapak saja yang biasa mereka pasangan, tapi juga foto anak yang mereka jadikan bahan eksploitasi untuk mendapatkan simpati dari para pengendara agar mau memberikan uang.

Sekelompok pemuda dan pemudi itu, langsung menyedorkan dos yang tertempel foto orang sakit kepada para pengendara yang berhenti di lampu merah tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dari bibir mereka. Para pengendara yang berhenti di lampu merah, juga tidak punya banyak waktu untuk bertanya siapa yang sakit itu dan bagaimana cara mereka menyalurkan sumbangan yang terkumpul itu.

Redaksi sultengnews.com mencoba menelusuri permintaan sumbangan itu dengan memantau langsung aktivitas mereka di lampu merah Taweli, Minggu (27/12/2020).

Dari pengakuan para anak muda itu, mereka dikoordinir oleh seorang ibu yang mereka sebut bernama Ibu Misna yang tinggal di Jalan Raja Moili dekat jembatan III Palu. Hasil dari penggalangan dana mereka lalu diserahkan ke Ibu Misna.

“Hasil yang kami dapatkan, kami setor ke koordinator kami bernama ibu Misna. Dari hasil itu, kami diberikan uang transport dan uang makan. Jumlahnya tergantung berapa banyak dari setiap dos masing – masing yang kami dapatkan,” ujar salah seorang pemuda yang menggalang dana di perempatan lampu merah Tawaeli tanpa menyebutkan namanya.

Anak muda itu mengaku berasal dari Kabupaten Parigi Moutong dan baru bergabung bersama kelompok itu sekira dua bulan lalu. Dia bergabung karena diajak oleh pamannya.

“Kalau saya dan beberapa orang ini berasal dari Kabupaten Parigi Moutong. Kami ba kos di Jalan Raja Moili dekat kosnya koordinator kami ibu Misna,” akunya.

Pemuda itu mengaku, jumlah mereka sebanyak 13 orang yang dikoordinir oleh Ibu Misna. Jumlah 13 orang ini, dibagi dalam dua tim ada yang 6 orang dan ada yang 7 orang. Lokasi tempat mereka meminta sumbangan juga berpindah – pinda dan digilir – gilir sesuai instruksi dari Ibu Misna.

Dalam sehari, per orang mereka bisa mendapatkan 300 ribu. Jika dijumlahkan 300 ribu dikali 13 orang, maka dalam sehari komunitas ini bisa mengumpulkan Rp3.900.000 dari para pengendara di Kota Palu. Semua uang itu disetorkan ke Ibu Misna, lalu ibu misna mengelukuarkan uang makan dan transport kepada mereka antara 100 sampai 150 ribu perorang untuk setiap harinya. Itu hanya perkiraan jika dirata – ratakan anggotanya 13 orang mendapatkan 300 ribu per orang. Jika kurang, maka kurang juga. Namun jika lebih dari 300 ribu, maka tentu bisa lebih banyak lagi.

Pemuda itu, mengaku komunitas mereka bernama Pemuda Pemudi Peduli Palu (P4) yang didirikan oleh Ibu Misna.

Terkait dengan foto – foto yang tertempel di dos – dos itu, semuanya disediakan oleh Ibu Misna. Mereka hanya tau membawa dos yang sudah tertempel foto – foto.

“Semua foto – foto di dos, ibu Misna yang sediakan. Kami hanya tahu bawa dos saja. Biasa juga foto – foto diganti – ganti oleh ibu Misna,” katanya.

Hasil pantauan langsung sultengnews.com, memang dalam satu dos itu sudah ada beberapa foto yang sudah ditindis oleh foto lainnya di atasnya. Sepertinya memang, foto selalu diganti – ganti.

Saat melakukan penggalangan dana di perempatan tawaeli, mereka menggunakan foto anak yang sedang dirawat dengan selang oksigen menempel di hidung dan mulutnya. Lalu dibubuhi tulisan “Assalamualaikum open donasi buat adik Mastur yang mengidap penyakit jantung bocor dan penyumbatan pembulu darah, mohon bantuan dari bapak, ibu sebelumnya dan sesudahnya kami ucapkan banyak terima kasih wassalamualaikum” #JanganTakutBerbagi.

Dibalik foto anak itu, sudah ada beberapa kertas lainnya yang sudah ditimpa oleh foto anak itu. Namun tidak terlihat lagi, karena sudah diisolasi secara rapi.

Saat ditanya itu fotonya di dos anak dimana..? pemuda itu nampak kebingungan untuk mewnjawab. Tiba – tiba salah seorang dari mereka datang menghampiri lalu menjelaskan bahwa itu anak di Palu yang saat ini sedang di rawat di RS Undata. Sepertinya pemuda yang memberikan penjelasan itu semacam senior mereka yang sudah lama bergabung.

“Oh itu anak di Palu pak. Sudah tiga hari dirawat di ruang ICU RS Untada,” katanya memberikan penjelasan.

Saat ditanya apakah kamu yang memberikan langsung uangnya..? pemuda itu dengan malu – malu menjawab bahwa uangnya hanya mereka setorkan ke koordinator mereka bernama Misna. “Kami hanya setor ke Ibu Misna,” katanya sinkat. Bersambung..!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *