Penerapan Kurikulum Merdeka Belajar “Siswa Sebagai Raja”

oleh -
Kepala Sekola SMA Negeri 4 Palu, Syam Zaini. FOTO : IST

PALU, SULTENGNEWS.COM – Penerapan kurikulum merdeka belajar atau biasa dikenal dengan kurikulum Prototype atau bisa disebut pula dengan kurikulum Program Sekolah Penggerak (PSP), oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Nadiem Makarim, menempatkan siswa sebagai raja dalam proses pembelajaran dalam tanda kutip.

Kepala Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 4 Palu Syam Zaini, mengatakan, kebijakan pemerintah pusat dengan penerapan kurikulum saat ini adalah kurikulum Prototype atau kurikulum merdeka belajar atau bisa disebut juga dengan kurikulum Program Sekolah Penggerak (PSP).

Sambung Syam Zaini, merupakan bagian dari kurikulum sekolah penggerak yaitu dengan menempatkan siswa sebagai raja dalam tanda kutip. Siswa bukan lagi sebagai objek tetapi sudah menjadi subjek. Bukan siswa yang mengikuti kemauan guru untuk mengikuti system pembelajaran di kelas ataupun di sekolah akan tetapi pada saat ini karena di kenal dengan kurikulum sekolah penggerak, maka guru yang mengikuti tipe dari pembelajaran siswa tersebut.

“Artinya ketika di kelas itu ada 20 anak kemudian memiliki 5 tipe pembelajaran, bukan anak tadi yang dipaksa untuk mengikuti pembelajaran yang dilakukan oleh guru tetapi gurunya yang dituntut untuk mengikuti pola pikir dan kondisi dari peserta didiknya,” kata Syam Zaini kepada SultengNews.com, Senin (14/2/2022).

“Merdeka belajar disini adalah mengadopsi bahwa siswa di merdekakan untuk memberikan kreatifitas, inovasi dan kemampuan yang dimilikinya. Bahwa siswa itu tidak sama dalam setiap orang,” sambung dia.

Kemudian, bahwa memang anak-anak itu memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing, maka dengan kurikulum merdeka belajar ini siswa diberikan potensi yang sama serta tetap dan terus memaksimalkan potensi yang dimiliki oleh masing-masing dari siswa tersebut.

“Artinya, sekolah saat ini sebagai taman-taman bagi mereka dan sebaiknya menghilangkan konsep kalau sekolah sebagai penjara bagi mereka, dalam tanda kutip,” ucapnya.

Kemudian dia menambahkan, untuk sekolah SMA Negeri 4 Palu sendiri karena ini pilihan dari setiap satuan pendidikan sekolah, telah menerapkan kurikulum PSP atau kurikulum merdeka belajar sebagai kurikulum saat ini, dengan berdasar oleh SMA Negeri 4 Palu salah satu sekolah penggerak pertama sejak dari tahun 2021 lalu.

“Harapan kami kurikulum merdeka ini bisa lebih maksimal lagi dalam membina karakter anak-anak bangsa di masa-masa yang akan datang,” katanya menambahkan.

Namun diakui Syam Zaini, penerapan kurikulum merdeka belajar atau prototype dan sejenisnya oleh kebijakan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Nadiem Makarim, masih memiliki beberapa catatan yang perlu diperbaiki.

Diantaranya, bahwa kurikulum yang ada saat ini cenderung berkurang jumlah jam mata pelajaran, yang nota benenya para guru-guru di sekolah (SMA Negeri 4 Palu dan lainnya) sedikit merasa khawatir, bahwasanya mereka punya tunjangan sertifikasi atau tunjangan profesi guru yang selama ini mereka dapatkan dengan mencukupkan jumlah jam 24 jam, bisa akan berkurang.

“Sebenarnya tidak ada yang aneh dalam hal ini, ini tentunya kita sangat menghargai dan memberi apresiasi bahwa kurikulum yang saat ini berlaku adalah kurkilum prototype, merdeka atau sekolah penggerak. Selaku kepala sekolah, kita sangat mengapresiasi dengan kurikulum ini,” sebutnya.

“Olehnya tentunya sebagai kepala sekolah maka kami menyampaikan kepada Mas Menteri melalui Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan, agar jumlah jam nantinya tidak lagi menjadi 24 jam. Kekurangan jam mengajar guru bisa nanti diambil dari kegiatan proyek. Proyek kegiatan yang dimaksud disini adalah proyek pembentukan pelajar pacasila atau profil pelajar pancasila,” jelasnya.ZAL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.