Peneliti Untad Kritisi Data Base Wilayah Pengelolaan Perikanan

oleh -
Ahli Peneliti Kelautan dan Pemberdayaan Masyarakat Pesisir, Dr.Ir.A.Masyahoro,M,Si, saat memaparkan materi di Seminar Nasional, di Hotel Swiss Bell Kota Palu. FOTO MIFTAHUL AFDAL

PALU, SULTENGNEWS.COM – Tenaga Ahli Kelautan Pusat Penelitian Kelautan dan Pemberdayaan Masyarakat Pesisir (PPKPMP), Dr.Ir.A.Masyahoro, M,Si dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Tadulako, mengkritisi Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP), karena salah dalam perhitungan WPP.

“Saya akademisi pertama yang tidak percaya dengan WPP,” tegas Ahli Peneliti Kelautan dan Pemberdayaan Masyarakat Pesisir, Dr.Ir.A. Masyahoro, M,Si, dalam Seminar Nasional Pengembangan Sektor Kelautan dan Perikanan Berkelanjutan Pasca Bencana di Sulawesi Tengah yang diselenggarakan oleh Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (Iskindo) dan Banyan Tree Global Foundation (BTGF), di Hotel Swiss Bell Kota Palu, Kamis (5/3/2020).

Dia mempertanyakan, pencatatan yang dilakukan oleh numerator atau petugas lapangan dalam pengumpulan data di tingkat PPI dan sinkronisasi basis yang dihasilkan.

“Pencatatannya numerator ditingkat PPI itu sudah terlatih apa belum, kedua apakah semua basis sudah sinkron atau seragam seluruh Indonesia, data base sangat ditentukan dari kebenaran data inputan kita, kalau data kita bias, sampah masuk, tentu sampah juga yang keluar,”ujarnya.

Masyahoro menjelaskan, WPP harus melalui pendekatan yang berdasarkan data hasil tangkapan dari PPI dan Pelabuhan Perikanan Pantai (P3) sampai Pelabuhan Nusantara dan Samudra.

“Kalau proses datanya itu betul-betul dari bawah tercatat dengan baik, maka para enumeratornya sudah terlatih atau sudah tertraning, dengan begitu, barulah kita sedikit merasa percaya tentang keragaman data kita, kan yang menentukan dalam penyusunan wpp program,”jelasnya.

Dia menerangkan, stok ikan seperti yang dikatakan Mantan Menteri Perikanan dan Kelautan, Susi Pudjiastuti yakni stok ikan dari 9,9 juta ton meningkat menjadi 12,5 ton, mestinya kata Masyahoro, loncatannya tidak langsung full seperti itu.

“Sekarang pertanyaannya lonjakannya tadi dari 2013, dengan jangka waktu 4 tahun bisa meloncat 5 juta ton ikan itu berarti setiap tahunnya punya ketambahan 1 juta ton ikan, jika di kaitkan dengan populasi ikan yang akan bertelur dan akan menetas tidaklah secepat itu karena setiap ikan bertelur ada kegiatan penangkapan yang terjadi, itu yang saya tidak percaya sebagai ilmuwan, dimana-mana saya bicara,” terangnya.

“Tapi tidak ada yang berani bantah pernyataan saya, termasuk orangtua kita yang sangat pakar Kyai Abdul Aziz, dia sendiri pernah menyampaikan ke saya bahwa memang kelemahan kita basis data yang tidak betul,” lanjut Masyahoro.

Masyahoro menegaskan, bagaimana bisa menyusun program yang tepat sasaran dan program yang betul-betul efektif kalau data base itu sudah tidak benar atau tidak tepat.

“Apabila data itu di politisir itu yang berbahaya, informasinya bisa menyesatkan, jadi jangan membuat sesuatu yang tidak diperkuat dengan data base yang benar, bagi semua sektor, semua kementrian dan semua Organisasi Perangkat Daerah (OPD),” pungkasnya. DAL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *