Penanganan Tidak Maksimal, Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Sulteng Masih Tinggi

oleh -
Ketua Koordinator Nasional Tim Reaksi Cepat Perempuan dan Perlindungan Anak (TRC PPA) Indonesia, Jeny Claudya Lumoa. FOTO : MIFTAHUL AFDAL

PALU, SULTENGNEWS.COM – Koordinator Nasional Tim Reaksi Cepat Perempuan dan Perlindungan Anak (TRC PPA) Indonesia, Jeny Claudya Lumoa mengatakan, akibat penanganan yang tidak maksimal, mengakibatkan tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Sulawesi Tengah (Sulteng).

Angka kekerasan perempuan dan anak di Sulteng pada Februari 2020 berjumlah 67 kasus, namun pada April meningkat menjadi 123 kasus dan Juni naik lagi menjadi 174 kasus.

“Memang yang terungkap di media tidak semuanya, karena ada juga yang memang tidak diungkapkan jumlah kekerasan terhadap perempuan dan anak,” kata Jeny Claudya Lumoa yang biasa di sapa Bunda Naumi saat ditemui di Hotel Santika Palu, Sabtu (25/07/2020).

Menurutnya, ketika membuat laporan di lapangan terkait apa yang dibutuhkan, biasanya dicoret karena anggaran yang kurang, sehingga itu berdampak pada penanganan yang tidak maksimal pada perlindungan perempuan dan perlindungan anak.

Dia juga menegaskan, Sulteng ini butuh anggaran besar untuk penanganan terhadap perempuan dan perlindungan anak.

“Dari dulu saya sering bilang, jangan dicuri anggaran untuk penanganan perempuan dan anak karena bentuk geografis Sulteng yang banyak kepulauan, sehingga koordinasinya agak lambat,” tegasnya.

“Olehnya, TRC PPA mengeluarkan konsep penanganan perempuan dan perlindungan anak berbasis masyarakat. Jadi kami jemput bola untuk kasus-kasus di lapangan,”ujarnya.

Kata dia, TRC PPA membentuk korwil, korda, korcam dan kordes di setiap provinsi untuk saling berkoordinasi satu sama lain.

“Jika kejadian itu terjadi di desa, maka Satgas melaporkan ke korcam, kemudian dilaporkan ke korda yang selanjutnya diproses di Polres,” tandasnya. DAL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *