Pemulung Kardus Bekas : Dicari Pas Pemilihan Saja

oleh -
Kaswan lelaki paruh baya yang kesehariannya bekerja sebagai pemulung kardus bekas. FOTO : MIFTAHUL AFDAL

PALU, SULTENGNEWS.COM – Terik matahari yang menyengat sampai ke kulit begitu terasa, sengatan panasnya matahari itu telah akrab dengan Kaswan lelaki paruh baya yang kesehariannya bekerja sebagai pemulung kardus bekas.

Lelaki usia 60 tahun itu tinggal sendiri tanpa keluarga anak dan istri di salah satu kos-kosan di jalan S.Parman II, Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Kaswan mengaku dirinya hanya hidup sebatang kara di Kota Palu, Istrinya sudah lama meninggal, kelima orang anaknya berada di pulau Jawa.

“Anak saya semuanya di Jawa saya disini tinggalnya ngekos sendiri, istri sudah meninggal,”ujarnya.

Kaswan sudah lama menjadi perantau di Tanah Kaili, sebagai perantau dirinya hanya bekerja sebagai pemulung kardus bekas, tak ada pekerjaan lain yang dia bisa lakukan dengan usia setua itu.

Mengais rezeki dari memulung kardus bekas sudah satu tahun lebih dilakoninya untuk mencukupi kehidupan sehari-hari terlebih lagi untuk makan.

Bagi Kaswan penghasilan dari kardus bekas tidak menentu, tergantung dari banyak atau sedikitnya kardus yang didapat, biasanya dalam sehari Kaswan bisa mendapat penghasilan Rp 60 ribu.

Namun, kata dia, kardus bekas yang dicari hari ini baru bisa dijual besoknya, itupun jika sudah memiliki berat mencukupi untuk dibeli Rp 60 ribu.

“Sehari biasanya dapat Rp 60 ribu. Tapi itu harus full kerjanya asalkan rajin dapatnya segitu, jadi penghasilan Rp 60 ribu dalam sehari itu ketika mencarinya hari ini dan dijualnya besok. Rp 60 ribu bisa buat beli nasi sehari-hari,”sebutnya.

Bukan untuk makan saja, Kaswan mengungkapkan, harus bayar kos dengan harga sewa sebesar Rp 400 ribu.

“Bukan hanya buat makan, tapi harus bayar kos juga,”ungkapnya.

Kaswan selama bertempat tinggal di Kota Palu belum pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah meskipun dalam situasi covid-19 seperti sekarang ini.

Dia juga tidak ingin berharap lebih untuk mendapatkan bantuan. Bahkan, Kaswan merasa pesimis sebagai orang kecil tidak akan mendapatkan bantuan lebih, kalaupun ada baginya tidak akan sampai kepada mereka yang membutuhkan.

“Kalau untuk bantuan sendiri ya untung-untungan sampai kalau nggak sampai bagaimana,”cetusnya.

Kaswan mengaku pernah didatangi salah satu tim sukses saat pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Sulteng, baik tim sukses dari Calon Gubernur Sulteng maupun Calon Walikota Palu.

“Saya pernah didatangi tim sukses, tapi saya tidak tau apa-apa, jadi saya jawabannya iya-iya saja,”akuhnya.

Kaswan dengan rasa kesal menyebut, orang-orang kecil dan orang miskin hanya di cari pada saat Pilkada saja, namun setelah itu tidak lagi diperhatikan sama sekali.

“Dicarinya pas pemilihan saja, habis itu sudah tidak ada lagi,”kesalnya.

Bahkan, dengan nada tegas, Kaswan mengatakan, calon pemimpin jika sudah jadi pemimpin akan lupa dengan rakyat kecil yang dicari-cari saat Pilkada.

“Kalau sudah jadi yah sudah lupa,”pungkasnya. DAL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *