Pembangunan Tanggul di Teluk Palu Tak Pedulikan Nasib Nelayan

oleh -
Pembangunan Tanggul Teluk Palu yang dikeluhkan para nelayan karena tidak menyediakan tambatan perahu sehingga banyak perahu yang rusak dihantam ombak. FOTO : MAHFUL/SN

PALU, SULTENGNEWS.COM – Pembangunan tanggul disepanjang Teluk Palu untuk menghalau tsunami yang bisa saja terjadi kapan saja, rupanya tak mempedulikan nasib para nelayan di Teluk Palu yang dari hasil tangkapan ikan.

Para nelayan di Teluk Palu, rata – rata mengeluhkan pembangunan tanggul yang dikerjakan PT Adhy Karya itu, karena sama sekali tak menyediahkan tambatan perahu bagi para nelayan. Akibatnya, para nelayan kesulitan saat menambatkan perahunya, karena tanggul yang dibangun menggunakan batu.

“Sudah ada beberapa perahu kami rusak, karena tidak ada tambatan perahu. Jika ombak besar, perahu kami banyak terhempas ditanggul yang terbuat dari batu itu,” keluh Arham, Ketua Kelompok Nelayan Talise saat ditemui di pantai Talise, Sabtu (19/12/2020).

Salah seorang nelayan, Heri (51) saat ingin memukat ikan dengan mengendarai perahunya bertuliskan Berkah. FOTO : MIFTAHUL AFDAL

Dia berharap, pemerintah atau kontraktor yang mengerjakan tanggul itu bisa menyediakan tambatan perahu bagi para nelayan di Teluk Palu, agar tidak ada lagi perahu yang rusak. Apalagi, perahu – perahu itu adalah bantuan dari beberapa NGO (Non Governmental Organization) yang peduli dengan nasib para nelayan di Teluk Palu yang sangat terpuruk ekonominya setelah perahu – perahu mereka rusak dihantam tsunami pada 28 September 2018 lalu.

“Nelayan hanya minta dibuatkan tambatan perahu, agar tidak ada lagi perahu yang rusak karena terbentur perahu,” tandas Arham.

Keluhan yang sama juga diungkapkan Heri, yang juga nelayan di Teluk Palu asal Kelurahan Talise yang sudah menjalani profesi sebagai nelayan selama puluhan tahun.

“Ombak dan angin di Teluk Palu biasa datang secara tiba-tiba, sehingga menjadi ancaman keselamatan nelayan saat berada di tengah laut. Dalam situasi seperti itu, cara cepat untuk menyelamatkan diri yakni mencari daratan terdekat,” ujar Heri.

Namun lanjut Heri, dengan pembangunan tanggul yang tidak menyediakan ruang tambatan perahu, membuat nelayan khawatir akan keselamatan diri mereka jika terjadi ombak atau angin kencang di Teluk Palu, karena mereka kesulitan mencari daratan dan tambatan perahu para nelayan.

“Banyak nelayan mengeluh, sekarang susah mau cari tempat taruh perahu. Soalnya kalau ada angin kencang dan ombak besar yang tiba-tiba datang, bisa bahaya buat kami karena bingun mau mendarat dimana karena sudah terhalang tanggul semua dan tidak ada lagi pesisir pantai,” ujarnya serius.

Bahkan menurut Heri, lebih baik seperti sebelumnya tidak ada pembangunan tanggul, karena dengan begitu para nelayan bisa dengan mudah menambatkan perahunya karena masih ada bibir pantainya untuk tambatan perahu.

“Lebih baik tidak ada tanggul, seperti disana (menunjuk ke Kelurahan Silae) karena ada pesisir untuk tambatan perahu,” katanya.

Nelayan lainnya, Hamlan (49) juga mengeluhkan hal yang sama. Hilangnya pesisir pantai diakibatkan pembangunan tanggul, menjadi ketakutan bagi nelayan. Sebab nelayan di Kelurahan Lere, lebih sering melaut di malam hari, sehingga cukup sulit melakukan pendaratan ketika bergelut dengan angin disertai ombak besar saat di tengah lautan.

Hamlan (49) salah seorang nelayan di Kelurahan Lere, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu. FOTO : MIFTAHUL AFDAL

Selama ini, nelayan selalu berpatokan dengan lampu yang dipasang di pinggir pantai, sebagai penadanda tempat tambatan perahu. Namun saat ini, pesisir pantai sudah tidak ada, sehingga menyulitkan nelayan untuk menambatkan perahunya.

“Sepertis subuh tadi, kita didapat angin kencang disertai ombak besar. Kita cepat-cepat kita ke pinggir, beruntung ada lampu listrik masih keliatan, jadi bisa ketahuan tempat mendarat,”ungkap Hamlan.

Bagi Hamlan, pemerintah perlu juga nemperhatikan pesisir untuk tambatan perahu. Sebab saat ini, pembangunan tanggul sudah menghilangkan sebagian besar pesisir pantai tempat tambatan perahu para nelayan di Teluk Palu.

“Kalau keluhan nelayan sebenarnya banyak, tapi soal daratan atau pesisir yang sudah hilang itu yang paling utama harus diperhatikan,” tandasnya.

Untuk diketahui, pembangunan tanggul sepanjang pesisir Teluk Palu sepanjang kurang lebih 7 Kilo Meter dikerjakan PT Adhy Karya dengan anggaran sebesar Rp250 miliar. FUL/DAL

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *