Pekarangan Pangan Lestari Dinas Pangan Sulteng, Solusi Ketahanan Pangan di Masa Pandemi

oleh -
Kelompok wanita petani beraktivitas menanan pangan di pekarangan. FOTO : IST

PALU, SULTENGNEWS.COM – Program pekarangan pangan lestari dari Dinas Pangan Sulawesi Tengah (Sulteng) dapat membantu masyarakat, penuhi keutuhan dapurnya masing-masing. Apalagi, ditengah situasi pandemi Covid-19 yang berdampak terhadap semua sektor.

Kepala Seksi Penganekaragaman Pangan dan Bidang Konsumsi, Naswat Otuda mengatakan, melalui pekarangan pangan lestari dapat mendekatkan masyarakat khususnya ibu rumah tangga dari pasar.

“Tentang keberagaman pangan, apalagi ditengah pandemi ini kegiatan saya itu betul-betul menyentuh dengan masyarakat, kegiatan itu adalah pekarangan pangan lestari yang untuk mendekatkan pasar ke dapur. Jadi itu adalah bantuan kepada masyarakat,”ucap Naswat saat diditemui di kantornya Dinas Pangan Sulteng, Kamis (09/09/2021).

Dalam program pekarangan pangan lestari tersebut, setiap kelompok wanita tani diberikan bantuan puluhan juta. Dengan begitu, kelompok wanita tani dapat memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga.

Kegiatn P2L terbagi menjadi  dua tahap, pertama, tahap penumbuhan sebanyak 52 kelompok tersebar di 11 kabupaten dan kota se Sulteng. Masing-masing kelompok mendapatkan bantuan pemerintah sebesar Rp. 60.000.000 yang ditransfer langsung ke rekening kelompok totalnya Rp. 3.120.000.000.

Selanjutnya, pada tahap ke dua pengembangan sebanyak 15 kelompokyang tersebar di 4 kabupaten masing-masing mendapatkan bantuan pemerintah Rp15.000.000 sehingga totalnya Rp 225.000.000.

“Bantuannya itu satu kelompok puluhan juta, jadi betul-betul dikelola anggota kelompok bagaimana masyarakat itu bisa memenuhi kebutuhan dapurnya, sehingga tidak harus membeli,”ucap Naswat.

Masyarakat sendirilah yang mengelola, menanam dan memetik ketika panen, setelah setelah terpenuhi kebutuhan anggota kelompok, kata Naswat, hasilnya bisa di jual untuk meningkatkan pendapatan anggota kelompok itu sendiri.

Sehingga, kelompok wanita tidak perlu lagi mengeluarkan uang untuk belanja karena sudah bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga dari pekarangan mereka.

“Itu yang kita lakukan jadi di tengah pandemi ini itu yang betul-betul sangat menyentuh kepada masyarakat jadi mereka tidak perlu lagi jauh-jauh ke pasar, tidak perlu lagi keluar uangnya, mereka bisa menghasilkan sendiri,”terangnya.

Selain itu, Naswat mengatakan terdapat Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang aktivitasnya pada pangan lokal, seperti keripik bayam.

“Ada juga UMKM yang bergerak di pangan lokal, jadi hasil-hasil itu bisa dijadikan keripik bayam hasilnya itu untuk memenuhi kebutuhan pendapatan masyarakat itu sendiri,”pungkasnya. DAL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.