Pasien Alami Kebutaan Akan Gugat Rumah Sakit Mokopido Gunakan 11 Pengacara

oleh -

TOLITOLI, SULTENG NEWS –  Karena mengalami kebutaan setelah dirawat covid 19 di ruang isolasi, seorang pasien, H Hamza warga Tolitoli berencana akan menggugat pihak Rumah Sakit Mokopido Kabupaten Tolitoli.

“Karena mata saya menjadi buta sebelah sehingga saya mau menggugat, ada 11 orang pengacara yang siap mendapingi saya untuk gugat Rumah Sakit Mokopido,” kata  H Hamza kepada wartawan, Rabu (24/02/2021).

Ia mengaku mengalami kebutaan permanen pada mata sebelah kiri sewaktu dilakukan penanganan medis di rumah sakit milik Pemda itu akhir Desember silam karena disebut terpapar covid 19.

“Sebelumnya, saya melakukan pemeriksaan karena kecemasan jangan sampai terpapar Corona, tiba-tiba saya langsung diisolasi, anehnya setelah keluar dari rumah sakit itu mata saya menjadi buta permanen sebelah kiri,” cerita Hamza menyesalkan.

Hamza mengatakan kalau tindakan medis beberapa waktu lalu terhadap dirinya diduga terjadi tindakan mal praktek, dikarenakan  sebelum dirinya dirawat di rumah sakit itu kedua matanya masih bisa melihat dengan sempurna.

“Saya masuk rumah sakit sehat-sehat pak, tidak sakit hanya penciuman saya bermasalah, makanya saya beranikan diri memeriksakan kesehatan saya. Tiba-tiba saya ditahan dinyatakan Corona dan langsung di isolasi,” ceritanya.

Ia juga mengaku cukup terkejut atas penetapannya sebagai pasien Covid-19, sebab menurutnya sekitar tiga hari masuk rumah sakit langsung dinyatakan Covid-19.

” Sepengetahuan saya, biasanya nanti ada hasil uji Lab dari Palu, baru betul-betul dinyatakan positif Corona. Tapi ini baru tiga  hari sudah dinyatakan positif,” tuturnya.

Hamzah mengaku, hari ketiga ditangani sebagai pasien corona ia mendapatkan perlakuan dari perawat yang mengakibatkan salah satu matanya mengalami kebutaan.

” Saya yakin mata saya mengalami kebutaan akibat terkena oksigen terlalu lama. sebab keesokan paginya karena terus berair saya lap pake tisu, ternyata yang keluar bukan air, tapi darah” akunya lagi.

Terkait perihal permintaannya agar dibantu dengan oksigen, Hamzah menuturkan, hal itu berawal dari ketika ia disarankan mengkonsumsi tiga buah kapsul berdosis 1000 Mg oleh perawat. Setelah beberapa saat setelah mengkonsumsi obat yang menurut perawat adalah vitamin tersebut, langsung pingsan.

” Sebelum saya minum, saya tanyakan dulu ke perawatnya, kenapa dosisnya tinggi sekali?,apakah tidak apa-apa?. Perawatnya bilang, tidak apa -apa, dikunya saja, itu hanya vitamin katanya. Setelah saya konsumsi dua kali saya pingsan,” ujar Hamzah menceritakan.

Akibat dari pengaruh obat itulah kemudian Hamzah mengaku, meminta pihak rumah sakit agar dipasangi oksigen untuk menjaga jangan sampai ia pingsan lagi.

“Awalnya saya merasa enak, karena dipasangi oksigen yang langsung kehidung, tapi kemudian diganti dengan yang model masker, dan dari situlah awalnya oksigen mengenai mata dari malam hingga dini hari, besok mata saya sudah bonyok,” ujarnya.

Salah seorang pengacara yang bakal mendampingi kasus dugaan mal praktek di rumah sakit itu, Moh Sabrang SH,  membenarkan kalau kliennya telah memohon secara resmi ke lembaganya untuk didampingi melakukan gugatan dugaan mal praktek itu.

” Terus terang kami sedang menyusun materi gugatan atas permintaan klien kami, secara materil dan immateril, termasuk menyusun laporan polisi untuk membawa masalah ini keranah pidana. Inshaa Allah dalam waktu dekat kami akan laporkan,” jelas Sabrang kepada wartawan.

Menurutnya, dalam menangani kasus tersebut, ia bersama dengan 10 pengacara lainya yang tergabung dalam kantor pengacaranya akan bekerja sama dalam menggarap materi gugatan secara bersama karena diberikan kepecayaan kuasa oleh korban.

Sementara, direktur RSU Mokopido Tolitoli, dr Danial dimintai tanggapan kepada wartawan mengatakan, kebutaan yang dialami salah satu pasien tersebut berdasarkan keterangan dokter ahli mata, dikarenakan Covid-19 bukan karena malpraktek seperti tudingan pasien. RML

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *