Palu Terancam Krisis Listrik Jika PLTU Ditutup

oleh -

PALU, SULTENGNEWS.com – Manager PT PLN (Persero) area Palu, Abas Saleh menyatakan Kota Palu dan sekitarnya terancam mengalami krisis listrik, jika nantinya Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) panau di Kelurahan Panau, Kecamatan Tawaili, Kota Palu berhenti beroperasi alias ditutup.

Abas menjelaskan, sumber kelistrikan Kota Palu dan sekitarnya yakni Kabupaten Donggala dan Sigi, berasal dari PLTU Panau di Kota Palu maksimal 52 megawatt dan PLTA Sulewana di Poso sekitar 102 megawatt.

“PLTU selama ini memiliki kontribusi kelistrikan di Kota Palu sekitar 30 persen dari total daya yang ada, atau rata-rata produksi PLTU sekitar 40 megawatt,” ungkapnya.

Menurutnya, dengan beban puncak penggunaan sekitar 127 megawatt, secara normal memiliki surplus sekitar 20 megawatt.

Namun, jika PLTU Panau berhenti beroperasi atau pun dihentikan sementara waktu, maka sistem kelistrikan akan mengalami defisit atau kekurangan daya maksimal sebesar 19 megawatt pada malam hari dan sekitar enam megawatt pada siang hari.

“Sangat berpengaruh kalau tutup, karena defisit itu mau didapat dimana sumbernya,” ujar dia.

Abbas mengasumsikan, dalam satu megawatt sama dengan 1.000 pelanggan dengan daya antara 900 watt hingga 1.300 watt. Maka total 19 megawatt, ada 19 ribu pelanggan yang akan kekurangan pasokan listrik.

Sehingga, untuk mengantisipasi itu, pihaknya telah membuat skema pemadaman bergilir. Dimana pihaknya mengatur seminimum dan sesingkat mungkin.

“Teman-teman di bagian jaringan telah membuat skema itu, kemungkinan pemadaman per lima jam,” ungkap Abbas.

Namun saat ini, masih beroperasi, walaupun daya yang disalurkan sangat kecil sekitar enam megawatt.

Terkait dengan sumber daya listrik lainnya, menurut Abbas, pihaknya akan memaksimalkan kembali pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) Silae, dengan daya mampu hanya sekitar enam megawatt.

Abbas juga mengimbau, untuk menyiasati defisit daya itu, diharapkan seluruh pelanggan dapat menghemat listrik, dengan tidak menggunkan peralatan elektronik yang berlebihan. Sehingga ada daya yang bisa dibagi dengan saudara-saudara lainnya.

Saat ini, PLTU Mpanau sedang dalam penguasaan ratusan massa dari lima kelurahan di Kecamatan Palu Utara dan Tawaeli, yakni dari Kelurahan Mpanau, Lambara, Baiya, Kayumalue Ngapa dan Kayumaleo Pajeko.

Mereka menuntut untuk penutupan PLTU, karena diangap limbah fly ash dan bottom ash dari perusahaan sangat membahayakan warga sekitar.[***]

Sumber : Antaranews.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *