Nelayan Talise Harapkan Buaya di Teluk Palu Dievakuasi

oleh -
Nampak beberapa ekor buaya di pinggir pantai Talise, Kota Palu. FOTO : MIFTAHUL AFDAL

PALU, SULTENGNEWS.COM – Nelayan di Kelurahan Talise mengharapkan agar buaya di Teluk Palu dapat dievakuasi, karena dapat menganggu aktifitas nelayan yang sedang mencari nafkah.

Hal itu diungkapkan, Ketua Kelompok Nelayan Kelurahan Talise, Arham (51) saat ditemui di pantai Talise, Kota Palu, Kamis (17/12/2020).

Ketua Kelompok Nelayan Kelurahan Talise, Arham. FOTO : MIFTAHUL AFDAL

Arham mengatakan, sebagimana pernyataan dari pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah (Sulteng) bahwa buaya di Teluk Palu tidak bisa dievakuasi. Akan tetapi, kata dia kembali ke persoalan nelayan. Sebab, banyaknya populasi buaya dapat mengancam nelayan, apalagi sering muncul di tempat aktifitas para nelayan.

“Alangkah baiknya buayanya ditangkap saja, baik itu orang lokal maupun dari orang luar daerah, kemudian buaya itu dikarantina, tapi di tempat yang layak yang pasti jauh dari tempat pemukiman,”ujarnya.

Arham mengungkapkan, ada ketakutan bagi nelayan Talise, namun nelayan Talise melaut malam hari, hanya saja di sekitaran aktifitas nelayan tidak ada penerang.

“Kalau untuk ketakutan lebih takut lagi kalau tidak pergi memancing persoalannya karena harus menghidupi anak dan istri,”tegasnya.

Menurut Arham, untuk nelayan Talise, hanya bisa waspada untuk tidak sampai di gigit buaya lagi, seperti kejadian yang menimpa temannya, salah seorang nelayan yang juga pernah di gigit buaya.

Bagi Arham, saat ini nelayan Talise juga membutuhkan alat penerang, karena memang perlu adanya lampu di pinggir pantai Talise. Dengan begitu, nelayan bisa mengantisipasi apabila ada buaya di sekitar tempat aktifitasnya.

Arham juga menambahkan, buaya yang agresif biasanya ketika buaya itu sedang bertelur dan sudah rasakan hadirnya manusia.

Arham menuturkan, bahwa untuk nelayan di Talise baru satu orang yang hampir digigit buaya, namun nelayan itu bisa langsung lari dari keganasan hewan buas tersebut.

“Banyak buaya di sini hampir setiap sore ada,”

“Jadi buaya ini ketika dia memangsa pasti dia ke pinggir, tapi dia menyerang di laut. Sewaktu kejadian buaya menyerang nelayan, mereka sempat bertarung dalam air, tapi nelayan itu tau kelemahan buaya ada di matanya ketika matanya di tusuk, buaya itu pasti akan lari,” tandasnya. DAL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *