Muhamad Basir Cyio, Mantan Pemimpin yang Ikhlas dan Gentle dalam Menerima Ujian Kehidupan

oleh -
oleh

PALU, SULTENGNEWS.COM – Nama Muhammad Basir Cyio saat ini menjadi trending topik pembicaraan pada berbagai platform media. Bahkan di kalangan Universitas Tadulako dan masyarakat luar kampus, telah mendiskusikannya setelah Basir Cyio menerima sanksi sebagai bentuk pertanggungjawaban seorang pimpinan.

Lantas bagaimana tanggapan sejumlah mahasiswa tentang apa yang sedang menimpa dengan dosen Fakultas Pertanian Universitas Tadulako ini?

Sikap Pak Basir ini sebenarnya bisa dikatakan sebuah tindakan yang gentle sebagai seorang pimpinan pada saat itu. Kenapa? Sebab apa yang dapat kita saksikan di berbagai media, beliau menerima semua risiko kepemimpinannya, tanpa menyalahkan yang lain, kata Fajri salah seorang mahasiswa Universitas Tadulako.

“Apa yang terjadi dengan Pak Basir adalah ujian bagi seorang pemimpin, mungkin bukan saat dirinya jadi memimpin. Ini berarti, jika gambaran ini berpotensi mengena kepada semua pimpinan. Akan tiba masa, di mana keteguhan seorang leader akan diuji oleh Allah” tutur Fajri.

Kali ini memang giliran Pak Basir, lanjutnya, namun kita tidak bisa tahu siapa lagi setelah ini, karena kita semua paham bahwa manusia ini tempatnya salah dan khilaf, dan bukan maksud suudzhon. Tetapi rasa-rasanya kekhilafan itu juga dilakukan oleh oknum-oknum lainnya, namun Allah belum membuka tabirnya, kata Fajri.

“Hidup di dunia tidak bisa lepas ujian dari Allah, dunia kan tempatnya ujian, hari ini kita senang, tapi mesti ingat bahwa kesusahan itu pasti akan datang. Jadi, yah, yang belum ketahuan hilafnya bersiap-siaplah, apa bisa setegar Prof Basir dalam menghadapi ujiannya,” ungkap Fajri yang juga merupakan seorang pengurus lembaga mahasiswa di Untad ini.

Karena kita, lanjut Fajri, tidak bisa memunafikkan bahwa di kampus tercinta ini, masih banyak sekali proyek-proyek lainnya yang anggarannya milyaran, bahkan bisa tembus pada angka puluhan milyar yang amat fantastis.

Apakah itu bersih hanya karena belum ke permukaan? Apakah tidak ada cacat administrasi? Tentu ada, tapi belum terungkap saja saat ini, tetapi bisa tiga atau lima tahun mendatang, jelas Fajri menuturkan analisisnya.

“Hari ini kita susah, kita harus punya harapan bahwa Allah pasti akan berikan bahagia untuk kita suatu saat nanti,” tegas Fajri mengakhiri penjelasannya.

Sementara itu, Komang dalam melihat ujian yang menerpa Pak Basir, dirinya turut prihatin dengan apa apa yang sedang bergulir, namun semua itu bukan sama sekali sebagai gambaran pribadi beliau, kata Komang.

“Prof Basir ini sosok yang sangat rendah hati, saya diajar langsung oleh Beliau, jadi saat orang bilang ini dan itu, saya sendiri dan mungkin ribuan mahasiswa yang pernah diajar oleh Pak Basir Cyio merasa bahwa Beliau ini orangnya sangat bijaksana dan arif, terlepas apa yang sedang menimpanya”, tutur Komang.

Menurut Komang, pihaknya melihat jika ada segelintir orang tampak sudah dibutakan dengan kesalahan Prof Basir, yang belum tentu juga dia yang melakukannya. Padahal, kebaikan Basir Cyio dan jasa-jasanya bahkan jauh lebih besar dari itu.

“Yah janganlah kita validasi prejudis bahwa gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga, hanya karena kekhilafan yang ada di jajarannya, jasa beliau ini kita lupakan”, jelas Komang yang yakin jika dirinya sudah tidak dihafal oleh Pak Basir.

Komang pun mengungkapkan bahwa dirinya membaca dan melihat jejak digital Universitas Tadulako dari tahun ke tahun di masa kepemimpinan Basir Cyio, dan menemukan bahwa saat itulah Untad mengalami perubahan yang lebih baik.

“Kalau kita lihat, di zaman Beliau mahasiswa Untad bisa berbangga selalu konsisten berada di peringkat 100 besar Perguruan Tinggi Terbaik di Indonesia,” ungkap Komang.

Bahkan yang sempat menghebohkan ketika Universitas Tadulako yang dulunya tidak diperhitungkan sama sekali, masuk ke jajaran Top 25 Perguruan Tinggi dan itu terjadi di zamannya Pak Basir, kata Komang.

“Jadi janganlah mata kita ini tertutup dengan kesalahan Pak Basir Cyio dan jajarannya, kita justru harus berterima kasih pada Beliau karena dari Pak Basir Cyio kita belajar bahwa naik turun kehidupan itu adalah sebuah hal pasti, apalagi sebagai seorang pemimpin,” tegas Komang.

Walaupun ada yang benci Beliau, tapi tentu tidak sedikit yang juga mendoakan dan menyayangi Pak Basir Cyio agar diberikan kekuatan dalam menghadapi cobaan ini, kita juga sebagai mahasiswa ataupun Alumni mari doakan agar dosen-dosen kita tercinta di Untad bisa dalam lindungan yang Maha Kuasa, kata Komang berharap.

Bahkan, kata Komang mendapat cerita jika sebelum masa kepemimpinan Pak Basir Cyio, kampus kita mirip dengan Ladang Penggembalaan, walau saya sendiri sudah tidak melihat lagi ada ternak berkeliaran dalam kampus, katanya.

Sebagai penutup, ujar Komang, yang memimpin saat ini janganlah merasa aman ke depan, sebab saat masih duduk di kursi empuk, yang datang masih puji-pujian, namun di saat sudah tak punya kuasa, akan kelihatan siapa sahabat yang sejatinya, dan itu juga kami rasakan dalam berteman di komunitas mahasiswa, tutur Komang.ZAL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.