Menanti Kejutan Pilgub Sulteng; Siapakah Paslon Yang Bisa Dapatkan Perahu..? Inilah Ulasannya..!

oleh -

Pemiliha Kepala Daerah (Pilkada) Sulawesi Tengah (Sulteng), semakin menarik untuk diikuti perkembangannya. Hingga kini, belum ada satu Pasangan Calon (Paslon) pun yang secara resmi mendeklarasikan diri sebagai Paslon yang akan maju di Pilgub Sulteng resmi dengan partai pengusungnya.

Oleh : Mahful Haruna

Pesta demokrasi lima tahunan di Sulteng begitu menarik untuk diikuti detik – demi detik, utamanya siapa saja kandidat yang bakal maju bertarung memperebutkan kursi Gubernur dan Wakil Gubernur di Bumi Tadulako. Masyarakat Sulteng, telah disuguhkan dengan beberapa nama Paslon yang disebut – sebut akan maju di Pilgub Sulteng.

Nama – nama yang telah mencuat kepublik diantaranya Rusdi Mastura – Ma’mun Amir (Cudi – Ma’mun), Anwar Hafid – Sigit Purnomo Said (AS), Hidayat Lamakarate – Barholomeus Tandigala (Hidayat – Barho), Nurmawati Dewi Bantilan – Clemens Efraim Musa (NDB – Clemens) dan terakhir secara mengejutkan mendeklarasikan maju di Pilgub Sulteng yakni pasangan Rusli Dg. Palabi – Aldi Thaher (Rusli – Aldi Thaher).

Namun dari beberapa Paslon itu, baru pasangan Rusdi Mastura – Ma’mun Amir (Cudi – Ma’mun) yang telah berani mencantumkan partai pengusung di semua baliho atau poster – poster yang disebarkan kemasyarakat. Pasangan ini hampir bisa dipastikan akan melenggang mulus mendaftar di KPU sebagai Palon Gubernur dan Wakil Gubernur. Hingga kini, pasangan Cudi – Ma’mun telah mengantongi dukungan dari Partai Nasdem (7 kursi), PKS (4 kursi), PKB (4 kursi) dan Partai Hanura (2 kursi) dengan total 17 kursi di DPRD Sulteng.

Sementara pasangan lainnya seperti Anwar Hafid – Sigit Purnomo Said (AS), disebutkan sudah mengantongi juga dukungan dari Partai Demokrat (4 kursi), PAN (2 kursi) dan PPP (1 kursi) dengan total 7 kursi, sehingga pasangan ini masih butuh 2 tambahan kursi lagi. Pasangan AS, kini juga terus melakukan lobi – lobi ke PDI Perjuangan, Partai Golkar dan Partai Perindo agar bisa mendapatkan dukungan. Jika salah satu saja dari tiga partai itu memberikan dukungan, maka pasangan AS sudah bisa melenggang maju sebagai Paslon di Pilgub Sulteng.

Selanjutnya, pasangan Hidayat Lamakarate – Bartholomeus Tandigala (Hidayat – Bharto) juga disebut – sebut baru mendapatkan dukungan dari Partai Gerindra (6 kursi), sehingga masih butuh tambahan 4 kursi lagi baru bisa lolos sebagai Palon. Pasangan Hidayat – Barho, kini tengah menjalin lobi – lobi ke PDI Perjuangan yang memiliki 6 kursi dan Partai Golkar (7 kusri) di DPRD Sulteng. Jika pasangan ini berhasil mengantongi dukungan dari PDI Perjuangan atau Golkar, pasangan ini akan meleggang mulus maju sebagai Cagub dan Cawagub Sulteng.

Bagaimana dengan pasangan Nurmawati Dewi Bantilan – Clemens Efraim Musa (NDB – Clemens)..? Meski jarang muncul ke publik, namun pasangan ini disebut – sebut masih solid karena telah mengantongi surat dukungan dari Partai Golkar dan Partai Perindo. Koalisi Golkar (7 Kursi) dan Perindo (2 kursi) sudah cukup mengantarkan pasangan NDB – Clemens maju sebagai Paslon dan mendaftar ke KPU.

Terkini, muncul pasangan Rusli Dg. Palabbi – Aldi Thaher yang disebut – sebut juga telah mendapatkan lampu kuning dari beberapa partai yang hingga kini belum menentukan pilihan kepada siapa akan menjatuhkan pilihan. Rusli Dg. Palabbi bahkan optimis akan mendapatkan perahu untuk maju di Pilgub Sulteng, meski banyak kalangan menyangsikan hal itu.

Dengan melihat peta politik saat ini, partai yang benar – benar bebas dari klaim siapapun adalah PDI Perjuangan. Partai besutan Megawati Soekarno Putri ini seakan menjadi kunci penentu berapa Pasalon yang akan bertarung di Pilgub Sulteng.

Berikut Analisa dan Kalkulasinya..!

Pertama, jika PDIP memutuskan mengusung pasangan Anwar – Sigit (AS), maka pasangan ini akan mengantongi dukungan 13 kursi dengan perhitungan Demokrat 4 kursi, PAN 2 kursi, PPP 1 kursi dan PDIP 6 kursi. Jika analisa ini yang terjadi, maka pasangan Hidayat – Bartho akan kesulitan mendapatkan “perahu” kecuali Golkar merapat ke Hidayat – Bartho. Namun lagi – lagi hal ini bukanlah hal mudah, karena jauh sebelumnya NDB telah mengklaim mendapatkan dukungan dari Partai Golkar dan ditambah 2 kursi dari Perindo, sehingga sudah cukup menjadi “perahu” untuk bisa maju di Pilgub Sulteng.

Kedua, jika PDIP memutuskan mengusung pasangan Hidayat – Bartho, maka pasangan AS yang akan kesulitan mendapatkan “perahu”, karena tinggal Golkar dan Perindo yang tersisah. Jalan satu – satunya yang bisa dilakukan pasangan AS adalah melakukan lobi tingkat tinggi untuk bisa mendapatkan tandatangan dukungan dari Golkar atau Perindo, sebab dua patai ini telah bersepakat untuk berkoalisi dengan mengusung NDB – Clemens.

Ketiga, jika pasangan NDB – Clemens gagal maju sebagai Paslon di Pilgub Sulteng, maka Golkar dan Perindo akan menjadi rebutan antara pasangan Hidayat – Barto, pasangan Anwar – Sigit dan pasangan Rusli Dg. Palabbi – Aldi Thaher.

Pasangan Rusli – Aldi Taheher, disebut – sebut juga tengah melakukan lobi – lobi ke patai yang belum menentukan sikap seperti PDIP, Golkar dan Perindo. Jika pasangan ini yang kemudian mendapatkan surat keputusan dari PDIP, Golkar atau Perindo, maka tentu ini akan sangat menarik karena tiga Paslon sekaligus tidak akan mendapatkan dukungan yakni Hidayat – Bartho, Anwar – Sigit dan NDB – Clemens. Namun bukan berarti pasangan AS tidak bisa mendapatkan dukungan dari Partai Golkar dan Perindo, karena dalam politik tidak ada yang tidak mungkin.

Lalu siapakah Paslon yang pada akhirnya bisa mendapatkan Surat Keputusan (SK) dari PDIP, Golkar dan Perindo bahkan Gerindra sekalipun untuk maju di Pilgub Sulteng..? menarik untuk terus diikuti. Wassalam..!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *