Material Tambang Asal Hutan Lindung Tolitoli Diduga Diseludupkan Dengan Dokumen Getah Kayu

oleh -
Proses pengangkutan material tambang bebatuan yang disinyalir mengandung bahan tembaga (CU), yang diduga akan dikirim ke luar negeri oleh salah seorang pengusaha asal kota Palu saat dinaikka ke kontainer. FOTO : IST

PALU, SULTENGNEWS.COM – Material tambang bebatuan yang disinyalir mengandung bahan tembaga (CU), diduga dikirim ke luar negeri oleh salah seorang pengusaha asal kota Palu melalui pelabuhan Pantoloan dengan menggunakan dokumen kayu, sehingga bisa mengelabuhi petugas.

Hasil penelusuran media ini, sejumlah besar material tambang yang berbentuk pecahan bebatuan yang disinyalir mengandung tembaga (CU), ditambang secara dari kawasan hutan lindung Desa Oyom, Kecamatan Lampasio Kabupaten Tolitoli.

Inilah material tambang bebatuan yang disinyalir mengandung bahan tembaga (CU), yang diduga akan dikirim ke luar negeri oleh salah seorang pengusaha asal kota Palu saat dinaikka ke kontainer. FOTO : IST

Pemilik tambang bebatuan ini, diduga menyeludupkan material ilegal tersebut ke Kota Palu melalui akses jalan darat. Puluhan ton bebatuan tersebut, diangkut memakai truk menuju salah satu gudang milik perusahaan asing di Kota Palu.

Informasi yang diperoleh media ini, sebagian dari hasil pertambangan bebatuan itu pernah diamankan aparat Polsek Lampasio. Namun yang lainnya diduga “lolos” masuk Kota Palu dan dikirim dengan memakai Jasa Peti Kemas (Kontainer) ke luar Pulau Sulawesi.

Data yang dihimpun media ini, setidaknya ada 50 Ton bahan material tambang yang diduga mengandung unsur tembaga (CU) itu, telah lolos masuk Kota Palu. Bahkan kabarnya, sebanyak 25 Ton telah berhasil diseludupkan ke luar Kota Palu melalui pelabuhan Pantoloan dengan memasukkan ke dalam kontainer.

Menurut sumber terpercaya media ini, lolosnya bahan material tambang ini dikarenakan dokumen jalannya disebutkan bahwa isi kontainer adalah getah kayu asal Tolitoli.

“Material batu mengandung tembaga itu, dipakaikan dokumen getah kayu untuk bisa lolos masuk pelabuhan dan dikirim keluar pulau,” ungkap sumber yang meminta identitasnya tidak disebut.

Pernyataan sumber itu, diperkuat tokoh masyarakat yang berdomisili di sekitaran Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pantoloan. Dia mengaku mengetahui benar bahwa material yang diangkut pakai kontainer di gudang PT One Hong adalah material bebatuan asal tambang, bukan getah kayu seperti yang tertera di dokumennya.

“Kontainer yang muat bebatuan seperti itu, diangkut dari gudang PT One Hong di Taipa. Kalau ditempat saya kerja, hanya memuat getah pinus dan getah kayu lainnya,” jelasnya saat ditemui di kediamannya, Senin (10/01/2022).

Dikatakan, gudang yang disewa perusahaan asing PT One Hoo di Taipa, Kecamatan Palu Utara, Kota Palu dijadikan tempat penampungan sejak akhir tahun 2021 lalu. Sebelumnya, gudang tersebut adalah gudang kopra.

Salah seorang warga sekitar bernama Warda (45) yang ditemui media ini   membenarkan bahwa sudah sebulan belakangan ini gudang itu dipakai untuk menampung materil tambang. Warga sekitar mengetahui bahwa material tambang yang ditampung adalah material jenis nikel.

“Dulunya gudang itu tempat penampungan kopra, sekarang disewakan untuk menampung bahan tambang nikel. Mereka lalu bekerja hingga larut malam untuk mengisi container,” jelas Warda.

Menurutnya, material yang diangkut dengan memakai armada truk tersebut berasal dari tambang di wilayah Gorontalo.

“Pengakuan buruh waktu mengangkut itu materialnya dari Gorontalo, dikase masuk dalam karung goni putih dan disusun masuk kontainer lalu dikirim ke pelabuhan,” katanya.

Kapolsek KP3 Pelabuhan Pantoloan, Ipda Nur Habib Auliyah S.Tr.K yang ditemui membenarkan kalau pihaknya telah melakukan penundaan keberangkatan sebuah kontainer milik seseorang yang belum melengkapi dokumen pengiriman barang. Kapolsek mengaku, pihaknya telah berkoordinasi dengan pihak perusahaan ekspedisi untuk melakukan penundaan pengangkutan terhadap salah satu kontainer tersebut.

“Benar kami melakukan withhold sebuah kontainer yang belum melengkapi dokumen. Kontainer tersebut sejak Sabtu (08/01/2022) masih berada di lokasi penampungan milik perusahaan pelayaran Temas Line,” ungkap Akpol lulusan tahun 2018 itu saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (11/01/2022).

Hasil pantauan media ini, di depo milik Perusahaan Pelayaran Temas Line di sekitar Fly Over Pantoloan, tampak sebuah peti kemas (kontainer) bernomor lambung TEGU 287158-“3 “/22 GI berwarna merah terlihat belum diangkut masuk pelabuhan.

Dalam peti kemas yang “ditahan ” pihak Kesatuan Pelaksana Pengamanan Pelabuhan (KP3) Pantoloan tersebut, diduga berisi ratusan karung berisi material bebatuan mengandung unsur tembaga (CU) dengan bobot sekitar 25 Ton dari Kabupaten Tolitoli.

Hingga berita ini tayang, belum diketahui siapa pemilik material bebatuan bahan tambang yang diduga mengandung unsur tembaga (CU) asal hutan lindung Desa Oyom, Kecamatan Lampasio, Kabupaten Tolitoli itu. Bahkan pemilik gudang tempat penampungan di Taipa, tepatnya Jalan Trans Sulawesi,  Kelurahan Taipa, Palu Utara, Kota Palu itu belum bisa ditemui. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.