Masyarakat Sulteng : Yang Datang Menarik Kartu Kak Cudy dengan Menjelekkan Program Adalah Penjahat

oleh -
Calon Gubernur Sulteng, Rusdy Mastura saat menunjukan Kartu Sulteng Sejahtera. FOTO : IST

PARIMO, SULTENGNEWS.COM – Pilkada Sulawesi Tengah memanas. Beberapa masyarakat di Parigi Moutong, Sulteng, menyampaikan bahwa ada tindakan kejahatan yang dilakukan oleh pihak-pihak tidak bertanggungjawab.

Najamuddin, salah satu warga di Kabupaten Parigi Moutong menyebutkan, bahwa kemarin siang di rumahnya ia didatangi beberapa oknum ibu-ibu yang mengaku menjalankan surat dari KPU dan Bawaslu yang menyebutkan bahwa mereka datang untuk menarik Kartu Sulteng Sejahtera (KSS).

Ibu-ibu tersebut, kata Najamuddin, menyebutkan bahwa Kartu Sulteng Sejahtera tersebut akan mereka tarik atas perintah dari Bawaslu dan KPU.

“Ibu-ibu tersebut mengaku membawa surat dari Bawaslu KPU dan mengatakan bahwa mereka berhak untuk menarik Kartu Sulteng Sejahtera,” kata Najamuddin sambil menyebutkan ciri ibu yang menarik Kartu Sulteng Sejahtera tersebut yaitu ibu berbaju putih dan berjilbab hijau.

Ibu tersebut, kata Najamuddin, menyebutkan bahwa Kartu Sulteng Sejahtera adalah kebohongan.

“Ibu itu bilang kalau Kartu Sulteng Sejahtera bentuk pembohongan,” kata Najamuddin.

Najamuddin lanjut bercerita, Ibu yang lain menambahkan bahwa tidak mungkin akan bisa terpenuhi 1 juta 1 KK untuk dibagikan kepada masyarakat, sehingga menurut ibu tersebut Kartu Sulteng Sejahtera merupakan pembohongan.

“ada ibu-ibu yang bilang, ‘Coba bapak pikir, satu juta satu KK, dari mana mereka punya uang’?,” tutur Najamuddin lagi.

Najamuddin menyatakan bahwa ia sangat kecewa dengan tindakan oknum ibu-ibu yang melakukan tindakan kejahatan dengan merazia rumah-rumah warga pendukung Rusdy-Ma’mun lalu merampas Kartu Sulteng Sejahtera yang dimiliki warga.

“itu tindakan kejahatan itu,” kata Najamuddin.

“Merazia rumah warga lalu merampas Kartu milik orang,” ucap Najamuddin.

Najamuddin juga menyesalkan adanya tuduhan bahwa Kartu Sulteng Sejahtera adalah kebohongan.

“Menuduh program oranglain sebagai kebohongan itu adalah kejahatan,” kata Najamuddin lagi.

Najamuddin bertekad ia akan melaporkan tindakan oknum tersebut kepada Bawaslu. Karena tindakan yang sudah merazia rumah warga pendukung Rusdy-Ma’mun dan menuduh Rusdy-Ma’mun melakukan kebohongan merupakan sebuah kejahatan kampanye yang bisa dipidana sebagai kampanye hitam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 280 ayat (1) huruf d UU Pemilu dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling banyak Rp 24 juta. RED

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *