Masjid Nusantara dan Jabal Khair Berbagi 200 Paket Sembako di Perkampungan Muallaf

oleh -
Komunitas Peduli Muallaf (PM) foto bersama anak - anak di perkampungan Muallaf Suku Lauje di pegunungan dusun Babong, Desa Lombok Barat, Kecamatan Tinombo, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. FOTO : IST

Sore itu sekira pukul 15.00 Wita, ketika rombongan dari Masjid Nusantara bersama komunitas Peduli Muallaf (PM) melakukan perjalanan menuju perkampungan Muallaf Suku Lauje yang berada di pegunungan, tepatnya di pedalaman dusun Babong, Desa Lombok Barat, Kecamatan Tinombo, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.

Oleh : Miftahul Afdal

Rombongan melakukan perjalanan misi kemanusiaan mengantar bantuan Masjid Nusantara yang disalurkan melalui Organisasi keagamaan yakni Peduli Muallaf (PM) yang berada dibawah naungan Yayasan Jabal Khair. Rombongan turun langsung untuk membagikan 200 paket nasi bungkus kepada Muallaf.

Perjalanan dilakukan oleh lima orang dari pengurus Peduli Muallaf dan seorang dari pengurus Masjid Nusantara yang ikut serta dalam perjalanan tersebut. 200 paket nasi bungkus tersebut, harus di antarkan dengan sepeda motor, karena keberadaan Muallaf di pegunungan yang hanya bisa dilalui dengan kendaraan motor.

Perjalanan menuju kampung Muallaf itu melewati tiga desa yaitu Desa Lombok, Desa Taipaobal dan Desa Lombok Barat di Dusun Babong, Desa Lombok Barat. Jalanan pegunungan yang curam serta pendakian yang tinggi, menjadi tantangan sendiri bagi keenam orang tersebut.

“Dalam penyaluran bantuan ke daerah pegunungan yang menjadi tantangan bagi kami adalah jalur pegunungan yang begitu ekstrim. Kami juga dibatasi dengan kendaraan operasional, terkadang kendaraan operasional dengan medan pegunungan tidak bertahan lama. Sementara kami memanfaatkan dari beberapa kendara tersebut,” kata Ketua Yayasan Jabal Khair, Muhammad Rajab, S.Ag yang ikut serta dalam perjalanan tersebut.

Saat ini, naungan Yayasan Jabal Khair yakni Peduli Muallaf menggunakan kendaraan pribadi dan dua kendaraan motor trail yang merupakan bantuan dari Yayasan Masjid Nusantara khususnya untuk daerah pegunungan yang diberikan langsung oleh Ustadz Basri Daly, LC.MA, salah satu relawan Yayasan Masjid Nusantara juga sebagai pemerhati masyarakat yang ada di pegunungan di wilayah Kabupaten Parigi Moutong. Dengan begitu, pendakwaan dan pembinaan Muallaf di pegunungan dapat terbantukan.

Kata Rajab, ada 400 paket nasi bungkus yang diberikan Yayasan Masjid Nusantara, 200 paket itu diantaranya telah tersalurkan di daerah pesisir dan 200 paket lagi di fokuskan pada satu titik di Dusun Babong, Desa Lombok Barat. Sebab, banyaknya Muallaf yang mudah di kumpulkan, sehingga cukup mudah untuk mendistribusikan bantuan.

“Kami menyusuri wilayah-wilayah tertentu kepada Muallaf maupun kaum duafa atau fakir miskin dalam menyalurkan 400 paket nasi bungkus, mulai dari Kecamatan Palasa yakni Desa Bobalo, Dongkalan, Palasa pesisir pantai dan Kecamatan Tinombo yaitu Desa Ambason, Bainaa, Dongkas, Tinombo, terakhir di Dusun Babong, Desa Lombok Barat,”ujarnya.

Sementara itu, dari relawan Yayasan Masjid Nusantara, Ustadz Basri Daly, LC.MA menerangkan, bantuan itu melalui Masjid Nusantara dimana Masjid Nusantara telah mendapatkan kepercayaan dari para muslimin dan muslimat yang tidak dapat lagi berpuasa, tapi mereka memiliki kemampuan untuk membayar atau menebus dengan fidyah sebagai ganti dari puasa tersebut. Dengan fidyah itulah diberikan kepada Masjid Nusantara dan selanjutnya di percayakan kepada Peduli Muallaf untuk menyalurkan ke daerah pedalaman.

Sesampainya keenam orang itu di Dusun Babong, Desa Lombok Barat, setelah melakukan perjalanan selama 2 jam, para anak-anak Muallaf menyambut kedatangan keenam orang itu dengan penuh suka cita, ada yang tersipu malu, ada pula yang riang gembira.

Seorang Muallaf, Arton (32) menyampaikan, sangat senang telah menerima bantuan nasi bungkus, karena memang mereka sangat membutuhkan, dikarenakan keadaan yang serba kekurangan.

“Li ite moharap uleng owu to sauw paila’e mombini sedekah kangkai ite, baik njoe nu ponginanong atau njoe pakaian muslim,” artinya “Kami berharap masih ada lagi orang-orang yang baik hati bisa memberikan sedekah kepada kami, baik itu dalam bentuk sembako maupun pakaian muslim,”harapnya.

Ubi Sebagai Peganti Beras

Alam selalu memberikan karunia berupa tumbuh-tumbuhan yang bisa dimakan oleh manusia. Tak terkecuali para Muallaf yang berada di pegunungan, tumbuhan seperti ubi menjadi makanan pengganti beras.

Meskipun beras masih menjadi makanan pokok bagi Muallaf di Dusun Babong, Desa Lombok Barat, akan tetapi, mereka masih sering kekurangan beras, karena perlu menunggu cukup lama kedatangan beras di perkampungan meraka.

Pasalnya, untuk mendapatkan beras harus turun ke Ibu Kota Kecamatan di Tinombo dengan perjalanan 15 kilometer. Itupun, jika punya penghasilan untuk membeli beras.

Sehingga, untuk menggantikan beras sebagai makanan pokok, Muallaf yang berada di pegunungan mengelola ubi menjadi makanan pokok. Bahkan, mereka juga masih melakukan barter antar sesama mereka yang ada di pegunungan.

Barter yang biasa mereka lakukan yaitu menukarkan ikan kering dengan jagung ataupun dengan talas putih.

“Li ite line biasanye’aa mo nukaran poinanang, onu rono kangkai binte atau onu vuga teule,” artinya “Kami disini biasanya saling bertukaran yang dimakan, seperti ikan kering dengan binte atau dengan talas putih,”sebut salah seorang anak Muallaf bernama Parni.

Anak berusiah 14 tahun itu mengatakan, mata pencaharian mereka pun masih tergantung dengan alam yaitu kakao dan cingke. Hampir setiap Muallaf yang berada di Dusun Babong, Desa Lombok Barat, memiliki kakao dan cingke.

“Eiye, bi sakolati kangkai cingke nebali pogituange ite line, labai owu sauw tantani,” artinya “Iyah, hanya kakao dan dengan cingke menjadi pencaharian kami disini, tidak ada lagi selain itu,”ujar Parni.

Pembinaan Muallaf di Dusun Babong, Desa Lombok Barat

Pembinaan Muallaf di Dusun Babong, Desa Lombok Barat terus di masifkan, demi memberikan pemahaman agama Islam kepada Muallaf tersebut.

Tentu saja, ada berbagai tantangan yang di dapatkan dalam proses pembinaan Muallaf, seperti yang di ungkapkan Ketua Yayasan Jabal Khair naungan dari Peduli Muallaf, Muhammad Rajab, S.Ag, yakni menghadapi masyarakat yang dari culture dan kondisi mereka yang tidak memiliki pengetahuan seperti masyarakat di dataran.

“Memang tantangan luar biasa harus merubah pola pikir mereka dan pemahaman mereka yang rata-rata masih meyakini kepercayaan animisme. Kami juga melakukan perubahan itu dengan tahapan-tahapan, tidak serta merta di tekan untuk mengikuti ketentuan dalam ajaran Islam,”ungkapnya.

Ia juga menuturkan, di beberapa tempat sudah merubah perilaku mereka, dimana, mereka sudah mengikuti ajaran Islam dan meninggalkan kebiasaan yang bertentangan dengan Islam itu sendiri.

Sampai sekarang, data terkahir Muallaf dalam binaan Yayasan Jabal Khair yang mencakup Kecamatan Palasa dan Kecamatan Tinombo mencapai 600 jiwa. Sementara khusus di Dusun Babong, Desa Lombok Barat, data awal yang masuk Islam sebanyak 15 KK, kemudian menyusul lagi 17 KK, dan belum lama ini, ada ketambahan 2 KK, jadi keseluruhan 34 KK.

“Di Dusun Babong, Desa Lombok Barat ini, ada juga perorangan yang masuk Islam, sekalipun dalam satu rumah tangga itu mereka berbeda keyakinan. Jadi data pertama itu ada 164 jiwa, ditambah lagi 7 jiwa, sehingga menjadi 171 jiwa, mungkin akan terus bertambah, tapi semua atas hidayah dari Allah, karena sebagian mungkin masih mencari tau Islam itu seperti apa,”tuturnya.

Selanjutnya, dalam proses pembinaan Muallaf di Dusun Babong, Desa Lombok Barat, sudah di bangunkan masjid. Masjid itu merupakan bantuan dari seorang donatur yang berasal dari Malaysia bernama Zainul Rahman.

“Masjid ini bukan hanya di pakai untuk sholat 5 waktu, tapi juga sudah di pakai untuk sholat Jum’at,”ucapnya.

Pembangunan masjid telah dikerjakan selama 3 bulan berjalan, sejak bulan April pembangunan masjid dimulai, dengan melihat kondisi bangunan sekarang sudah rampung sekitar 75 persen.

Menurut Rajab, memang pembangunan masjid sudah menjadi program Yayasan Jabal Khair disetiap perkampungan di daerah pedalaman khususnya tempat para Muallaf. Namun, semua itu tergantung dari donatur yang ingin membantu pembangunan masjid.

“Rencananya ada beberapa titik-titik lagi pembangunan masjid yang akan di bangun,”terangnya.

Untuk daerah pegunungan, kata Rajab sudah terdapat tiga masjid, yang pertama di Desa Bambasiang, Kecamatan Palasa, kedua di Desa Patingke dan di Desa Lombok Barat, Kecamatan Tinombo, yang sementara di bangun. Semuanya dari donatur yang berbeda-beda.

“Melihat kondisi masyarakat yang cukup jauh dari tempat ibadah umat muslim, sehingga mendorong kami untuk dapat membangun masjid. Alhamdulillah, kami dari tim Peduli Muallaf mengunjungi beberapa tempat, dimana yang banyak Muallafnya kami prioritaskan untuk membangun masjid,”tutupnya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *