Mantan Aktivis Lingkungan Tawarkan Home Industri Batok Kelapa

oleh -
Mantan aktivis lingkungan hidup, Alkiyat saat memperlihatkan profesi yang mulai digelutinya yakni batok kelapa. FOTO : IST

PARIMO, SULTENGNEWS.COM – Di tengah situasi covid-19 seperti sekarang ini, masyarakat dituntut agar bisa kreatif dan inovatif dalam membangun usaha sebagai sumber penghasilan.

Mantan aktivis lingkungan hidup, Alkiyat beralih profesi menjadi pengolah arang batok kelapa. Semenjak dirinya meninggalkan dunia parlemen jalanan beberapa waktu yang lalu.

Dia memilih buang jangkar di desa yang sebenarnya bukan kelahirannya. Akan tetapi desa kelahiran istrinya.

Dua tahun dia bersosialisasi dengan masyarakat di desa yang mulai dicintainya itu. Dari interaksi bersama masyarakat menjadikan dia sedikit paham tentang permasalahan pembangunan di Desa Palasa Lambori, Kecamatan Palasa, Kabupaten Parigi Moutong.

Sebagai Jebolan Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako (Untad), tentu dengan berbekal ilmu pertanian itu, Alkiyat mempunyai cara pandang tersendiri dalam menjawab tantangan pembangunan desa.

Jika merujuk pada Kampanye Nasional tentang (membangun Indonesia dari Desa), maka hal ini sejalan dengan pandangan Alkiyat. Menurutnya, urat nadi pembangunan nasional berada pada desa. Mengapa demikian ? Karena desa adalah pemasok utama kebutuhan nasional. Hampir dari semua sektor. Terutama hasil bumi atau pertanian.

Namun, kata dia, yang menjadi tantangan bangsa hari ini, adalah desa tidak berdaulat secara pangan. Olehnya itu, bagi Alkiyat, solusi untuk merebut kedaulatan pangan desa adalah penguasan di sektor Agribisnis.

Alkiyat menerangkan, Agribisnis sebagai keilmuan, adalah ilmu yg mencover alur perjalanan pertanian dari hulu sampai hilir. Dengan kata lain dari bibit pertanian sampai strategi pemasaran. Agribisnis  adalah ilmu memberi nilai tambah pada satu komoditas hasil pertanian, menjadi satu produk pertanian yg siap dipasarkan bahkan siap bersaing dipasaran baik regional, bahkan internasional.

“Mengapa sampai hari ini saya masih meyakini bahwa Agribisnis adalah solusi kedaulatan desa, pertama, sampai hari ini desa masih menjadi pemasok  kebutuhan ibu kota dari sektor bahan baku pertanian. Itu artinya, sampai hari ini peluang dan tingkat kesuburan tanah di desa masih menjadi tulang punggung di mata ibukota,”ujar Alkiyat kepada sultengnews, Minggu (11/04/2021).

Sudah seharusnya, kata Alkiyat, pemerintah desa, kecamatan dan kabupaten lebih terfokus dalam melirik Agribisnis sebagai peluang dalam merebut kedaulatan pangan apalagi berbicara  peningkatan pendapatan perkapita.

“Saya, hari ini, bertekad untuk ikut andil dalam hal ini jika dibutuhkan. Kapan saja,”terangnya.

Alkiyat menjelaskan, bahwa batok kelapa lebih mengarah pada home industri atau industri rumahan yang bersumber dari pertanian yang dapat dikelola dan di produksikan secara nasional.

“Lebih spesifik, mengarah ke home industri atau industri rumahan. Karena banyak sumber pertanian yg hanya dijual dalam bentuk bahan baku bukan bahan setengah jadi, sehingga batok kelapa ini menjanjikan dan dapat di jual di seluruh Indonesia,”jelasnya.

Dengan begitu, Alkiyat meyakini, dapat mengurangi angka pengangguran di tingkat desa bahkan menyeluruh hingga kecamatan dan kabupaten, dan memberi peluang pada ibu-ibu di desa untuk meningkatkan pendapatan hariannya.

“Pemasarannya pun bisa bertahap mulai tingkat desa, kecamatan, dan kabupaten, tidak menutup kemungkinan bahwa bisa sampai pada tingkatan nasional dengan melihat kebutuhan masyarakat yang bersumber dari batok kelapa,”tandasnya. DAL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *