Mainstreaming Gender, Protection Hingga Pembentukan Forum Kelompok Rentan Desa

oleh -
Kegiatan lokalatih kelompok rentan di Gedung Serbaguna Kantor Desa Sibalaya Utara sebelum Covid 19 masuk Indonesia. Kegiatan itu dilaksanakan pada tanggal 5 Februari 2020. FOTO : DOK. JMK OXFAM

Jejaring Mitra Kemanusiaan (JMK) Oxfam, merupakan salah satu lembaga yang sangat aktif melakukan misi kemanusiaan dalam merespon bencana gempa bumi berkekuatan 7,4 SR (Skala Richter) yang menimbulkan bencana turunan tsunami dan likuifaksi di Wilayah Palu, Sigi dan Donggala (Pasigala) pada 28 September 2018 lalu.

 Oleh : Mahful Haruna

Seperti telah diketahui bersama, bencana di Pasigala pada 28 September 2018 itu, tidak hanya mengakibatkan rusaknya berbagai infrastruktur seperti Jalan, Irigasi, Sumber Air, Sanitasi, Rumah – Rumah Ibadah serta berbagai infrastruktur lainnya. Namun juga mengakibatkan ribuan orang menjadi pengangguran karena kehilangan pekerjaan, ratusan hektar sawah dan kebun tak bisa lagi ditanami karena kehilangan sumber air, serta ratusan nalayan tak bisa lagi melaut karena kehilangan perahu dan alat tangkap ikan.

Sesaat setelah terjadinya gempa itu tepatnya pada Oktober 2018, JMK Oxfam sudah mengambil peran dengan mengaktifkan Deployment Standby Agreement di Sulawesi Tengah untuk mengoptimalkan proses respon bencana di Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Kabupaten Donggala. Intervensi yang dilakukan JMK Oxfam saat itu yakni meliputi beberapa sektor kebutuhan masyarakat terdampak seperti sektor Air dan Sanitasi (WASH) dengan membangun jaringan air bersih, toilet dan kamar mandi, serta sanitasi di beberapa desa terdampak melalui sektor PHE (Infra Struktur). Selanjutnya di sektor PHP (Promosi Kesehatan), terus dikampanyekan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta edukasi ke masyarakat agar terus menjaga lingkungan sehat dan senantiasa menerapkan PHBS.

Disektor Gender dan Protection, masyarakat diberikan program padat karya serta perlindungan agar bisa bangkit dan segera melupakan bencana yang membuat mereka kehilangan segalanya. Perlindungan terhadap perempuan, anak dan kelompok rentan seperti lansia dan disabilitas, juga tak luput dari perhatian JMK Oxfam melalui sektor Gender. Melalui sektor Gender ini, masyarakat terus diedukasi agar menyayangi perempuan dan tidak melakukan kekerasan terhadap perempuan dan anak saat masih berada di shelter – shelter pengungsian.

Setelah masa tanggap darurat selesai, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah menetapkan masa rehab rekon untuk membangun infrastruktur yang rusak dan melakukan pemilihan ekonomi masyarakat agar segera bangkit dari keterpurukan pasca bencana. Di masa rehab rekon ini, JMK Oxfam juga hadir dengan meluncurkan program dengan nama Recovery Response Central Sulawesi yang meliputi beberapa sektor yang sudah diintervensi sebelumya, serta beberapa sektor baru diantaranya PRB (Pengurangan Resiko Bencana), Lifelihood (Mata Pencarian) dan sektor CO & Advokasi yang akan melakukan intervensi dalam bentuk program di 33 desa/kelurahan dampingan Pasigala untuk membentuk ketangguhan masyarakat.

Merekrut Para Comunity Organizer (CO), Lokalatih dan Work Shop

Program Recovery Response Central Sulawesi JMK Oxfam, dimulai dengan melakukan rekrutmen para Comunity Organizer (CO) di 33 desa/kelurahan dampingan melalui sektor CO dan Advokasi. Para CO yang direkrut diharapkan bisa berperan sebagai fasilitator di desanya seta melakukan berkoordinasi dengan pemerintah desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh perempuan, tokoh pemuda dan semua stakeholder desa berkaitan dengan program JMK Oxfam di desanya masing – masing.

Dalam proses perekrutan CO ini, JMK Oxfam meminta rekomendasi dari Kepala Desa bersama aparat desa lainnya untuk mengirimkan minimal dua nama yang bisa menjadi CO di desanya. Setelah itu, JMK Oxfam memilih salah satu nama yang dianggap bisa menjadi CO berdasarkan rekomendasi prioritas dari Kepala Desa. Sebelumnya juga sudah dikomunikasikan ke kades siapa yang paling bisa menjadi CO dari dua nama yang direkomendasikan.

Setelah terpilih 33 CO berdasarkan jumlah desa dampingan, para CO lalu dilatih dan diberikan pemahaman tentang cara dan metode mengorganisir masyarakat agar bisa terlibat aktif dalam program maupun kegiatan di desanya, serta pemahaman tentang mainstreaming gender, inklusi disabilitas dan konsep laki – laki baru, agar bisa menerapkannya di desa masing – masing.

Saat ini, para CO telah aktif melakukan kerja – kerja fasilitasi di desanya masing – masing, serta mendampingi tim JMK Oxfam yang melakukan kegiatan/program di semua desa dampingan.

Sektor CO dan Advokasi bersama sektor Inklusi Disabilitas juga telah selesai melakukan kegiatan lokalatih dan workshop yang diikuti kelompok rentan di semua desa dampingan seperti lansia, disabilitas, ibu hami, ibu menyusui dan perempuan kepala keluarga. Dalam kegiatan lokalatih ini, para peserta diberikan pemahama tentang gender, inklusi disabilitas dan konsep laki – laki baru yakni laki – laki yang aktif berjuangan untuk kesetaraan gender dan menyayangi kaum perempuan. Setelah kegiatan lokalatih, para kelompok rentan desa lalu dibuatkan wadah dalam bentuk forum kelompok rentan desa.

Forum ini merupakan wadah bagi para kelompok rentan (lansia, disabilitas, ibu hamil, ibu menyusui dan perempuan kepala keluarga) untuk menyuarakan hak – hak dan kepentingan mereka kepada Pemerintah Desa, agar bisa diakomodir dalam anggaran desa serta melibatkan kelompok rentan dalam setiap musyawarah dan pengambilan kebijakan di desa.

Setelah itu, dilanjutkan dengan work shop oleh sektor Inklusi Disabiltas yang dihadiri forum kelompok rentan desa, pihak kecamatan, UPTD Dukcapil tingkat kecamatan, serta pemerintah desa. Setelah works shop, dilanjutkan dengan pembentukan forum kelompok rentan tingkat kecamatan.

Melakukan FGD, Pembangunan MPC dan Rehab Fasilitas Kesehatan

Sebelum pembentukan kelompok rentan oleh sektor CO dan Advokasi, sektor Gender bersama sektor Inklusi Disabilitas melakukan Focus Group Discussion (FGD) untuk menggali dan melakukan pemetaan masalah yang dihadapi dan dialami para kelompok rentan desa.

Dari FGD itu, ditemukan beberapa masalah seperti kurangnya perhatian pemerintah desa kepada kelompok rentan, sehingga keberadaan kelompok rentan seperti tak dianggap sama sekali. Beberapa masalah dan kebutuhan kelompok rentan yang menoritas ini, tak pernah tersuarakan ke desa hingga kebijakan Pemerintah Desa seperti tak pernah menyetuh kebutuhan para kelompok rentan. Kembali kami pertegas bahwa kelompok rentan itu antara lain lansia, disabilitas, ibu hamil, ibu menyusui dan perempuan kepala keluarga (janda).

Kelompok rentan ini, senantiasa termarginalkan alias tak terlalu didengar dan diperhatikan, sehingga suara – suara mereka jarang sekali atau bahkan tidak sama sekali didengar oleh pemerintah desa. Bahkan tidak jarang, kelompok rentan ini diangap sebagai warga kelas kedua di desanya, sehingga tidak pernah diundang dalam setiap rembuk atau musyawarah desa untuk pengambilan keputusan pembangunan di desa. Semua itu masalah itu, terungkap saat FGD yang dilakukan sektor gender bersama sektor inklusi disabilitas di 33 desa/kelurahan dampingan di wilayah Pasigala.

Sektor Gender dan Inklusi Disablitas, saat ini juga tengah fokus merampungan proposal pembangunan MPC atau gedung serbaguna di 13 desa dampingan dan rahab fasilitis kesehatan (Faskes) di 20 desa dampingan. Pembangunan MPC dan rehab faskes ini, semunya aksesibility atau ramah terhadap disablitas dan lansia, sehingga disabilitas dan lansia juga bisa menggunakan fasilitas yang dibangun itu. Jika semua proses administrasi dan dokumen kelengkapanya sudah rampung semua, maka proses pembangunan MPC dan rehab faskes ini, akan segera dilakukan.

Diharapkan, gedung MPC dan rehab faskes ini, bermanfaat bagi semua masyarakat di 33 desa/kelurahan dampingan JMK Oxfam.

Pemasangan Solar Lamp atau Lampu Tenaga Surya

Melalui sektor protection, JMK Oxfam juga memasang Solar Lamp atau lampu tenaga surya di 33 desa/kelurahan dampingan dengan jumlah 85 unit. Hal ini bertujuan agar bisa memberikan penerangan di 33 desa/kelurahan dampingan, sehingga kriminalitas di desa bisa tercegah karena sudah ada penerangan di desa khususnya tempat – temapat yang berpotensi terjadinya kejahatan.

Saat ini, pemasangan solar lamp sudah mencapai 60 persen lebih. Ditargenkan pada bulan Juni ini, semua solar lamp sudah terpasangan dan dapat dimanfaatkan masyarakat di semua desa dampingan.

Pemasangan Rambu PHBS dan Rambu Evakuasi Bencana

 JMK Oxfam juga terus mengedukasi masyarakat agar senantiasa menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), sehingga tercipta lingkungan yang bersih dan masyarakatnya sehat. Olehnya, melalui sektor PRB dan PHP, dilakukan kampanye PHBS dengan memasang rambu PHBS di 33 des/kelurahana dampingan dengan jumlah 18 rambu per desa. Total rambu PHBS yang terpasang sebanyak 594 titik.

Untuk rambu evakuasi, saat ini sektor PRB masih melakukan ploting di 33 desa/kelurahan damingan. Jika semua plotingnya, rampung pemasangan rambu evakuasi akan segera dilakukan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *