Mahasiswa Untad : Cuti Bukan Solusi Bagi 7.346 Mahasiswa

oleh -
Salah satu mahasiswa Untad Palu, Nur Ela saat ditemui sultengnews di Untad Palu. FOTO : MIFTAHUL AFDAL

PALU, SULTENGNEWS.COM – Sebanyak 7.346 mahasiswa di Universitas Tadulako (Untad) Palu terancam dicutikan, karena tak kunjung membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) pada tahun akademik 2020-2021 dengan batas akhir pembayaran 5 Februari 2021.

Apabila 7.346 mahasiswa tersebut, dicutikan, maka secara otomatis 7.346 mahasiswa tidak dapat mengikuti perkuliahan di semester genap ini.

Salah satu mahasiswa Untad Palu, Nur Ela menanggapi pernyataan sekaitan ancaman pencutian sejumlah mahasiswa itu, Nur Ela menegaskan, bahwa cuti bukanlah solusi bagi 7.346 mahasiswa.

“Dalam peraturan Kemendikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) tidak ada aturan mahasiswa dicutikan. Karena dalam aturan itu hanya ada lima mekanisme untuk meringankan biaya UKT, pertama pencicilan, penurunan, penundaan, pemberian beasiswa, pemberian bantuan infrastruktur,”ujar Nur Ela saat ditemui sultengnews, di Untad Palu, Senin (15/02/2021).

Mantan Ketua Eksternal Himpunan Mahasiswa Sosiologi (Himasos) itu merasa aneh, ketika pihak kampus mengeluarkan pernyataan terhadap mahasiswa yang belum membayar UKT akan dicutikan.

“Anehnya, ada pernyataan dari pihak kampus akan mencutikan sejumlah mahasiswa. Padahal, dalam aturan Kemendikbud tidak ada pencutian yang ada hanyalah pencicilan,”ucapnya.

Ela mengatakan, pencicilan seharusnya dapat menjadi solusi yang kemudian perlu diterapkan kepada mahasiswa yang belum membayar UKT, karena kata dia, penurunan UKT telah diberlakukan, pemberian bantuan infrastruktur sudah ada, dan pemberian beasiswa juga telah diberikan melalui KIP, Namun, Ela mempertanyakan, mengapa tidak diberlakukan pencicilan, tanpa harus memutus pendidikan mahasiswa aktif.

“Kekecewaan kami, mencuatnya pernyataan itu karena dengan alasan mahasiswa melakukan penundaan dalam pembayaran UKT,”kata Ela.

Ela juga menyebutkan, pihak Untad Palu sendiri tidak melakukan evaluasi pendapatan ekonomi mahasiswa di masa pandemi covid-19.

Menurutnya, Untad Palu juga mengesampingkan latar belakang mahasiswa yang berasal dari petani, nelayan, kampus, kata dia, tidak melihat sampai disitu.

“Bagaimana kalau 7.346 itu di cutikan, maka itu akan memutus pendidikan mahasiswa itu sendiri,”tegasnya.

Selain itu, Ela mengungkapkan, setiap tahunnya, prodi menerima mahasiswa melebihi kuota, sementara pelayanan tidak pernah diperbarui, sehingga dengan kelebihan kuota dan pelayanan yang terbatas, bagi Ela tidak akan seimbang, tapi yang ada, sebut Ela, mahasiswa yang disalahkan, dianggap menunda, kemudian dianggap tidak mengetahui mekanisme pembayaran.

Senada dengan itu, Mantan Ketua Majelis Mahasiswa (MM) Untad Palu, Firly mengatakan, pihak kampus kiranya bisa melakukan evaluasi, apalagi ini merupakan kali kedua Untad Palu melakukan pembayaran di masa pandemi covid-19.

“Seharusnya, dari pembayaran sebelumnya bisa menghasilkan evaluasi, misalnya, soal pelayanan mahasiswa yang mendapatkan kebijakan UKT, sehingga pihak Universitas tidak terkesan kaku dalam menanggapi dan mengeluarkan kebijakan,”ucapnya.

Firly juga menuturkan, terkait solusi kepada 7.346 mahasiswa yang terancam dicutikan agar dibukakan kembali pembayaran UKT khususnya bagi mahasiswa yang belum melakukan pembayaran.

Kemudian, Firly menyatakan, kampus harus memberlakukan sistem pengangsuran kepada mahasiswa. Sehingga, mahasiswa bisa mengakses dan melakukan pengisian KRS. Dengan begitu, mahasiswa tidak akan terancam dicutikan dan tidak membayar dua kali atau double.

Menurut Firly, pimpinan Untad Palu seharusnya bisa lebih bijak dalam memberikan solusi kepada mahasiswa, apalagi sekarang masih dalam masa pandemi covid-19, bagi dia, perlunya kerjasama untuk bisa menyelesaikan masalah seperti ini, baik mahasiswa maupun birokrasi Untad Palu.

“Selanjutnya, dikatakan jika ingin melanjutkan perkuliahan mahasiswa dipersilahkan untuk menghadap ke pihak Universitas, jika 7.346 mahasiswa datang ke Rektorat untuk menghadap, karena sekarang masih di blok, jelas rektorat tidak bisa menampung, pasti akan kelabakan, belum lagi ini dalam masa pandemi,”terangnya.

“Harapan kami bagi mahasiswa 7 bisa berkuliah kembali sebagaimana seharusnya,”pungkasnya.

Sampai berita ini terbit, sultengnews telah melakukan upaya konfirmasi kepada pihak Untad Palu. Namun, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan (Warek Bima) Untad Palu, Dr.Ir.Sagaf,MP belum berkenan untuk memberikan tanggapan terkait 7.346 mahasiswa Untad terancam dicutikan. DAL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *