Lembaga Kearifan Lokal Jadi Garda Terdepan Jaga Nilai – Nilai Budaya Bangsa

oleh -

Walikota Palu, Drs. Hidayat saat menyampaikan beberapa ide dan gagasannya dalam acara FGD, Selasa (3/3/2020). FOTO : IST

PALU, SULTENGNEWS.COM – Lembaga kearifan lokal bersama lembaga agama di Kota Palu, bekerjasama untuk menghidupkan kembali rasa toleransi, kekeluargaan dan gotongroyongan.

Hal ini tersampaikan dalam kegiatan Forum Group Discussion (FGD) bertajuk implementasi kebijakan nilai – nilai kearifan lokal dalam memperkokoh budaya bangsa. Acara dilaksanakan di ruang rapat bantaya pàda, Selasa (3/3/2020).




Hadir pula dalam kegiatan ini Kaban Kesbangpol Kota Palu dan para tim pendamping Walikota Palu, perwakilan lembaga adat k5, mombine galigasa, camat dan lurah dan tokoh masyarakat lainnya.

Walikota Palu, Drs Hidayat M.Si menyebutkan bahwa lembaga kearifan lokal lah yang akan menjadi garda terdepan untuk menjaga nilai – nilai budaya bangsa.

Adat itu adalah aturan, aturan yg mengatur tata kehidupan manusia. Dalam ajaran suku kaili, ada empat aturan adat. Tiga diantaranya yang mengatur hubungan manusia dengan manusia yaitu, aturan yang mengatur ucapan, perilaku, tindak perbuatan manusia. Satu aturan lagi adalah yg mengatur hubungan manusia dengan alam yaitu agar manusia dapat menjaga alam sekitar.




Pemkota bersama dengan masyarakat Palu, membentuk Satgas K5 yang dapat mensuport nilai – nilai kearifan lokal kota Palu. Satgas K5 ini dipimpin langsung oleh Lurah dan beranggotakan Ketua Adat, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, dan Tokoh Pemuda yang dikawal langsung oleh TNI dan POLRI.

Diharapkan nantinya para masyarakat Kota Palu akan lebih bisa merasakan bahwa betapa pentingnya adat istiadat dalam kehidupan sosial.

Lebih jauh walikota menyebutkan bahwa kearifan lokal merupakan warisan leluhur turun temurun mengandung nilai – nilai positif dan

Nilai – nilai spritual untuk dijadikan pedoman dalam bersikap dan bertingkahlaku (pattern of action), masyarakat Kaili yang merupakan salah satu suku yang mendiami wilayah di Sulawesi Tengah juga memiliki seperangkat pengetahuan lokal yang merupakan pola dari budaya Kaili yang mereka wujudkan dalam kehidupan sehari-hari.




Keselarasan hidup yang terjabarkan dari kearifan lokal masyarakat Kaili, apabila
dijaga dan terus dipelihara keberlangsungannya, maka akan senantiasa memberikan keseimbangan ikatan antara manusia dan alam. Demikian juga dengan tabu, pantangan atau

“Sanksi – sanksi terhadap berbagai pelanggaran dari kearifan lokal yang masih terjaga, semuanya berorientasi kepada penjagaan kelestarian, keselarasan hubungan antara
manusia dan alam tempatnya bermukim. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *