Korban Likuifaksi di Palu Berharap Semuanya Dapat Huntap

oleh -

Suasana di tenda pengungsian warga Balaroa Korban likuifaksi pada 28 September 2018 lalu yang hingga kini belum semuanya mendapatkan hunian sementara (Huntara). FOTO : JABIR MOH. YAMIN/SN

PALU, SULTENGNEWS. com – Korban likuifaksi di Kelurahan Petobo dan Balaroa berharap, semua mereka bisa mendapatkan Hunian Tetap (Hutap) dari pemerintah tanpa dibeda – bedakan.

“Siapa saja walikotanya nanti pak, intinya dia perhatikan kami, jangan pilih kasih dalam memberi bantuan. Bukan hanya hunian sementara, tapi juga hunian tetap harus segera di bangun supaya kami bisa lebih tenang,” ujar Tei (67), warga Kelurahan Balaroa saat dimintai tanggapan tentang figur Walikota Palu tahun 2020 mendatang, Rabu (3/7/2019).



Dikatakan, khusus warga Balaroa banyak yang masih tinggal di tenda – tenda pengungsian, karena Hunian Sementara (Huntara) belum selesai dikerjakan oleh pemerintah.

“Kami disini belum ada huntra pak, masih tinggal terus ditenda. Berbeda dengan kelurahan lain yang sudah ada huntaranya,” keluhnya.

Selain huntara, warga juga masih berharap mendapatkan bantuan sembako dari pemerintah, karena rata – rata korban likuifaksi balaroa belum memiliki lapangan pekerjaan yang jelas untuk menutupi keperluan sehari-hari.

Kelurahan yang sama juga disampaikan korban likuifaksi Petobo. Warga yang saat ini sudah tinggal huntara, sangat berharap kiranya pemerintah dapat memastikan Huntap bagi mereka.

“Kami disini pak belum bisa buat kegiatan yang lain. Kami mau berjualan, karena takutnya nanti disuruh pindah, karena kami disini dibilang cuma sampe dua tahun saja,” ujar Nertin (45) warga Kelurahan Petobo, Palu Selatan, Rabu (3/7/2019).

Menurut Nertin, tanah yang mereka tinggali untuk pembuatan huntara saat ini adalah tanah warga petobo yang setiap saat bisa saja akan digunakan oleh pemiliknya, sehingga masyarakat menggantungkan semua harapnya kepada walikota palu kedepan, jika walikota saat ini belum bisa menyelesaikan masalah huntap.

“Saya ini pak cuma baju dibadan waktu menyelamatkan diri, tidak ada yang bisa diselamatkan. Yang penting nyawa selamat, makanya kalau bukan pemerintah siapa lagi yang mau bantu kita,” cerita ibu paruh baya itu. JMY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *