Komunitas Historia Sulteng : Cocoknya Tugu Palasa Berbentuk Iange Papalasa

oleh -
Tugu simpang tiga atau Tugu Palasa di Kecamatan Palasa, Kabupaten Parimo. FOTO : MIFTAHUL AFDAL

PARIMO, SULTENGNEWS.COM – Terbentuknya suatu daerah selalu memiliki pengalaman sejarah yang berkepanjangan, sehingga rentetan sejarah itu menjadi cikal bakal penamaan daerah tersebut.

Beberapa fenomena yang dituliskan dalam catatan sejarah atau nama tokoh yang memiliki pengaruh dalam perjuangan sejarah di daerah itu, seringkali dijadikan nama dari sebuah bangunan atau nama jalan.

Tugu simpang tiga atau Tugu Palasa yang berlokasi diantara Desa Palasa Tengah dan Palasa Tangki di Kecamatan Palasa, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) sempat menjadi perdebatan.

Pasalnya, salah satu anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Parimo dari fraksi Hanura, Yandra berkeinginan untuk membenahi Tugu Palasa menjadi tugu bawang dengan alasan bahwa tugu bawang menjadi ciri khas dari petani Palasa. Bahkan, dia beranggapan dengan adanya tugu bawang bisa menarik minat para pembeli.

Akan tetapi, keinginan itu sempat menjadi perbincangan oleh kalangan muda yang lebih bersepakat agar Tugu Palasa digantikan dengan Tugu Ikan Papalasa yang merupakan cikal bakal penamaan Kecamatan Palasa, pernyataan ini juga di dukung oleh salah satu Budayawan Kecamatan Palasa, Ismail Palabi dalam sebuah catatan sejarah yang ditulisnya pada Tahun 1996 sampai 1997.

Ikan Papalasa adalah sejenis Ikan Layar yang terdampar di tepi pantai Desa Papontian kini Desa Palasa tepatnya di Teluk Imboung saat ini poros jalan tani. Ikan Papalasa berukuran panjang sekira 15 meter, lebar 5 meter, dan tinggi tubuhnya 3 meter. Kondisi ikan besar pada saat itu dalam keadaan lemah terbujur diatas bebatuan karang besar,  penyebutan ikan besar itu dalam bahasa Lauje yaitu Iange Papalasa.

Kordinator Komunitas Historia Sulteng, Mohammad Herianto menganggap, sangat penting untuk memberi edukasi  tentang sejarah kewilayahan termasuk toponimi suatu daerah pada masyarakat setempat, terkait  silang pendapat  tentang pembangunan tugu di Kecamatan Palasa, Kabupaten Parimo yang nantinya akan menjadi  ikon daerah tersebut.

“Kami dari Komunitas Historia Sulteng berharap tugu tersebut memiliki nilai-nilai historis serta kearifan lokal,”ujar Herianto kepada sultengnews, Sabtu (07/08/2021).

Menurut Herianto, toponimi Kecamatan Palasa sangat tepat jika dibuat dengan ikon tugu berbentuk Iange Papalasa. Baginya, Iange Papalasa memiliki nilai sejarah dan dapat memperlihatkan kearifan lokal dari Suku Lauje.

“Tentunya jika melihat toponimi Kecamatan Palasa, Tugu berbentuk Iange Papalasa atau Ikan Layar sangat cocok  menjadi modelnya, kaya akan nilai hostoris serta secara otomatis memperkenalkan Suku Bangsa Lauje, sebagai suku asli yang mendiami wilayah tersebut,”terangnya.

Sebab, jika Tugu Palasa akan digantikan dengan ikon bawang, kata Herianto, tidak menampilkan ciri khas dari Kecamatan Palasa karena penghasil bawang bukan hanya di Kecamatan Palasa, menurutnya, masih banyak daerah lain yang juga menjadi bertani bawang.

“Pertanyaannya, sebesar apakah hasil bumi itu (jika itu bawang) dapat mencirikan  daerah Palasa, sedang di pelosok Indonesia yang lain semisal Brebes dan Kota Palu sendiri juga dikenal dengan bawangnya,”ucapnya.

“Hemat saya sudah saatnya Suku Lauje dengan bahasanya diangkat menjadi ikon daerahnya sendiri yaitu Iange Papalasa,”tandasnya.DAL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.