Kisah Pilu Gadis Parigi, Kronologis Pertemuan Awal Dengan Kapolsek (Bagian 1)

oleh -
FOTO : ILUTRASI

PALU, SULTENGNEWS.COM – Beberapa hari terakhir ini, berita tentang perbuatan mesum Kapolsek di Parigi inisial IDGN seketika viral dan menjadi isu nasional. Tak tanggung – tanggung, Anggota DPRD RI dan Kapolri bahkan sampai menanggapi langsung kasus mesum kapolsek ini.

Lalu bagaimana kronologis awal gadis malang ini bertemu dengan kapolsek, hingga akhirnya keperawanannya terenggut.

Dikutip sultengnews.com dari berbagai sumber, awalnya sang gadis mendatangi polsek untuk menjenguk ayahnya dan mengantarkan makanan untuk sang ayah. Melihat kondisi ayahnya yang sangat memprihatinkan, gadis berinisial S ini lalu meminta bantuan kepada kapolsek agar ayahnya yang ditahan karena terlibat kasus kriminal pencurian ternak dibebaskan dari tahanan.

Mendengar permintaan sang gadis, kapolsek berjanji siap membantu membebaskan ayah sang gadis, asalkan dia mau tidur dengan kapolsek itu.

Syarat yang diajukan kapolsek ini, belum langsung ditanggapi sang gadis. Namun kapolsek terus merayu sang gadis dengan mengirimkan chat via WhatsApp hingga tiga minggu. Tak tega melihat kondisi ayahnya, sang gadis bersedia menemui kapolsek yang memberikan syarat kebebasan ayahnya dengan merelakan keperawanannya direnggut sang kapolsek.

Tak ada yang menyangka, rupanya niat baiknya membebaskan sang ayah dengan menemui kapolsek untuk meminta tolong dan bantuan, rupanya menjadi penyebab hilangnya kesuciannya beberapa hari usai pertemuan dengan kapolsek itu.

Viralnya berita tentang kapolsek mesum di parigi ini, membuat berbagai kalangan prihatin atas nasib yang dialami gadis inisial S ini. Namun ada juga suara sumbang yang menyebut bahwa perbuatan itu bisa saja dilandasi atas dasar suka – sama suka, karena sang gadis mau diajak ke hotel.

Apapun perkataan orang atas nasib gadis malang asal parigi ini, perbuatan kapolsek sangat tidak bisa ditolerir. Alasanya sederhana, jika pun gadis itu juga suka kepada kapolsek, bukan berarti kapolsek langsung merenggut kesucian gadis itu. Apalagi sang kapolsek adalah penegak hukum yang juga sudah memiliki anak dan istri.

Seharusnya sang kapolsek memberikan pemahaman kepada gadis malang itu, bahwa perbuatan kriminal yang dilakukan ayahnya masih akan diselidiki dulu lebih lanjut kebenarannya. Jika ayah sang gadis itu cukup bukti atas tindakan kriminal yang dilakukannya, maka hukumannya sesuai dengan jenis perbuatannya.

Bukan malah memberikan syarat, yang sangat – sangat tidak manusiawi dan malah merenggut kesucian gadis itu. (Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.